Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Motivasi Agus Hendro Purnomo Cegah Ancaman Kelestarian Lingkungan, Senang Diberi Sampah, lalu Diolah agar Berfaedah  

Ina Herdiyana • Kamis, 14 Maret 2024 | 00:25 WIB

 

KREATIF: Agus Hendro Purnomo, 43, menunjukkan tumpukan sampah yang siap diolah di kediamannya, Desa Jungkarang, Kecamatan Jrengik, Sampang, Rabu (6/3). (JUNAIDI PONDIYANTO/JPRM)
KREATIF: Agus Hendro Purnomo, 43, menunjukkan tumpukan sampah yang siap diolah di kediamannya, Desa Jungkarang, Kecamatan Jrengik, Sampang, Rabu (6/3). (JUNAIDI PONDIYANTO/JPRM)

SAMPANG, RadarMadura.id – Sampah yang tidak berguna akan menghasilkan banyak manfaat di tangan seorang yang kreatif. Selain dapat menjaga lingkungan, hasil olah sampah dapat menjadi sumber penghasilan.

Satu unit pikap bertulis ”FPRB” terparkir di depan rumah berkosen cokelat. Di bak kendaraan roda empat itu penuh dengan bungkusan plastik hitam. Plastik-plastik itu berisi ”harta karun” bagi Hendro.

Pikap itu merupakan ”kendaraan dinas” bagi alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Kendaraan roda empat itulah yang digunakan untuk mengangkut sampah-sampah dari beberapa tempat.

Hendro yang sedang berkaus loreng merah putih sedang serius dengan cangkulnya Rabu (6/3). Dia mengaduk-aduk tanah hitam beralas terpal. Tanah itu diolah untuk disulap agar bermanfaat.

Mengolah sampah menjadi aktivitas rutin baginya. Karena itu, slogan ”Buanglah sampah pada tempatnya” seakan tidak berlaku baginya. Slogan itu pasti sudah familier dan mudah dijumpai di ruang-ruang publik.

Narasi itu mengingatkan setiap pembaca agar menjaga kebersihan. Pesan itu menghendaki lingkungan yang bersih, asri, sehat, dan menyenangkan.

Bagi kebanyakan orang, mungkin sampah dianggap sudah tidak lagi berguna. Cara mengatasinya cukup dengan dibuang atau dimusnahkan agar tidak mengotori lingkungan. Namun, di tangan yang ahli, sampah dapat menjadi barang yang sangat bermanfaat.

Seperti di tangan Agus Hendro Purnomo. Dia nyaris tidak pernah membuang sampah. Pria asal Desa Jungkarang, Kecamatan Jrengik, Sampang, itu justru lebih senang mengumpulkan sampah. Dalam sebulan bisa belasan ton sampah dia kumpulkan.

Bukan tanpa alasan itu dilakukan. Pria yang akrab disapa Hendro itu melakukannya karena ingin merawat lingkungan dari pencemaran sampah. Juga ingin mengolah sampah agar menjadi barang bermanfaat. Semua jenis sampah dia kumpulkan dan akan dipilih jenisnya untuk kemudian dilolah.

Misalnya, sampah organik yang kemudian diolah menjadi pupuk padat maupun pupuk cair. Aktif mengumpulkan dan mengolah sampah tidak dilakukan Hendro baru-baru ini. Dirinya sudah menekuni sejak 2019. Sejak saat itu, sudah cukup banyak menikmati hasil dari sampah yang dia kelola.

Sampah yang dikumpulkan berhasil diolah menjadi pupuk organic, baik cair maupun padat serta media tanam.

Produk pupuknya yang cocok untuk tanaman pertanian hingga taman banyak diminati konsumen. Sementara barang yang layak jual dijual kembali untuk didaur ulang. Dari mengolah sampah itu, dirinya juga berhasil mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Pria yang juga aktif sebagai kepala Bidang Pengolahan Sampah Modern Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Sampang itu bisa menghasilkan rata-rat Rp 5 juta dalam sebulan dari produk sampah yang diolah.

Sampah yang dia terima dari tetangga dan mengambil di beberapa kantor publik yang sudah ada kerja sama.

Hendro merasa sudah menemukan passion untuk mengolah sampah. Motivasi awalnya karena menyadari sampah yang tidak terkelola dengan baik dapat mengancam kelestarian lingkungan.

Bagi dia, mengolah sampah juga sudah menjadi bagian dari mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.

”Sampah yang saya kumpulkan itu setiap minggu bisa mencapai tiga ton. Biaya dalam sebulan untuk mengumpulkan sampah membutuhkan sekitar Rp 1 juta,” terang pria kelahiran 30 Agustus 1981 itu.

Alumnus Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya itu menyadari, bidang yang dia tekuni sekarang tidak singkron dengan disiplin ilmu yang dimiliki.

Namun, dia sudah merasa nyaman dan banyak belajar dengan tekun sampai bisa mengolah sampah.

Sampai sekarang, dirinya belum memikirkan untuk berhenti dari bidang yang tengah ditekuni.

Justru memiliki rencana untuk meningkatkan kegiatan menjadi industri sampah yang lebih besar. Berbisnis dari sampah dengan keuntungan yang lebih besar.

Pada prinsipnya, dia mengaku banyak menghasilkan pendapatan bukan menjadi tujuan utama. Melainkan lebih kepada sebagai langkah untuk merawat lingkungan dari sampah dan memanfaatkan sesuatu yang dianggap sudah tidak bernilai.

”Saya senang menerima pemberian sampah dari orang lain,” pungkasnya. (*/luq)

 

 

Editor : Ina Herdiyana
#kreatif #its #sampah #lingkungan #institut teknologi sepuluh nopember #surabaya