BANGKALAN, RadarMadura.id – Komunitas Inisiatif Bangkalan memiliki konsentrasi terhadap lingkungan hidup. Mereka ingin semua pihak bergerak. Menjaga dan merawat lingkungan. Setidaknya tidak merusak.
Aroma dedaunan dan pepohonan sehabis dilanda hujan menambah semangat dan niat pemuda-pemudi untuk menyukseskan perayaan Hari Bumi 22 April 2024.
Inisiatif Bangkalan bersama beberapa komunitas dan mahasiswa menggelar acara nonton bareng (nobar) dan diskusi.
Shelter Pemuda, Kompleks Pendopo Agung Bangkalan, menjadi saksi keseriusan para pemuda peduli lingkungan.
Dalam rangka memperingati Hari Bumi 2024, mereka menggelar acara nobar dan diskusi, Minggu (21/4). Sebuah film dokumenter garapan Watchdoc Documentary yang rilis April 2021.
Penonton tertarik dan haru melihat setiap gambar yang ditayangkan melalui layar lebar hari itu. Dari awal, film Tenggelam dalam Diam menceritakan tentang kondisi realitas di wilayah pesisir Pulau Jawa yang hampir termakan habis oleh lautan.
Pemuda lintas komunitas tersebut juga menyisakan waktu untuk berdiskusi dan merefleksikan keadaan di lingkungkan sekitar. Misalnya, di Bangkalan dan umumnya yang ada di Indonesia.
Film Tenggelam dalam Diam banyak menceritakan tentang wilayah yang semakin tenggelam, rumah-rumah di area pesisir yang mulai terendam tak ubahnya kolam.
Setelah berdiskusi panjang, semua pemuda memiliki kesepakatan. Mereka sepakat melakukan yang terbaik untuk menjaga lingkungan dan mengajak lebih banyak orang bergerak bersama.
Nobar film merupakan edukasi dengan nama program Ngopi Lingkungan berkolaborasi dengan Komunitas Bangkalan Creative Hub.
Respons haru dan tawa sesekali mewarnai ruangan saat menonton film tersebut. Tidak ada yang jenuh dan mengantuk hingga film yang menceritakan krisis iklim itu berakhir.
Setelah nobar, sesi diskusi dipandu Yayuk. Dia menyampaikan beberapa komentar terkait film yang menggambarkan tentang keadaan pesisir di bumi Jawa hingga kondisi lingkungan di Kabupaten Bangkalan.
Pengurus Inisiatif Bangkalan Ardhan Izzanul menjelaskan, agenda nobar tersebut terlaksana empat kali. Sebelumnya sudah nonton film Pulau Plastik, Kiss The Ground, A Plastic Ocean, hingga Tenggelam dalam Diam.
”Selain yang hari ini diperuntukkan ke perayaan Hari Bumi, juga muncul karena memang Bangkalan ini belum ada expertise yang besar terkait permasalahan lingkungan,” terang alumnus Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.
Ardhan mengaku memanfaatkan film dalam mengatasi permasalahan lingkungan. Hal itu diharapkan dapat menambah pengetahuan.
”Daripada kita hanya nonton sendirian, kita juga mengajak komunitas-komunitas lain, termasuk masyarakat umum,” imbuhnya.
Selain itu, dengan nobar diharapkan dapat memiliki kesadaran yang sama dalam menjelaskan kepedulian terhadap lingkungan, tidak hanya dilakukan oleh satu dan dua komunitas milenial. Dengan film itu, penyadaran tentang lingkungan juga bisa lebih diterima masyarakat.
Salah seorang perintis Komunitas Inisiatif Bangkalan Hikmah Fatoni menambahkan, kondisi lingkungan dalam film Tenggelam dalam Diam digambarkan dengan penurunan tanah.
Menurut dia, dinas lingkungan hidup (DLH) seharusnya tidak hanya fokus mengurusi sampah, tetapi juga menangani masalah lingkungan hidup.
Fatoni merinding menonton Tenggelam dalam Diam. Sebab, perubahan iklim sudah terjadi dalam konteks nyata, bukan hanya dongeng. ”Makanya, kami ingin tahu, apakah film ini dekat atau tidak dengan kita, ternyata dekat. Jadi, akhirnya ada korelasi, kita harus banyak mengurangi dalam mengejar gaya hidup,” tambahnya.
Dia mengajak masyarakat tidak hanya selalu menaruh harapan pada Komunitas Inisiatif Bangkalan dalam hal lingkungan.
Dia juga mengajak memiliki inisiatif bersama dalam menjaga dan merawat lingkungan. Banyak jalan dan cara yang bisa dilakukan dengan tujuan mulia.
”Semua yang kita cintai hari ini, ketika tahun 2050, kemungkinan kita sedang kesulitan. Seperti enaknya kopi hari ini mudah dinikmati dan kemungkinan akan lebih dan lebih mahal,” tutupnya. (c2/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Ina Herdiyana