Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Budi Hartomo Sapta Wardhana Kenalkan Tari Topeng Gethak hingga Eropa

Ina Herdiyana • Selasa, 21 Mei 2024 | 23:02 WIB
SENI: M. Budi Hartomo Sapta Wardhana memperagakan gerakan tari di halaman SMAN 1 Galis, Pamekasan, Rabu (15/5). (LAILIYATUN NURIYAH/JPRM)
SENI: M. Budi Hartomo Sapta Wardhana memperagakan gerakan tari di halaman SMAN 1 Galis, Pamekasan, Rabu (15/5). (LAILIYATUN NURIYAH/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Merawat seni khas daerah butuh regenerasi yang baik. Pengenalan bisa dilakukan sejak kecil.

Seperti Budi yang belajar sejak kelas II SD hingga mengenalkan tarian topeng gethak sampai ke beberapa negara Eropa.

Budi ingat betul bagaimana awalnya tertarik pada dunia seni. Sejak kecil sudah berkenalan dengan tari.

Ibundanya juga seorang penari yang diajari oleh pria yang kemudian menjadi suaminya.

”Ayo, kita ngobrol di ruang guru saja,” ajak Budi kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) yang menemuinya di SMAN 1 Galis, Rabu (15/5). Pagi itu dia tampak mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Dia adalah M. Budi Hartomo Sapta Wardhana, guru seni tari di SMAN 1 Galis yang mengenalkan seni tersebut ke dunia internasional.

Darah seni mengalir dari kedua orang tunya. Ibu dan ayahnya, Rr Sri Soebekti dan Soehitno, sama-sama bergelut di dunia tari.

Dulu Soehitno merupakan pelatih tari Sri. Dari situlah benih-benih cinta itu tumbuh hingga keduanya memutuskan menikah.

Budi memiliki ketertarikan terhadap dunia tari sejak duduk di bangku kelas satu SD. Saat menonton televisi ada pertunjukan tari Reog Ponorogo. Kemudia, dia bertanya kepada ibunya. ”Ini tari Reog,” kenang Budi menirukan jawaban sang ibu.

Sejak saat itu, Budi bilang ingin kuliah jurusan tari. Sri sempat melarang keinginan buah hatinya itu. ”Ibu melarang karena biayanya yang terlalu mahal,” katanya.

Kemudian, Budi diperkenalkan seni tari oleh sang ayah saat kelas II SD. Setiap sore diajak ke tempat latihan yang juga banyak anak-anak waktu itu.

Awalnya, Budi tidak mengerti ketika sang bapak meminta selendang yang dia pegang untuk diikat di perutnya.

Dia juga diminta mengikuti gerakan sang bapak. Barulah Budi kecil paham bahwa dia sebenarnya mulai diperkenalkan seni tari.

Hal itu juga terus berlangsung sampai dia kelas VI SD. Saat menginjak usia remaja, tepatnya saat SMP, dia berpindah ke seni musik dengan bergabung ke grup band.

Namun, saat SMK, dia kembai lagi di dunia tari. Hobi itulah yang mengantarkannya untuk menemukan jati diri saat akan melanjutkan pendidikan strata satu.

”Waktu itu saya daftar di Unesa, mengisi formulir di sana. Ngisinya juga ngasal,” tutur Budi. Di formulir itu tertera pendidikan seni, drama, tari, dan musik. ”Tapi, katanya ini nanti dipilah lagi mau fokus ke yang mana,” imbuhnya.

Pilihan jatuh pada jurusan tari. Dia pun mengikuti tes masuk dan praktik. Saat pengumuman, dia termasuk salah seorang calon mahasiswa yang dinyatakan lulus. ”Ya sudah jalani saja semuanya. Saya anggap memang sudah jalannya,” kata Budi.

Setelah lulus S-1, Budi berencana melanjutkan program pascasarjana di perguruan tinggi yang sama.

Namun, karena orang tua masih membiayai kakaknya yang juga kuliah, dia harus rela untuk tidak melanjutkan S-2.

Padahal, Budi mengaku saat itu ditunggu oleh pihak Unesa karena tidak ada lagi penari Madura yang menjadi ikon.

Pengajar tari di kampus itu dibagi-bagi. Ada pengajar tari Solo, Bali, Jogja, Jawa Timuran juga ada. Sedangkan pengajar tari Madura tidak ada.

Takdir berkata lain. Budi lebih memilih menjadi tenaga pendidik di SMAN 1 Galis, Pamekasan.

Sepekan sebelum wisuda, dia sudah ditelepon kepala sekolah kala itu. Menurut Budi, menjadi pengajar seni tari gampang-gampang susah. 

Terutama saat ini yang harus mengikuti kemauan para siswa. Apalagi, belajar topeng gethak harus ada teknik khusus. 

”Kalau tidak belajar selama satu tahun secara rutin, itu tidak bisa. Setidaknya seminggu dua atau tiga kali, setiap hari boleh dan kemungkinan tiga bulan sudah bisa,” jelas pria kelahiran 1986 itu.

Dalam tarian tradisi, harus ada teknik khusus agar pakemnya tidak berubah. Budi berhasil membawa tari topeng gethak ke Belanda, Jerman, dan Belgia. Perjalanan ke Eropa itu dimulai April 2007. Saat itu ada pementasan rombongan Unesa di Solo dengan membawakan tarian khas Jatim.

Lalu, Budi membawakan topeng gethak. Kebetulan ada teman dosennya yang asli Jogja bernama Martinus Miroto ikut nonton. Dia paling senang dengan tari topeng.

”Loh kok ada tarian topeng macam kayak gini, sudah energik, gesit, full power, tapi orangnya tidak oleng, tetap enak,” kenang Budi menurukan komentar Martinus.

Pria kelahiran 28 Februari 1959 itu tertarik berkenalan dengan Budi. Selanjutnya, bulan Agustus, Budi diundang ke sanggar milik penari, koreografer, dan dosen itu.

Di sanggar itu Budi diminta mengisi workshop. Yang membuat kaget Budi, ternyata para kolega Miroto tidak main-main. Ada yang dari Thailand, Australia, hingga Spanyol.

Budi sempat putus kontak lama. Baru 2011 bertemu kembali di Surabaya. Miroto meminta Budi berkolaborasi dalam sebuah karya.

Belakangan, Budi tahu ada proyek ke Belanda, Jerman, dan Belgia. Dia tidak menyangka lawatannya ke Eropa bisa membawa pulang uang Rp 20 juta dari empat kali menari.

”Keinginan saya, tentu seni tari ini berlanjut dan ada regenerasinya tanpa pakem yang diubah. Karena ini seni dan budaya khas daerah yang harus kita jaga bersama,” tegasnya.

Selain sudah melanglang buana ke luar negeri, Budi telah menciptakan tujuh tari kreasi. Masing-masing berjudul Lanceng, Ghâbângan, Nola Bhâlâi, Wirasa, Cebbhing Mekkasen, Capeng, dan In Behind.

Menurut dia, untuk mengerjakan itu dimulai dari menentukan tema. Kemudian, dieksplorasi ke gerakan. Selanjutnya, baru diurutkan dan harus ada konflik agar menarik. (*/luq)

 

 

 

Editor : Ina Herdiyana
#Topeng Gethak #pamekasan #seni tari #negara eropa