Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Menonton Pertunjukan Sendelan Madura Sanggar Na’-kana’ Bangkalan, Mengembalikan Kejayaan Budaya dengan Sindiran

Ina Herdiyana • Rabu, 24 Juli 2024 | 13:20 WIB
KESENIAN MADURA: Sanggar Na’-kana’ Bangkalan mementaskan kesenian Sendelan Madura di halaman kantor Kecamatan Bangkalan, Sabtu (20/7). (KHOLIL RAMLI/JPRM)
KESENIAN MADURA: Sanggar Na’-kana’ Bangkalan mementaskan kesenian Sendelan Madura di halaman kantor Kecamatan Bangkalan, Sabtu (20/7). (KHOLIL RAMLI/JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Madura kaya seni dan budaya. Madura memiliki keunikan dan keragaman sekaligus penuh nilai. Salah satunya kesenian sendelan.

Puluhan orang memenuhi halaman kantor Kecamatan Bangkalan pada Sabtu (20/7) malam.

Alunan musik tradisional terdengar mengiringi pertunjukan Sendelan Madura. Sesekali tawa penonton pecah saat para aktor melakoni peran masing-masing di atas panggung.

Budaya atau kesenian sendelan mungkin sedikit asing di telinga masyarakat Madura hari ini.

Namun, sejatinya sendelan kerap digunakan dalam pertunjukan kesenian seperti dalam kejung, sandur, dan ludruk.

Praktisi budaya Rozekki mengatakan, sendelan sering kali dipadankan dengan pantun, baik yang terdiri atas empat baris maupun dua baris.

Namun, sejatinya tidaklah sesederhana itu. Pantun dalam budaya sendelan hanyalah media atau sarana yang digunakan.

”Sekilas sendelan bisa diartikan sindir atau menyindir dengan pantun. Dalam sendelan, pantun hanya menjadi sarana atau media untuk menyindir,” kata Rozekki dalam sesi Dialog Kesenian Tradisional Sendelan Madura.

Menurut Rozekki, sendelan ini merupakan suatu budaya atau kesenian yang dimiliki Madura.

Meskipun di Jawa, Betawi, dan berbagai daerah di Indonesia lain kesenian serupa sendelan kerap ditemui. Namun, penamaan atau penyebutannya berbeda. 

Dosen Teater Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya Ahmad Faishal mengapresiasi pertunjukan Sendelan Madura di Bangkalan.

Sebab, secara tidak langsung, warga Kota Salak diajak mengingat kembali kesenian dan kebudayaan yang dimiliki. 

”Saat ini mindset tentang kultur kita sudah tergerus oleh hal-hal kekinian,” ujar Faishal.

Dia manyebut, tugas budayawan, terkhusus di Bangkalan, sangat berat. Salah satunya mengembalikan atau mendudukkan kembali kekayaan budaya Madura sebagai ikon. Dengan begitu, Madura tidak kehilangan jati dirinya.

”Sekarang sudah ada mindset, stereotipe yang telah menggerus pemaknaan tentang budaya Madura. Kalau dulu Madura dikenal sebagai Pulau Garam, tempat karapan sapi, dan lain-lain. Kemudian, saat ini ikon Madura telah bergeser,” tegasnya.

Upaya pelestarian kebudayaan dan kesenian tradisional Madura, bagi Faishal, harus melibatkan semua pihak. Mulai penggerak kebudayaan dan kesenian itu sendiri hingga keterlibatan pejabat pemerintahan.

”Termasuk memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai media untuk membuka memori kolektif masyarakat tentang kebudayaan dan kesenian Madura,” sebutnya.

Faishal menilai, kegiatan kebudayaan dan kesenian di Bangkalan belakangan menjadi angin segar Madura di masa mendatang. Tentu dengan menciptakan rumusan arah dan paradigma kebudayaan dan kesenian di Bangkalan.

Faishal kemudian mendorong agar gerakan kesenian sendelan Madura tersebut tidak bersifat sporadis dan momentuman. Namun, mampu mengakar dan mendasar, masuk jauh ke aspek kehidupan sehari-hari masyarakat.

”Mampu dilakukan lagi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, dalam proses lamaran, pernikahan, dan dalam permainan anak-anak di Madura seperti dulu,” tuturnya. (c3/luq)

 

 

 

Editor : Ina Herdiyana
#pantun #kebudayaan #sendelan #tradisional #pertunjukan #madura #budaya #kesenian #Komunitas Masyarakat Lumpur