BANGKALAN, RadarMadura.id – Jalan Letnan Abdullah memang biasa ditempati pedagang kaki lima (PKL). Terutama di ujung selatan sisi barat.
Mereka berjualan aneka makanan dan minuman menggunakan gerobak. Sore itu, Minggu (25/2), ada yang berbeda di jalan depan Pendopo Agung Bangkalan tersebut.
Pedagang menggelar dagangan di bawah. Tidak seperti pedagang yang biasa menggunakan gerobak atau rombong.
Pedagang-pedagang itu hanya beralas tikar di tepi jalan. Di tempat tersebut mereka menggelar beberapa jajanan tradisional khas Bangkalan seperti gorengan dan lain-lain. Ada juga beragam minuman siap konsumsi.
Bahkan, ada pedagang yang menyiapkan pesanan pembeli langsung di lokasi. Mereka membawa kompor beserta gas elpiji dan penggorengan.
Pengunjung pesan, pedagang siap goreng. Langsung dinikmati di lokasi sebelum jajanan itu dingin dan hilang aroma.
Pedagang-pedagang yang datang dari beberapa wilayah Bangkalan itu turut meramaikan agenda Malem Tera’ Bulan. Awal tahun ini kegiatan itu digelar bertepatan dengan tanggal 16 Syakban.
Rentetan acara dimulai setelah isya. Berbagai penampilan disuguhkan untuk menghibur pengunjung selain acara seremonial.
Mulai pertunjukan musik Sanggar Paseban dan penampilan permainan anak oleh TK dari Tanah Merah.
Malam itu juga ada penampilan pencak silat dan tari oleh Komunitas Perempuan Xpresif Bangkalan.
Mereka menampilkan tari karetas. Tari ini menceritakan kegigihan perempuan Madura. Khususnya, perempuan yang hidup di wilayah pesisir untuk mencari kerang di laut.
Semua kegiatan dalam Malem Tera’ Bulan itu digelar untuk mengingat dan melihat kembali warisan leluhur.
Mulai dari kesenian, jajanan tradisional, hingga permainan rakyat tradisional yang sangat jarang dijumpai di zaman modern ini.
Malem Tera’ Bulan menjadi jembatan bagi masyarakat Bangkalan untuk kembali mengingat dan melestarikan warisan leluhur itu.
Pada momen ini, masyarakat disuguhi berbagai macam penampilan, mulai dari sarasehan budaya, pasar kuliner tradisional, seni pertunjukan musik, dan tari.
”Malem Tera’ Bulan ini akan digelar empat kali dalam setahun,” terang Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Hendra Gemma Dominant.
Malem Tera’ Bulan di Pendopo Agung Bangkalan itu mengusung tema Atong Lo’ Atokaran. Tema khusus yang diambil untuk kerukunan dan kekompakan masyarakat.
Tema ini diambil agar masyarakat tetap guyub pasca pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) meskipun beda pilihan.
Atong Lo’ Atokaran juga merepresentasikan kehidupan warga Kota Zikir dan Salawat yang rukun dan damai.
Ciri khas lain dari kegiatan ini menampilkan berbagai pertunjukan. Mulai dari kesenian dan kebudayaan hingga makanan tradisional.
”Untuk pertunjukan sengaja kami tampilkan permainan masyarakat tradisional yang dimiliki Bangkalan. Misalnya, permainan umpet-umpetan (rem-erremman), perahu mainan (o-paraowan), dan lain-lain,” sambungnya.
Pengambilan permainan rakyat tradisional itu untuk flashback pada kondisi Bangkalan tempo dulu. Di sisi lain juga untuk melindungi budaya dan tradisi ini agar tetap lestari.
”Ini sebagai flashback agar generasi kita tidak melupakan warisan leluhurnya di tengah gempuran gadget yang begitu dahsyat,” imbuh Hendra.
Dia menjelaskan, kegiatan ini memberikan kesempatan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk berpartisipasi. Mereka memang diwajibkan menjual kuliner tradisional asli Bangkalan. ”Malem Tera’ Bulan ini hanya digelar satu malam,” ujarnya.
Selain untuk mengingatkan kembali pada kekayaan budaya Bangkalan, Malem Tera’ Bulan juga mengedukasi masyarakat agar selalu guyub dan rukun.
”Pemilu kemarin mungkin kita berbeda pilihan dan sekarang sudah waktunya untuk kembali bersatu, tidak terpecah belah, harus guyub, dan rukun kembali,” tegas Hendra. (za/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google New
Editor : Ina Herdiyana