Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Pengasuh Pondok Pesantren Al Madinah Sumber Emas Kiai A. Mufti Khazin Cetuskan Metode Alfatih Percepat Baca Kitab

Fatmasari Margaretta • Minggu, 14 April 2024 | 02:22 WIB
TEBAR MANFAAT: Kiai A. Mufti Khazin memegang buku konsep Alfatih di depan musala Ponpes Al Madinah, Desa Rombiya Barat, Kecamatan Ganding, Sumenep, Jumat (5/4).
TEBAR MANFAAT: Kiai A. Mufti Khazin memegang buku konsep Alfatih di depan musala Ponpes Al Madinah, Desa Rombiya Barat, Kecamatan Ganding, Sumenep, Jumat (5/4).

SUMENEP, RadarMadura.id – Kitab kuning menjadi ciri khas pesantren. Santri dituntut bisa membaca, mempelajari, dan mengaplikasikan dalam kehidupan. Salah satu metode cara cepat membaca kitab itu adalah Alfatih.

Metode Alfatih dicetuskan oleh Kiai A. Mufti Khazin. Dia sempat bermimpi gurunya sebelum melahirkan konsep cara cepat membaca kitab itu. Guru yang dimaksud Pengasuh Ponpes Bata-Bata Pamekasan KH Abdul Hamid.

Peristiwa itu terjadi pada 2016. Sejak saat itulah metode praktif dan akseleratif belajar kitab kuning untuk pemula tersebut dimatangkan. ”Metode ini mungkin berbeda dengan metode yang lain,” katanya.

Kiai Mufti menjelaskan, Alfatih merupakan konsep dasar untuk belajar kitab bagi pemula. Metode ini tidak berdasarkan desain.

Kitab pertama yang dimodifikasi menggunakan konsep Alfatih ini Safinatun Najah. Yakni, dengan cara ditulis ulang, kemudian diberikan harakat dan makna.

 

Photo
Photo

”Kemudian, saya berikan kepada santri untuk dibaca berulang-ulang. Akhirnya setelah beberapa hari mereka bisa membaca kitab gundul,” tutur pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Al Madinah Sumber Emas, Desa Rombiya Barat, Kecamatan Ganding, Sumenep, itu.

Kiai Mufti saat itu memanggil seluruh alumni pondok pesantren yang diasuh oleh kakeknya yakni Sumber Emas Desa Rombiya Barat.

Sebab, di antara mereka sudah banyak yang menjadi kiai, memiliki madrasah dan pondok pesantren.

”Akhirnya saya panggil alumni untuk mengenal dan memakai metode saya itu,” tukasnya.

Menurut suami Darul Hasanah itu, membaca kitab menggunakan metode Alfatih ini lebih alami. Santri langsung diajarkan praktik. Bukan lagi gramatika seperti kebanyakan metode lain.

BERWIBAWA: Kiai A. Mufti Khazin (pakai batik) berfoto bersama seusai memberikan pelatihan metode Alfatih.
BERWIBAWA: Kiai A. Mufti Khazin (pakai batik) berfoto bersama seusai memberikan pelatihan metode Alfatih.

”Kalau yang lain gramatika dulu baru praktik, kami praktik dulu,” ujar Kiai Mufti.

Kai Mufti mengeklaim, metode yang dilahirkan tidak akan kalah bersaing dengan yang lain. Sebab, metode itu lebih dasar dan diperuntukkan khusus bagi pemula.

”Jadi untuk dasar menggunakan metode Alfatih dan selanjutnya bisa pakai metode lain,” ujarnya.

Metode Alfatih banyak diajarkan di pondok pesantren. Baik di Indonesia maupun luar negeri. Mayoritas mereka menerima dengan baik metode tersebut karena terbukti bisa mempercepat anak belajar membaca kitab.

”Metode ini sudah diajarkan dan disebarkan ke salah satu pesantren di Malaysia. Untuk di Indonesia ada yang di Aceh, Jakarta, Bekasi, Jogjakarta, Kalimantan, Probolinggo, dan lainnya,” ungkap Kiai Mufti. (iqb/luq)

Editor : Fatmasari Margaretta
#Pengasuh #pondok #pesantren #AlFatih #jakarta #kitab #Lora #kitab kuning