PAMEKASAN, RadarMadura.id – Lora atau kiai muda berhasil menarik perhatian jemaah dari atas panggung. Lora A. Sa’dud Darain telah membuktikan di dunia dakwah.
Putra KH Musleh Adnan ini sudah sekitar empat tahun naik turun panggung pengajian.
Panggung pengajian pertama bermula pada 2020. Saat itu dia diminta untuk mengisi pengajian di salah satu pondok di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan.
Lora Aak menyatakan dirinya tidak bisa. Namun, panitia tetap memaksa agar ketua Yayasan Tahfidz Karang Anyar Ponpes Nahdhatut Ta’limiyah itu bisa berceramah.
”Mereka memaksa sampai bilang 15 menit tidak apa-apa, ya sudah saya bilang jangan kecewa karena tidak seperti Aba. Lalu kata mereka, mengundang saya karena ingin ngamri barokah,” ungkap Ra Aak.
Baca Juga: Bakal Periksa Bendahara Desa, Polres Sampang Tindak Lanjuti Dugaan Penyelewengan DD Tebanah
Dia pun segera mencari sopir. Dia berembuk alias bersepakat dengan sopir bahwa jika hadirin di tempat pengajian itu tidak tertawa saat dia ceramah, sopir itu harus tertawa meskipun materi yang disampaikan Ra Aak tidak lucu.
Hal itu dilakukan untuk menghidupkan suasana serta mengaktifkan audiens.
Setelah penampilan pertama itu, Ra Aak banjir undangan untuk mengisi pengajian di rumah-rumah warga atau lembaga pendidikan Islam.
Ada di satu daerah yang tidak terlupakan ketika ceramah, yakni di Kecamatan Karang Penang, Sampang. Namanya makin masyhur hingga Sumenep.
Baca Juga: Lora Mukhtar Makin Yahya Menulis Kitab sejak Mondok di Bata-Bata, Pamekasan
Suatu ketika dia ikut KH Musleh Adnan ceramah ke daerah Saronggi, Sumenep. ”Yang awalnya saya hanya ikut Aba, ternyata dilempar serban oleh Aba dan diminta untuk berpidato. Duh, deg-degan waktu itu karena saya harus berpidato di depan Aba,” ungkap Ra Aak.
Ra Aak bisa mempersiapkan segala hal untuk berpidato. Lebih-lebih saat kali pertama mengisi pengajian dengan menghabiskan waktu selama satu minggu.
Dia latihan di dalam kamar dengan menutup pintu, khawatir diketahui sang aba. Di dalam ruangan itu dia memegang sisir seolah pegang mik di depan jemaah.
Awal-awal bisa melewati waktu 20 menit dirasa sudah cukup lama. Kemudian, dikenal di Majelis Riyadlul Jannah mengisi dakwah dengan waktu 30 menit. Lalu, terbiasa hingga satu jam, meski diselimuti rasa gugup setiap kali berpidato.
Rasa takut juga sempat menghantui Ra Aak. Dia khawatir materi tidak cocok bagi masyarakat, takut tidak respect, hingga takut kecewa.
Namun, perjalanan dakwah menjadikan pengalaman hidupnya dituakan oleh pengalaman.
”Mengenal masyarakat menjadi pelajaran tersendiri bagi saya. Ada di satu tempat tidak suka humor, ada satu tempat harus selalu serius, bahkan ada juga yang harus selalu bercanda di sela-sela pengajian. Saya memiliki cara untuk mengetahui itu, kalau tertawa berarti di daerah ini suka humor, gitu,” tutur alumnus Universitas Islam Madura (UIM) ini.
Dalam memasukan humor di materi dakwahnya, Ra Aak melakukan secara spontanitas. Namun, dia juga mencari referensi di beberapa buku. Dia juga sesekali mendengarkan ceramah kiai-kiai sepuh.
Tokoh favorit Ra Aak, di antaranya, KH Anwar Zahid, Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, dan KH Holil Yasin. Dan, tentu saja sang aba, KH Musleh Adnan.
Dia kadang meminta izin terlebih dahulu terutama kepada KH Holil untuk mengutip kata-katanya saat berdakwah. Namun, dia berusaha agar tidak sama dengan para kiai yang menurutnya dinilai plagiasi.
Ra Aak mengakui, saat berpidato gestur tubuh, cara penyampaian materi dakwah hingga suara sering kali mendapatkan komentar dari masyarakat.
Karena itu, dia mencari karakter dirinya sendiri. Namun, lagi-lagi ada yang kecewa karena tidak sama dengan sang Aba. Yang kemudian, dia melepas segala bentuk ekspresi senatural mungkin, dan ternyata masyarakat menilai sangat mirip dengan sang Aba.
”Bahkan, ada yang mengkritik jangan meniru suara Kiai Musleh Adnan. Lalu, saya mikir gimana gitu. Sebab, ini bukan meniru, tapi memang suara saya. Jadi saya bilang ke Aba bagaimana ini, Ba? Lalu, beliau berdawuh ’iya, kamu anak saya yang tentunya gen saya turun ke kamu, tidak bisa kamu lepas dari saya, setiap hari sudah selalu bersama’,” jelas alumnus Ponpes Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, ini.
Jadwal ceramah yang semakin padat menuntut Ra Aak terus belajar. Persiapan sebelum berdakwah membaca beberapa buku atau kitab.
Apabila tidak sempat, bisa mengunduh beberapa kitab dalam bentuk PDF yang dibaca saat di dalam mobil. Referensi itu diperlukan agar materi ceramah tidak monoton.
Sebab, ketika menyampaikan materi di satu tempat, pasti dipublikasikan di YouTube. Jika materi sama disampaikan ulang di tempat lain, ada yang komplain.
Ra Aak aktif di media sosial yakni Instagram dengan jumlah followers mencapai 11,6 ribu dan TikTok 62,7 ribu. Di Tiktok, dia memanfaatkan dengan membuka-buka pertanyaan. Hal itu juga untuk menambah saudara dan mencegah hal-hal negatif.
”Terkadang juga duet dengan Lora Habibi Pegantenan, saling lempar jawaban kalau mentok tidak bisa jawab. Dan juga mempererat hubungan lora-lora muda, semoga bermanfaat bagi masyarakat sekitar dan dihitung amal jariyah sehingga pahalanya terus mengalir sampai meninggal,” tuturnya. (ail/luq)
Editor : Fatmasari Margaretta