PAMEKASAN, Radarmadura.id – Ketergantungan pada pupuk kimia menyebabkan kelangkaan dan harga mahal. Pupuk kandang bisa menjadi solusi sekaligus dapat mencegah kerusakan unsur hara.
Petani sering dihadapkan pada kelangkaan pupuk tiap masa tanam. Kalaupun ada, harga dipastikan melambung.
Namun, problem klasik itu tidak menjadi masalah bagi Fauzi. Sebab, sejak puluhan tahun, dia memproduksi dan mengampanyekan penggunaan pupuk organik.
Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berkunjung ke tempat produksi Fauzi pada Minggu (23/6).
Desa Galis, Kecamatan Galis, Pamekasan, siang itu menyuguhkan hamparan sawah dan angin sepoi-sepoi.
Beberapa petani menyiram tembakau dengan harapan akan terjual mahal.
Setelah beberapa belokan, JPRM bertemu pagar rumah warna biru dan satu pohon kelengkeng besar di halaman.
Di rumah itulah petani bernama Fauzi itu tinggal. ”Sempat nyasar ya? Ayo, silakan duduk,” ucap pria berkaus hitam itu.
Siang itu, dia menceritakan proses produksi yang dimulai pada 2000. Fauzi mengaku, pertama mengenalkan pupuk organik tidak mudah. Bahkan, tak jarang mendapat penolakan dari warga.
”Tapi, itu hal biasa. Tak patah semangat, kami terus memberikan penyuluhan. Lambat laun alhamdulilah mereka bisa menerima meskipun dulu hanya satu atau dua orang,” kenangnya.
Fauzi mengungkapkan, sejak zaman dulu petani memang menggunakan kotoran sapi.
Baca Juga: Ribuan Nelayan di Pamekasan Belum Tergabung dalam KUB
Namun, saat memasuki tahun 80-an, masyarakat dipaksa menggunakan pupuk kimia secara besar-besaran. Akibatnya, unsur hara pada tanah jadi rusak.
Dia tidak ingin unsur hara tanah makin rusak. Karena itu, dia berupaya tetap mempertahankan penggunaan pupuk organik.
Pada masa awal, pupuk buatannya hanya dibungkus plastik kemasan setengah kilogram.
Fauzi mengolah pupuk organik dengan beberapa bahan. Sekali proses menggunakan 60 sak kotoran sapi, sekam bakar 10 sak, dan 50 kilogram dedak.
Selain itu, tetes tebu dan air masing-masing satu liter. Air dan tetes tebu ini harus dicampur lebih awal.
Kemudian, kotoran sapi, sekam bakar, serta dedak dicampur sambil lalu disiram dengan campuran air dan tetes tebu itu.
Lalu, ratakan dengan tinggi 30 sentimeter. Kemudian, tutup dengan terpal dan tunggu 10–15 hari. Setelah itu, pupuk sudah bisa digunakan.
Fauzi menyampaikan, semua kotoran binatang bisa digunakan sebagai pupuk. Namun, kandungan kotoran sapi lebih bagus untuk tanaman.
Sebab, kotoran ayam dikhawatirkan mengandung kimia. Sementara kotoran kambing harus menggunakan mesin penghancur dan populasinya tidak semudah sapi.
Menjaga kesuburan tanah secara alami menjadi komitmen Fauzi. Menproduksi pupuk organik bukan semata ingin mendapatkan keuntungan berlipat. Apalagi, pendapatan pada masa awal tidak seberapa.
Dulu pendapatan dari produksi pupuknya hanya Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu. Namun, jerih payahnya selama puluhan tahun membuahkan hasil.
Pemasukan dari pupuk organik lumayan banyak. Dalam sebulan minimal Rp 1,3 juta hingga Rp 3 juta. Bahkan bisa mencapai Rp 10 juta saat banjir pesanan.
Baca Juga: Fokus Program Penghijauan, Tahun Ini DLH Pamekasan Tanam Ratusan Pohon Cemara Udang
Produk pupuk Fauzi tidak hanya digunakan sendiri. Pemakai pupuk organik di daerah Galis sudah 100 persen.
Bahkan, pengiriman sekarang sudah sampai di Sampang. Dia juga pernah bekerja sama dengan perusahaan swasta penanaman tebu dan serai di daerah Pasean.
”Setiap hari kami memproses besar-besaran, 70 ton, 80 ton, bahkan 120 ton,” ujar alumnus IAIN Sunan Ampel Cabang Pamekasan itu.
Dia menegaskan, penggunaan pupuk organik memang harus terus digalakkan. Menurut dia, eman unsur hara pada tanah jika dibiarkan semakin rusak.
”Meskipun tidak secepat menggunakan kimia, tapi hasil dari tanaman tersebut lebih segar,” katanya. (*/luq)
Editor : Ina Herdiyana