BANGKALAN, RadarMadura.id – Devriansyah terbilang sosok kreatif. Warga Perumahan Wisma Pangeranan Asri, Kelurahan Pangeranan, Kecamatan Kota Bangkalan, itu berhasil membuat mahar dengan bentuk pigura unik.
Bahkan, mahar pigura tersebut mengantarkannya sebagai juara 1 dalam lomba produk kreatif tingkat nasional 2015.
Semangat berkarya yang ditopang kreativitas merupakan salah satu kunci menuju pintu gerbang kesuksesan.
Tidak mudah menyerah meski berkali-kali gagal. Hal itulah yang membuat Raja Mahar eksis hingga kini, usaha yang dirintis Devriansyah dari nol.
Sebelum Raja Mahar dikenal publik seperti sekarang, banyak tantangan yang dilalui.
Apalagi, untuk membuat karya sesuai dengan selera pemesan, membutuhkan tenaga dan pikiran luar biasa. Butuh ketekunan dan kesabaran tingkat tinggi.
Jumlah perajin mahar pigura mungkin banyak. Bahkan, sebagian orang menganggap usaha tersebut biasa-biasa saja.
Namun, jika pembuatannya didukung kreativitas, akan melahirkan karya yang begitu berkesan di hati masyarakat.
Sejak 2010, mahar pigura karya Devriansyah dinilai unik. Bahkan, dia konon menjadi perintis usaha kerajinan mahar berbentuk pigura di Kota Salak.
”Dulu, di Bangkalan enggak ada mahar pigura. Saya yang menciptakan,” ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Madura (JPRM) pada Selasa (28/5).
Menurut dia, saat menempuh studi di Universitas Trunojoyo Madura (UTM) 2010, dia belajar membuat desain mahar.
Baca Juga: Digelar November, Disbudpar Bangkalan Matangkan Persiapan Karapan Sapi Piala Bupati
Sebab, saat itu dia juga tergabung dalam unit kegiatan mahasiswa (UKM) Nanggala. Pada akhirnya, Devriansyah memutuskan untuk menekuni usaha mahar pigura.
”Keputusan itu saya ambil karena saat itu belum ada yang membuat mahar berbentuk pigura di Bangkalan. Warga Bangkalan yang ingin mahar pigura harus pesan ke Surabaya,” tuturnya.
Itu yang mendorong saya untuk membuat mahar pigura. Biar pemesan tidak jauh-jauh ke Surabaya saat ingin membeli mahar pigura,” terang pria berusia 35 tahun tersebut.
Sebelum menekuni usaha pembuatan mahar pigura, pria yang dipanggil Devri tersebut pernah menekuni usaha sepatu lukis.
Namun, usaha itu tidak berlangsung lama. ”Saya sekarang hanya melayani order pembuatan mahar pigura, karangan bunga, dan dekorasi manten,” terang bapak dua anak itu.
Dia menjelaskan, peminat produk buatannya tidak hanya berasal dari Madura, tapi juga dari beberapa kabupaten/kota di Jatim.
Termasuk Kabupaten Natuna, Provinsi Riau, dan sejumlah kabupaten di Provinsi Papua. ”Kalau jaraknya dekat, pemesan datang langsung ke rumah. Kadang melalui media sosial (medsos),” tutur suami Tika itu.
Devri mengungkapkan, selain memperluas pangsa pasar produk, dia juga berhasil membuka cabang di beberapa tempat.
Misalnya, di Kecamatan Sreseh, Kabupaten Sampang, dan Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan. Juga membuka cabang di Mojokerto dan Lamongan.
”Saya buka cabang pada tahun 2017. Alhamdulillah, usaha saya bermanfaat dan bisa buka lapangan pekerjaan untuk warga,” imbuhnya.
Dia mengakui, saat pandemi Covid-19, usahanya juga terkena dampak. Angka penjualan produk anjlok.
Untungnya, usaha pembuatan karangan bunga justru tetap eksis. Sebab, saat itu dia banyak menerima pesanan pasca banyak orang meninggal akibat virus Corona. ”Penjualan karangan bunga meningkat sampai 200 persen,” jelasnya.
Devri menambahkan, tarif produk buatan Devri bervariasi. Bergantung ukuran dan tingkat kerumitan pembuatan.
Harganya mulai dari Rp 250 ribu hingga Rp 1 juta. Sedangkan durasi pembuatan produk rata-rata satu hari.
”Setiap hari saya melayani penjualan mahar pigura. Dalam sebulan, rata-rata omzet Raja Mahar berkisar Rp 12 juta,” terangnya.
Berdasar pantauan JPRM, proses produksi dipusatkan di lantai dua rumah Devri. Tempatnya cukup luas dan dipenuhi beberapa properti. Misalnya, tripleks, lem, pigura, uang mainan, dan kaca.
”Produk yang kami buat sebagian besar disesuaikan dengan permintaan pemesan,” tandasnya. (c4/yan)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Ina Herdiyana