SAMPANG, RadarMadura.id – KH Kholil Yasin aktif berceramah di berbagai daerah di Nusantara.
Mubalig kelahiran Bangkalan tersebut memiliki kebiasaan yang diyakini mengantarkan dirinya sukses dalam menyebarkan ajaran syariat islam.
Terik matahari menambah semangat masyarakat untuk menghadiri haul Buju' Peltas Angin dan Buju’ Srikuning, Dusun Mandala, Desa Sejati, Kecamatan Camplong, Sampang, Senin (15/4).
Kegiatan tahunan tersebut dikemas dengan pengajian umum yang diisi penceramah kondang, yaitu KH Kholil Yasin.
Mubalig asal Desa Durjan, Kecamatan Kokop, Bangkalan, ini mengisi ceramah sekitar satu jam. Guyonan sering dilontarkan kepada penonton sehingga suasana pengajian sesekali riuh.
Jemaah terlihat tidak ada yang mengantuk dan beranjak dari tempat duduknya saat KH Kholil Yasin menyampaikan materi ceramah.
Dalam kesempatan, Kiai Kholil menyampaikan materi tentang tujuan ziarah ke buju’.
Setidaknya menurut dia ziarah ke buju’ itu ada dua tujuan. Yakni, diniatkan untuk tawasul dan tabaruk.
Tawasul di buju’ tidak termasuk syirik. Sebab, seseorang yang tawasul meminta pertolongan Allah melalui buju’.
Termasuk juga tabaruk atau berharap barokah dari buju’. ”Jadi, melalui orang yang dekat dengan Allah, berharap bisa mengantarkan kita dekat dengan Allah,” terangnya.
Kiai Kholil mengaku, sebagai dai dirinya memiliki target dalam mengisi ceramah di berbagai tempat.
Yakni, berceramah empat kali dalam 24 jam, yaitu dua kali siang dan dua kali malam. Saat ini, jadwal ceramahnya sudah terisi hingga 12 tahun ke depan atau 2036.
Agenda ceramah mubalig humoris itu memang tidak terisi penuh selama 12 tahun ke depan. Tapi, agenda ceramah hingga 2026 sudah terjadwal penuh, baik siang maupun malam.
Sementara, selama 2027 jadwal yang sudah penuh hanya malam hari. ”Kalau jadwal siang ada yang kosong,” imbuhnya
Selain itu, pada momen tertentu jadwal ceramah Kiai Kholil sudah terisi penuh. Misalnya di bulan Maulid, Rajab, dan Sya’ban.
Kiai Kholil menyatakan, pada momen itu tidak bisa menerima undangan baru karena sudah terisi hingga 2030.
”Jadi kalau misalnya ada jadwal masuk bulan Rajab, maka harus izin dulu kepada yang lebih awal mengundang dan waktunya harus setelah magrib,” ujarnya.
Jadwal ceramahnya di berbagai daerah tanah air. Di antaranya, di wilayah Jawa Timur, Sumatera, Bangka Balitung, Kalimantan, dan lain-lain.
Bahkan, tokoh kelahiran 1989 ini baru pulang dari Kota Jeddah, Arab Saudi, untuk menghadiri undangan ceramah.
Kiai Kholil membeberkan di balik suksesnya menjadi penceramah. Pertama, dia istiqamah membaca salawat seribu kali dalam sehari.
Kebiasaan ini dilakukan sejak masih mondok di Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Desa Senasen, Kecamatan Konang, Bangkalan, hingga sekarang.
Salah satu faedah dari istiqamah membaca salawat seribu kali setiap hari yaitu mengantarkan pada kesuksesan.
Keterangan tersebut pihaknya peroleh dari kitab an-Nubadah karya Pendiri Ponpes Mambaul Ulum Bata-bata RKH Abdul Majid bin Abd. Hamid.
”Banyak ’ibarat-‘ibarat yang menyebutkan bahwa fadilah salawat itu mengarah pada kesuksesan, termasuk dalam kitab An-Nubdah,” beber Kiai Kholil.
Kedua, Kiai Kholil juga istiqamah memberi nafkah atau sedekah kepada orang tuanya. Kebiasaan itu dia lakukan ketika mempunyai penghasilan.
Dia memberi nafkah dua hari sekali hingga ibunya wafat sekitar empat bulan yang lalu.
”Bapak meninggal tahun 2013, ibu sekitar 4 bulan yang lalu. Sekarang sudah tidak punya orang tua,” ujarnya.
Kiai Kholil menjelaskan, memberikan sedekah termasuk anak yang berbakti kepada orang tua.
Banyak referensi kitab yang menyebutkan, ketika berbakti kepada orang tua, lebih-lebih memberikan sebagian harta, maka Allah akan menggantikan dari jalan yang tidak disangka-sangka.
”Jadi tidak mungkin meleset. Dulu tidak punya apa-apa, sekarang alhamdulillah berkecukupan,” terangnya.
Dia juga mengutip penjelasan Habib Abdul Qadir Baabud. Orang bersedekah kepada orang tua sama halnya memberikan hutangan kepada Allah.
”Yang saya rasakan selama berdakwah ada dua hal. Pertama, membaca salawat seribu sehari. Kedua, sedekah kepada orang tua,” tukasnya. (*/jup)
Editor : Fatmasari Margaretta