Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Pengasuh Ponpes Unggulan Tahfidz dan Sains Darus Salam Sampang Iffatul Umniati Ismail Padukan Konsep Pesantren Modern dan Tradisional

Fatmasari Margaretta • Senin, 22 April 2024 | 11:55 WIB
TELADAN: Pengasuh Ponpes Unggulan Tahfidz dan Sains Darus Salam, Torjun, Sampang, Iffatul Umniati Ismail membaca tesis karyanya di kediamannya, Kamis (4/4). (UBAIDILLAHIR RAIE/JPRM)
TELADAN: Pengasuh Ponpes Unggulan Tahfidz dan Sains Darus Salam, Torjun, Sampang, Iffatul Umniati Ismail membaca tesis karyanya di kediamannya, Kamis (4/4). (UBAIDILLAHIR RAIE/JPRM)

SAMPANG, RadarMadura.id – Peran pondok pesantren dalam mencetak santri dengan intelektual dan kemampuan profesional banyak dilakukan beragam cara.

Salah satunya direalisasikan Pondok Pesantren (Ponpes) Unggulan Tahfidz dan Sains Darus Salam. Pesantren di Kecamatan Torjun, Sampang, ini memadukan konsep pondok modern dan tradisional.

”Keinginan kami yakni ingin meningkatkan kualitas santri agar tidak kalah dengan pesantren maju dan besar lainnya,” terang Iffatul Umniati Ismail selaku pengasuh.

Pesantren yang dipimpin Neng Iffa dan suami KH Muhammad Aunul Abied Shah itu didirikan oleh sesepuh suami. Suami mendapatkan amanah untuk melanjutkan dalam mengembangkan pesantren.

”Sebelumnya, pengembangan pesantren saat diamanahkan pada suami manajemennya masih tradisional. Input manajemennya kami nilai masih kurang bagus dalam mencetak santri yang mapan,” terangnya.

Sesuai dengan amanah orang tua suami pada 2019, diperintahkan santri dan masyarakat untuk terus dibina. Meskipun sedang membangun karier di Jakarta, Neng Iffa dan suami memutuskan untuk mengembangkan pesantren yang diamanahkan tersebut.

”Kami memulai untuk mengembangkan pesantren dengan memadukan konsep ponpes salaf (tradisional) dan modern,” terangnya.

Dalam merealisasikan perpaduan pondok pesantren tradisional dengan modern, pihaknya bekerja sama dengan beberapa pesantren tradisional dan modern.

Yakni, dengan cara mendatangkan pendidik (guru atau ustad) dari berbagai pesantren besar tradisional dan modern.

”Keseluruhan ada 25 tenaga pendidik dari pesantren berbeda. Di antaranya yakni 10 orang dari Ponpes Gontor, Al-Amien 1 orang, Sidogiri, Bata-Bata, dan sebagainya,’” ungkap Neng Iffa.

Pihaknya tertarik memadukan kultur pesantren tradisional dengan modern lantaran memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing.

Dengan memadukan kultur keduanya, kelebihan masing-masing kultur akan melahirkan sesuatu yang baru.

MERAPIKAN: Pengasuh Ponpes Unggulan Tahfidz dan Sains Darus Salam, Torjun, Sampang Iffatul Umniati Ismail merapikan referensi di lemari di kediamannya, Kamis (4/4).
MERAPIKAN: Pengasuh Ponpes Unggulan Tahfidz dan Sains Darus Salam, Torjun, Sampang Iffatul Umniati Ismail merapikan referensi di lemari di kediamannya, Kamis (4/4).

”Untuk pesantren modern memang manajemennya modern dan kultur mencetak santri juga modern, bukan lagi fokus pada kiai dan nyai. Tapi, sistem yang berjalan,” terangnya.

Kemudian, untuk pesantren tradisional juga sama, berjalan secara tradisional. Kelebihannya, dalam segi ibadah dan spiritual lebih bagus.

Sedangkan untuk pesantren modern lebih pada kedisiplinan, mental santri lebih kuat, kecakapan bahasa menggunakan bahasa Arab dan Inggris. 

”Sehingga nanti akan melahirkan santri yang cakap, berintelektual tapi dalam segi akhlak dan ibadahnya juga bagus,” jelasnya.

Sebelum menerapkan konsep perpaduan pesantren modern dengan tradisional, santri masih banyak yang berpikiran bahwa setelah lulus sekolah harus bekerja.

Berbeda dengan saat ini, mayoritas orientasi pemikiran santri secara perlahan berubah.

”Mayoritas santri kami saat ini saat ditanya setelah lulus sekolah mau ke mana, sudah pada berorientasi. Ada yang ingin melanjutkan ke Mesir, Inggris, dan sebagainya. Sudah berbeda dengan dulu, yang mau kuliah saja jarang,” terangnya.

Menurut dia, melibatkan pendidik dari dua pesantren dalam memadukan dua kultur yang berbeda sangat penting. Sebab, dampaknya sangat besar untuk santri.

Misalnya untuk ustad dari ponpes tradisional mengajarkan semangat dalam beribadah dan tata krama yang baik.

Sedangkan ustad dari ponpes modern mengajarkan kedisiplinan dan kecakapan berbahasa.

Pihaknya berharap, pesantrennya melahirkan santri-santri yang profesional hingga terus menempuh pendidikan ke luar negeri seperti Al-Azhar dan Timur Tengah.

Serta bisa tembus pada perguruan tinggi favorit sesuai keinginan. ”Sehingga, dapat menjadi bekal untuk santri dalam menjemput masa depannya,” harap Neng Iffa. (bai/luq)

Editor : Fatmasari Margaretta
#Pengasuh #kiai #Intelektual #spiritual #sampang #pesantren #tradisional #modern #Amanah #santri #Nyai