SUMENEP, RadarMadura.id – Jiwa santri sudah tertanam dalam diri Kai A. Mufti Khazin sejak kecil. Dia memang ingin memiliki pondok pesantren.
Keinginan tersebut muncul karena suka membaca. Karena itu, dia juga ingin mendorong santri agar bisa membaca kitab.
Kiai A. Mufti mengaku suka membaca sejak kecil. Sebab, saat itu belum ada stasiun televisi. Yang ada hanyalah majalah. Sehingga, setiap hari aktif membaca majalah.
”Buka majalah, lihat gambar, baca keterangan gambar, dan baca judul-judul besar yang ada di majalah,” kenangnya.
Kebiasaan itu yang membuat wawasannya terus bertambah. Bahkan, dirinya mengenal banyak tokoh di Indonesia melalui majalah tersebut.
”Jadi saya kenal tokoh-tokoh Indonesia saat kecil seperti Gus Dur dan lainnya,” ucap Kiai Mufti.
Dia obsesi untuk punya pesantren, karena itu menganggap pesantren sebagai laboratorium untuk mengeksplorasikan kemampuan yang dimilikinya. Dia mengidamkan santri yang bisa baca kitab.
Keinginan tersebut dapat terwujud pada 2012. Dia mendirikan Pondok Pesantren Al Madinah Sumber Emas di Desa Rombiya Barat, Kecamatan Ganding, Sumenep.
Saat itu hanya ada 2 santri yang diajak mondok. Kemudian, terus bertambah hingga sekarang. Bahkan, sekarang ada yang dari Pulau Natuna.
”Santri saya juga ada yang dari NTB, Blitar, Jember, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan berbagai daerah lain,” imbuh Kiai Mufti.
Mimpi masa kecil itu menjadi kenyataan. Pesantren sudah dia dirikan. Bahkan, keinginan agar santri pintar baca kitab juga tercapai. Dia berhasil melahirkan metode baca kitab yang diberi nama Alfatih. (iqb/luq)
Editor : Fatmasari Margaretta