Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Upaya Helmi Art Museum Koleksi Ratusan Keris, Berhasil Pulangkan Keris Zaman Sultan Abdurrahman Pakunataningrat dari Jerman

Fatmasari Margaretta • Selasa, 4 Juni 2024 | 15:00 WIB

 

WARISAN LELUHUR: Pemilik Helmi Art Museum menunjukkan salah satu pusaka yang berhasil dia pulangkan ke Sumenep, Sabtu (1/6). (MOH. LATIF/JPRM)
WARISAN LELUHUR: Pemilik Helmi Art Museum menunjukkan salah satu pusaka yang berhasil dia pulangkan ke Sumenep, Sabtu (1/6). (MOH. LATIF/JPRM)

SUMENEP, RadarMadura.id – Helmi punya cara sendiri untuk merawat keris. Di antaranya dengan mengoleksi dan disimpan di museum yang dibangunnya.

Saat ini terdapat ratusan koleksi yang dikumpulkan dari berbagai belahan dunia.

Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berkunjung ke Helmi Art Museum, Sabtu (1/6).

Museum yang berlokasi di Dusun Pandeman, Desa Sera Barat, Kecamatan Bluto, ini merupakan museum keris pertama di Sumenep.

Meski terbilang baru, museum yang didirikan dan diresmikan oleh bupati Sumenep pada 2022 tersebut memiliki koleksi hingga ratusan keris kuno dari berbagai daerah di Indonesia.

Pemilik Helmi Art Museum Helmi bercerita, dirinya tidak pernah berpikir untuk mendirikan museum keris.

Dia mengaku awalnya malah tidak senang terhadap keris. Pikiran itu berubah saat dia mengetahui nilai filosofis dan sejarah yang terkandung dalam sebuah keris.

”Saya awalnya tidak senang dengan keris, apalagi mengenalnya,” kata Helmi pada JPRM, Sabtu (1/6).

Kekagumannya terhadap keris bermula saat ia mendapat wangsit dari kakeknya lewat mimpi.

Saat itu dia mengambil salah satu pusaka milik kakeknya dan dibawa ke mana-mana.

Sejak itu, dia kemudian mempelajari filosofi keris dari sesama pencinta keris di Sumenep.

”Kakek saya datang lewat mimpi dan meminta saya untuk mengembalikan pusakanya ke tempat semula. Dia meminta saya untuk mengambil pusaka yang lainnya,” tuturnya.

Hal lain yang semakin membuatnya kagum terhadap keris adalah nilai filosofis dan historis yang terkandung dalam sebuah keris.

Menurutnya, semakin banyak mengetahui tentang keris, kian banyak pula pengetahuan tentang keris,

”Jadi berbagai filosofi kehidupan itu ada di dalam sebuah keris. Seni leluhur kita itu luar biasa. Itulah yang kemudian menjadi salah satu hal yang membuat saya semakin mengagumi keris dan sehingga memutuskan untuk membangun museum keris,” ungkapnya.

Helmi semakin intens berkumpul dengan sesama pencinta keris di Sumenep untuk mendirikan museum.

Tujuannya, menjadi rujukan bagi anak-anak muda untuk mengenal budaya yang adiluhung yakni keris.

Dia memaparkan, selain karena kecintaan terhadap keris, berdirinya Helmi Art Museum ini untuk melestarikan pusaka bernilai sejarah agar bisa dikenal anak muda.

”Zaman sekarang jarang anak muda yang suka terhadap keris, apalagi memahaminya,” paparnya.

Pria berusia 45 tahun itu menjelaskan, seiring berjalannya waktu, koleksi keris semakin banyak. Setiap koleksi keris dilengkapi keterangan mulai tahun pembuatan hingga asal muasalnya.

”Saat ini sudah tertata dan ada periodesasinya. Misalkan keris ini sudah ada sejak zamannya siapa, usianya kira-kira berapa, siapa pembuatnya, kemudian asalnya dari mana,” jelasnya.

Hal yang paling membanggakan bagi Helmi adalah ketika berhasil memulangkan tiga keris kuno yang sudah ada sejak zaman Majapahit dari negara Jerman ke Indonesia.

Tiga keris tersebut kini menjadi masterpiece di museumnya.

Misalnya, keris yang sudah ada sejak zaman Sultan Abdurrahman Pakunataningrat yakni tahun 1194–1270 Hijriah.

”Semoga dengan dipulangkannya keris ini ke Sumenep bisa menjadi perantara bahwa sejatinya Sumenep itu kota keris,” tandasnya. (*/bil)

Editor : Fatmasari Margaretta
#keris #Mimpi #museum #belahan dunia #Wangsit