Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Kisah Haru Wisuda di Universitas Trunojoyo Madura, Pertemuan Deyantina dan Sang Ibu di Hari Spesial Setelah Dua Tahun Terhalang

Hasan Bashri • Rabu, 1 Mei 2024 | 16:09 WIB
TERHARU: Deyantina Kowi (kanan) didampingi ibundanya setelah mengikuti prosesi wisuda di Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Minggu (28/4). (VIVIN AGUSTIN HARTONO/JPRM)
TERHARU: Deyantina Kowi (kanan) didampingi ibundanya setelah mengikuti prosesi wisuda di Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Minggu (28/4). (VIVIN AGUSTIN HARTONO/JPRM)

RadarMadura.id — Mata berkaca-kaca dan rasa haru yang mendalam, itulah yang dirasakan oleh Deyantina Kowi, mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trunojoyo Madura (UTM), saat mengikuti prosesi wisuda yang berlangsung pada hari Minggu, 28 April.

Deyantina, yang baru saja dikukuhkan sebagai alumnus UTM dan resmi menyandang gelar sarjana, tak bisa menyembunyikan emosinya saat keluar dari Gedung RP Moh. Noer.

Ditemani oleh ibundanya, Anggeneta Inden, yang datang jauh-jauh dari Provinsi Papua Barat, Deyantina merasa lengkap dan bersyukur.

Anggeneta, yang tampil dengan busana adat khas Papua yang unik, lengkap dengan ikat kepala yang terbuat dari bulu burung, menjadi pusat perhatian.

Namun, bagi Deyantina, kehadiran ibundanya adalah hadiah terindah di hari yang spesial ini.

"Baru kali ini didatangi mamak di acara wisuda," ujar Deyantina dengan suara bergetar.

Selama menempuh pendidikan di UTM, jarak dan waktu memisahkan mereka.

Namun, pemakaian busana adat oleh ibundanya bukan hanya sekedar pakaian, melainkan simbol penghargaan dan kenangan yang mendalam.

"Baju adat ini diserahkan kepada saya setelah lulus dari kampus," tutur Deyantina, mengenang masa kecilnya ketika ibundanya selalu menyambutnya dengan baju adat yang sama setiap kali pulang sekolah.

Baju adat tersebut biasanya dikenakan Anggeneta Inden dalam berbagai acara penting di kampung halamannya, seperti penyambutan tamu dan acara adat masyarakat.

"Orang-orang di kampung menyebutnya sebagai kain adat," kata Deyantina, mengungkapkan kebanggaannya akan warisan budaya tersebut.

Deyantina, yang merupakan alumnus program studi Ekonomi Pembangunan, berhasil menyelesaikan studinya tepat waktu, hanya dalam delapan semester atau empat tahun.

Namun, dua tahun terakhir ini, ia tidak sempat pulang ke tanah kelahirannya karena kendala jarak dan biaya transportasi yang tidak sedikit.

"Terakhir dua tahun lalu saya bertemu dengan mamak, tepatnya setelah saya pulang ke kampung halaman," ungkapnya, mengingat pertemuan terakhir mereka yang penuh emosi.

Kisah Deyantina dan Anggeneta Inden ini adalah cerminan dari kekuatan ikatan keluarga yang mampu mengatasi rintangan jarak dan waktu.

Di tengah kesibukan dan tantangan hidup, momen wisuda Deyantina menjadi simbol kemenangan, bukan hanya bagi dirinya tetapi juga bagi sang ibu yang telah mendukungnya dari jauh. (za/jup/hasan

 

Editor : Hasan Bashri
#utm #papua #mahasiswa #Tak Bertemu #Deyantina Kowi #ibu #Dua Tahun