SUMENEP, RadarMadura.id – Cita-cita Tirmidzi untuk mandiri belum sepenuhnya tercapai setelah pamit dari ibu angkat.
Tirmidzi terus bekerja keras menata karier untuk memperbaiki nasib. Berbagai pekerjaan yang bisa menjadi sumber pendapatan semua dia lakukan.
Achmad Tirmidzi Munahwan abandha pasra (modal nekat). Pada tahun 2007 Tirmidzi menikah dengan Noviana Herliyanti, gadis asal Kecamatan Batang-Batang, Sumenep.
Usai menikah, dia langsung membawa istrinya ke Surabaya. Dia sekaligus membiayai istrinya untuk kuliah.
Kehidupan yang dijalani Trimidzi saat itu belum mapan. Belum ada pekerjaan atau usaha tetap yang menjadi sumber pendapatan ekonomi.
Dia hanya ikut temannya bekerja membungkus dan mengirimkan buku di salah satu penerbit.
Tirmidzi tidak sekadar bekerja di penerbit bernama Khalista itu. Tetapi, dia juga belajar banyak ilmu tentang proses penerbitan buku hingga selesai proses cetak.
Hingga akhirnya, dia terinspirasi untuk juga merintis perusahaan penerbit buku.
”Dari Penerbit Khalista, saya belajar cara desain cover buku, layout, membuat barcode ISBN sampai pengajuan ISBN,” ujarnya.
Setelah semua ilmu dalam proses penerbitan buku berhasil dia dapatkan, ternyata ada jalan yang sudah dipersiapkan oleh Tuhan.
Pada 2009, Tirmidzi mendapat kepercayaan dari KH A. Busyro Karim. Naskah buku berjudul Tafsir Al-Asas karya pengasuh Pondok Pesantren Al-Karimiyyah Beraji itu dipercayakan kepada Tirmidzi untuk diterbitkan.
Modal dalam proses penerbitan buku tersebut ditanggung penulis. Kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Tirmidzi untuk merintis Penerbit Muara Progresif.
”Buku karya Kiai Busyro ini berisi tentang tafsir Al-Fatihah,” terangnya.
Tidak berhenti hanya dalam proses mencetak, tetapi Tirmidzi juga dipercaya untuk mendistribusikan penjualan buku tersebut.
Dari keuntungan penjualan, penulis memberikan bagi hasil kepada Tirmidzi.
Penerbitan buku itu menjadi asal muasal Penerbit Muara Progresif yang berkantor di Surabaya itu dirintis.
Buku terbitan pertama karya mantan bupati Sumenep itu dapat terdistribusi dengan cepat karena sangat laris.
Proses pendistribusian buku terbitan pertama itu bekerja sama dengan distributor sekaligus penerbit tempat Tirmidzi belajar.
Yaitu, Penerbit Khalista Surabaya. Dia juga menggandeng penerbit lain dan beberapa toko buku di Surabaya.
”Keuntungan dari hasil penjualan buku tersebut mampu mencukupi kebutuhan hidup saya dan istri di Surabaya,” katanya.
Beberapa waktu kemudian, Tirmidzi bertemu dengan ulama sekaligus penulis asal Sumenep Kiai Thoifur Ali Wafa.
Dia juga memberikan kepercayaan kepada Tirmidzi untuk menerbitkan naskah bukunya yang berjudul Menyingkap Tirai Kehidupan Nabi Muhammad SAW.
”Buku tentang sirah Rasul tersebut menjadi buku kedua yang diterbitkan Muara Progresif,” jelasnya.
Kepercayaan itu dia terima. Padahal, saat itu dia tidak punya biaya cetak.
Karena itu, dia memberanikan diri untuk menggadaikan perhiasan istrinya sebagai modal penerbitan sekaligus biaya cetak buku.
Biaya yang dikeluarkan untuk modal penerbitan sekaligus cetak buku tersebut pada 2009 sebesar Rp 20 juta. Jumlah buku yang dicetak tiga ribu eksemplar.
Tirmidzi memiliki keyakinan besar, penerbitan buku tersebut akan menjadi jalan untuk kesuksesan di kemudian hari.
Belum sempat balik modal, Muara Progresif kembali menerbitkan buku ketiga. Buku antologi berjudul Jalan Terjal Santri Menjadi Penulis diterbitkan 2010.
Penulis yang berkontribusi dalam buku ini merupakan anggota organisasi Ikatan Mahasiswa Sumenep (Ikmas) yang kuliah di Surabaya.
”Kebetulan, banyak anggota Ikmas yang memiliki hobi menulis,” ujarnya.
Tidak disangka, buku tersebut sangat diminati pembaca. Terutama, para santri yang mondok di berbagai pondok pesantren.
Sekaligus, pemuda yang juga memiliki hobi menulis. Buku tersebut acapkali dibedah dalam acara seminar.
”Buku itu dicetak sebanyak tiga ribu eksemplar dan terdistribusi habis dalam waktu cepat,” kata Tirmidzi.
Namun, keuntungan yang didapatkan dari buku itu belum mampu menutupi utang modal biaya terbitan buku Muara Progresif.
Kemudian, pada 2011, Tirmidzi bertemu dengan salah satu penulis hebat dari Sragen, Nur Hidayat Muhammad.
Dia menerbitkan bukunya berjudul Meluruskan Doktrin MTA di Muara Progresif. Buku ini menjadi best seller pertama dari terbitan Muara Progresif.
Buku yang berisi tentang kritik atas dakwah Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) di Solo.
Pembahasan di dalamnya meluruskan amaliah keagamaan yang berseberangan dengan ajaran ahlussunnah wal jamaah (Aswaja).
Sampai sekarang buku itu sudah mencapai cetakan kelima. Setiap kali cetak berjumlah sebanyak tiga ribu eksemplar.
Dari keuntungan penjualan buku ini, utang modal penerbitan buku di Muara Progresif dapat tertutupi. ”Bahkan, juga menjadi sumber modal untuk penerbitan buku baru,” ujarnya.
Menyusul karya Nur Hidayat Muhammad, buku best seller terbitan Muara Progresif yang lain pun bermunculan.
Seperti buku Dalil-Dalil Praktis Amaliah Nahdliyah karya KH Marzuqi Mustamar dan Fikih Jenazah An-Nahdliyah karya Kiai Ma’ruf Khozin.
Kemudian ada buku Tuntunan Shalat untuk Warga NU karya Kiai Muhammad Sholeh Qosim dan A Afif Amrullah.
Tirmidzi mengakui, kesuksesan menjadi Direktur Muara Progresif Surabaya didapatkan melalui berkah dan doa dari orang tua dan guru.
”Semua proses yang diiringi dengan doa orang tua dan guru, pasti diberi kemudahan oleh Tuhan.” (bus/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Berta SL Danafia