Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Kisah Pilu Indra Arief Kurniawan, Anak Sebatang Kara yang Menjadi Korban KIP Tidak Tepat Sasaran

Hasan Bashri • Senin, 27 Mei 2024 | 01:16 WIB
PILU: Indra Arief Kurniawan saat sedang dirumahnya yang sudah hampir roboh
PILU: Indra Arief Kurniawan saat sedang dirumahnya yang sudah hampir roboh

SUMENEP, RadarMadura.id — Di sebuah sudut Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, terdapat sebuah rumah reyot yang menjadi saksi bisu atas derita yang dialami Indra Arief Kurniawan. Seorang anak laki-laki yang hidup sebatang kara Semenjak kedua orang tuanya meninggal dunia. 

Kehilangan orang tua dan keluarga adalah luka yang tak terperi. Indra, yang kehilangan ibunya tepat setelah lulus SMA, merasakan dunia ini runtuh berkeping-keping.

"Hidup benar-benar tidak ada artinya," kata Indra, menggambarkan masa-masa ketika dia hampir saja menyerah pada keputusasaan.

Bahkan, Ia sempat memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Sebab itu, ia harus merasakan dinginnya kayu pasung selama satu bulan.

Gangguan jiwa yang dideritanya juga membuatnya harus merasakan lantai sel tahanan Polres Sumenep.

"Itu semua karena saya mengalami gangguan jiwa dan tidak bisa mengontrol diri," ceritanya, Jumat (24/05/2024).

Hidup sudah hancur, tapi perjalanan masih bisa dilanjutkan, dan mimpi masih bisa digapai. Muncul tekad kuat dalam diri Indra untuk menggapai masa depan cerah. 

Mimpi Indra untuk merubah nasib membawanya merantau ke Ibu Kota. Namun, harapan yang digantungkan pada pekerjaan kuli toko sembako harus kandas ketika ia kembali ke rumah warisan mendiang ibunya dengan saku yang nyaris kosong. Tiga bulan kerja keras hanya cukup untuk bertahan hidup selama satu minggu.

Kemudian, ada secercah harapan ketika tetangganya menawarkan pekerjaan di Jombang. Namun, harapan itu kembali pudar ketika ia hanya dibayar setengah dari upah yang dijanjikan. 

"Di sana saya kerja menjual peralatan pramuka, saat itu perjanjian dengan juragan saya satu bulan saya digaji 1 juta, tapi ketika sudah sampai satu bulan di sana saya hanya diberi 500 ribu, karena dagangan saya tidak laku, satu barang pun tidak ada yang membeli, pada saat itu lah saya pulang ke rumah dengan membawa uang hanya 500 ribu," kenangnya.

Dengan usia yang masih muda, Indra telah merasakan pahitnya kehidupan. Pekerjaan demi pekerjaan ia jalani, dari kuli bangunan hingga sopir ambulan.

Dari setiap tetes keringat dan air mata, muncul keinginan untuk berkuliah. Ia tidak ingin kejadian pahit sebelumnya menimpanya lagi.

"Agar saya bisa punya relasi dan mendapatkan pekerjaan yang layak," ujarnya dengan penuh harap.

Namun, menjadi mahasiswa bukanlah akhir dari perjuangan. Indra harus berhadapan dengan realita pahit ketika ia kesulitan mendapatkan akses beasiswa di STKIP PGRI Sumenep. Pengumuman Daftar Mahasiswa yang lolos Beasiswa KIP tidak ada namanya. 

Tak diam dengan kenyataan itu, Indra kembali mengajukan beasiswa yatim piatu dan beasiswa tidak mampu. Namun naas, tak ada satupun yang bisa menjadi tumpuan harapannya. 

Biaya kuliah yang menumpuk menjadi beban yang semakin berat. Setiap Semester ia harus membayar uang sebesar Rp. 1.700.000 untuk Program Studi pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

"Dimana saya harus mendapatkan uang sebanyak itu?" keluh Indra, suaranya terdengar lirih.

Meskipun begitu, Indra tetap berjuang untuk melanjutkan pendidikannya. Namun lagi-lagi ia dibuat terkejut. Tunggakan biaya kuliah telah mencapai angka yang tak masuk akal. 

Hal tersebut menambah deritanya. Ia harus membayar uang tunggakan sebesar Rp. 10.800.000 sesuai aplikasi Siakad.

"Kok bisa sampai 10.800 dapat dari mana 5.600 nya?" tanyanya dengan nada yang penuh kebingungan. Administrasi kampus yang rumit dan tidak solutif hanya menambah panjang daftar kesulitan yang harus dihadapi.

Buntut dari tunggakan itu, dia mengaku dilempar kesana kemari untuk kejelasan nasibnya di kampus, mulai dari keuangan dilempar ke Waka II Bidang Administratif Umum, pada akhirnya masalah itu tidak selesai hingga tidak tercatat sebagai mahasiswa aktif dan tidak masuk absensi kelas karena belum divalidasi oleh keuangan. Padahal untuk menyetorkan laporan pembayaran Indra sudah mencicil tunggakan tersebut sebesar 500.000,-. 

Indra mengaku, harus seperti ini nasibnya berkuliah di kampus yang senantiasa membiarkan mahasiswanya kebingungan, administrasi yang rumit dan arahannya yang tidak solutif. 

"Pada dasarnya saya merasa kebingungan, dengan siapa dan cara apa saya untuk mengurangi beban yang saya tanggung saat ini," keluhnya.

 

 

Indra mengaku setiap kali menghubungi orang-orang yang sekiranya dapat membantunya dalam menyelesaikan permasalahan akademiknya, malah seakan saling empar tanggung jawab, mulai dari keuangan, administrasi umum dan juga Dosen Pembimbing Akademik (DPA). Mereka seakan-akan tidak peduli jika ada mahasiswa yang bermasalah di bagian keuangan. 

Bahkan ia sudah mendatangi hampir semua pimpinan STKIP PGRI Sumenep untuk menemukan kejelasan. Namun hasilnya tetap Nihil. 

"Dari sinilah saya harus mencari beasiswa di luar kampus, karena di kampus saya sendiri sudah tidak mempunyai peluang untuk mendapatkan beasiswa," tandasnya. (hasan

Editor : Hasan Bashri
#sebatang kara #KIP kuliah #Indra Arief Kurniawan #mahasiswa #kisah pilu #stkip pgri sumenep #yatim piatu #beasiswa