SAMPANG, RadarMadura.id – Almarhum RKH Abd. Qodir AMZ merupakan putra dari almarhum RKH Ahmad Mahfudz Zayyadi dan Ny Tuhfah binti RKH Abd. Majid, pengasuh ketiga Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan.
Seiring berjalannya waktu, RKH Abd. Qodir diminta secara khusus agar pindah domisili ke Desa Bira Timur, Kecamatan Sokobanah, Sampang, untuk misi dakwah.
”Abah pindah ke sini semangatnya karena epakon (diperintah Kiai Mahfudz). Beliau menempati tanah yang sudah dibeli sebelumnya oleh Kiai Mahfudz,” ujar RKH Ahmad Mahfudz AQ.
RKH Abd. Qodir AMZ merupakan keturunan Bani Isbat Banyuanyar. Sebelum pindah ke Bira Timur, pada 1979 Kiai Abd. Qodir menimba ilmu di Pesantren Sidogiri selama empat tahun. Kemudian melanjutkan studinya ke Makkah pada 1983.
”Dan pada tahun itu pula madrasah ibtidaiyah didirikan. Meskipun sudah berdiri MI, tapi belum diresmikan sebagai pondok pesantren. Itu karena RKH Abd. Qodir belum bermukim di Bira Timur,” tuturnya.
Semasa belajar di Makkah, Kiai Qodir berguru kepada Syekh Ismail dan Sayyid Muhammad.
Setelah empat tahun menekuni ilmu agama, Kiai Qodir pulang dan dinikahkan dengan Ny Hj Immaratun Solihan binti KH Kholili Hasbullah, Sidogiri pada 1987.
”Pada tahun itu abah pindah ke Desa Bira Timur dan Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bira Timur diresmikan dengan moto kesopanan lebih tinggi nilainya daripada kecerdasaan,” ungkap Ra Mahfudz.
Untuk menampung siswa yang sudah lulus tingkat MI, maka pada 1994 RKH Abd. Qodir mendirikan madrasah tsanawiyah (MTs).
Lalu, pada 2004 mendirikan madrasah aliyah (MA). ”Abah saya meninggal dunia pada Kamis malam, 22 Februari 2013 Masehi,” kenangnya.
RKH Abd. Qodir AMZ dan Ny Hj Immaratun Solihan dikaruniai tiga orang putra. Yakni, RKH Muhammad Isbat lahir pada 1989.
Putra kedua bernama RKH Ahmad Mahfudz lahir pada 1990. Kemudian, 18 Maret 1992 lahir putra ketiga yaitu RKH Muhammad Ismail.
Sejak Kiai Qodir wafat, pesantren diasuh oleh RKH Muhammad Ismail. Sebab, RKH Muhammad Isbat masih menimba ilmu di Al Ahgaf, Yaman.
Sementara, RKH Ahmad Mahfud sedang melaksanakan tugas dari Pesantren Al-Anwar, Sarang Rembang, Jawa Tengah.
Kepemimpinan Lora Ismail berlangsung sekitar dua tahun, yakni hingga 2015. Sebab, Lora Mahfud sudah selesai melaksanakan masa tugas.
Dua tahun kemudian, Lora Isbat memimpin pesantren setelah menyelesaikan pendidikannya di Al-Ahgaf Yaman pada 2017.
”Sejak 2017 saya fokus untuk mendidik santri kecil di Maktab Nubzatul Bayan,” terang Ra Mahfudz.
Saat ini RKH Muhammad Isbat dan RKH Muhammad Ismail tidak hanya aktif mengajar di pesantren.
Kakak beradik ini juga aktif mengisi kajian kitab menyebarkan syariat Islam di tengah masyarakat. (sin/bil)
Editor : Fatmasari Margaretta