BANGKALAN, RadarMadura.id – Sejumlah warga di Jalan Pelabuhan, Kampung Lebak, Kelurahan Pangeranan, bergotong royong mendirikan tenda Kamis (21/3).
Tenda itu akan dipasang di rumah Muhammad Munir Agung Suhartono. Dia merupakan korban kecelakaan (laka) laut di Perairan Shimonoseki, Jepang, Rabu (20/3).
Di dalam rumah itu, beberapa keluarga almarhum masih diliputi duka. Matanya berkaca-kaca. Mereka semua tidak percaya Agung Suhartono pergi begitu cepat.
Kerudung yang mereka kenakan basah karena tetesan air mata yang tidak kuasa dibendung. Salah satunya adalah Nabila Ayu Pratiwi, istri dari Muhammad Munir Agung Suhartono.
Nabila menceritakan, Agung berangkat ke Korea Selatan (Korsel) untuk menjadi anak buah kapal (ABK) tanker Keoyoung Sun pada Jumat (23/2).
Namun, sebelum berangkat ke Negeri Ginseng, dia sempat ingin mengurungkan niatnya untuk berlayar karena cuaca tidak bersahabat.
Namun, Agung tetap memberanikan diri berangkat ke Korsel. Sesampainya di tanah rantau, Agung tidak langsung berlayar dengan kapal Keoyoung Sun, karena belum bersandar.
Sehingga, Agung menunggu di hotel sampai kapal tumpangannya datang.
Kapal tanker yang ditumpangi Agung mengangkut bahan kimia. Sebelum laka laut terjadi, Agung sempat menghubungi Nabila Ayu Pratiwi melalui aplikasi WhatsApp. Dia memberitahukan kalau cuaca di laut tempatnya berlayar, buruk.
”Habis subuh kami masih chatting-an. Dia bilang kalau kondisi ombak besar, tapi setelah itu susah dihubungi lagi,” ucap Nabila sambil mengusap air mata.
Tangisan Nabila pecah saat menceritakan awal perkenalannya dengan Agung. Dia mengaku saling mengenal pada 2020.
Tepatnya saat mendiang magang di sekolah pelayaran di Semarang, Jawa Tengah. Keduanya memutuskan menikah dan membina rumah tangga pada 16 Juli 2023.
Dengan demikian, usia pernikahannya belum sampai setahun. Sementara di mata Nabila dan keluarga, Agung merupakan sosok yang sangat baik dan taat beribadah. Bahkan, ketika berlayar, almarhum tetap menjalankan ibadah puasa.
”Beliau adalah orang yang sangat baik kepada orang tua dan keluarga, penyabar, dan orang yang taat beribadah,” kenangnya.
Informasi musibah yang menimpa Agung didapat dari manajemen kantor tempatnya bekerja pada Rabu (20/3) sekitar pukul 11.00.
Saat itu perwakilan perusahaan tempat suaminya bekerja memberi tahu bahwa kapal yang ditumpangi Agung terbalik di Perairan Shimonoseki, Jepang, Rabu (20/3).
Saat itu Nabila seakan tidak percaya dengan informasi yang didapat. Sementara keluarganya melangitkan doa dengan harapan Agung ditemukan dalam kondisi selamat.
Namun takdir berkata lain, sekitar pukul 19.00 Nabila kembali ditelepon mengenai penemuan sembilan korban, dan salah satunya Agung.
”Awalnya kami berharap Mas Agung ditemukan dalam keadaan selamat. Tapi setelah isya, saya dikabari bahwa Mas Agung bagian dari sembilan korban yang tidak selamat,” ucapnya.
Jenazah Agung akan dipulangkan dari Negeri Sakura, Jepang. Jika tidak ada kendala, akan tiba di rumah duka Jumat (22/3).
Kemudian, akan dikubur di tempat pemakaman umum di Kelurahan Mlajah, Kecamatan Kota Bangkalan. (za/jup)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti