SUMENEP, RadarMadura.id - Perjuangan keras masa kini akan menjadi kenangan indah pada masa yang akan datang.
Kalimat tersebut bisa menggambarkan pahit-manis proses yang dilalui Tirmidzi Munahwan. Dari berjualan sembako, jadi marbot musala, hingga menjadi bos penerbit buku.
”Untuk menuju puncak, butuh tekad, keyakinan, dan usaha keras yang dilakukan tanpa harus merasa putus asa,” kata Achmad membuka cerita perjalanan hidupnya kepada Jawa Pos Radar Madura, Selasa (20/2).
Pria bernama lengkap Achmad Tirmidzi Munahwan itu lahir di Sumenep, 2 Mei 1984.
Warga Kampung Somor Penang, Desa Banuaju Timur, Kecamatan Batang-Batang, itu kini tinggal di Sidoarjo.
Dia pindah domisili menjadi penduduk Desa Pepelegi, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, sejak 2015.
Keputusannya untuk pindah kependudukan karena alasan karier atau pekerjaan. Meskipun begitu, Tirmidzi tidak pernah lupa jalan pulang ke kampung halaman.
Tirmidzi merupakan buah hati pasangan suami istri bernama Munahwan dan Ahma. Keluarga mereka jauh dari kata sempurna jika dilihat dari sisi finansial.
Sebab, pekerjaannya sekadar menjadi pedagang kecil di pasar. Meskipun begitu, Tirmidzi tidak pernah haus kasih sayang.
Justru, kondisi pendapatan ekonomi keluarga yang sangat minim membuatnya paham arti di balik kata syukur.
Cita-cita besar yang dimimpikan Tirmidzi sejak kecil tidaklah rumit. Dia hanya ingin menjadi sosok yang mandiri.
Setiap perjalanan hidupnya tidak ingin membebankan orang tua.
Bahkan, sebisa mungkin membantu dan meringankan beban yang dipikul orang tua.
Belum sempat menginjak usia dewasa, Tirmidzi ditinggal ayahnya pada 1993.
Waktu itu, dia masih belajar di bangku kelas II madrasah ibtidaiyah (MI).
Bermula dari itu, tekadnya untuk menjadi lelaki mandiri semakin besar.
Setelah lulus MI Nasy’atul Muta’allimin II Candi, Tirmidzi memiliki keinginan untuk nyantri di pondok pesantren.
Namun, kondisi ekonomi keluarga menjadi pertimbangan besar baginya.
Sebab, sama sekali dia tidak ingin membebani ibunya hanya untuk memenuhi keinginannya semata.
Dari hal tersebut dia berupaya keras mencari solusi untuk mewujudkan mimpinya. Mulai kelas VII madrasah tsanawiyah (MTs), Tirmidzi mulai belajar untuk mandiri.
Dia menjadi pedagang asongan menjual sembako berkeliling kampung halaman menggunakan sepeda ontel.
”Saya keliling Desa Banuaju Timur menggunakan sepeda ontel untuk menjual sembako. Mulai dari minyak goreng, gula, hingga rokok,” ungkap alumnus Nasy’atul Muta’allimin II Candi itu.
Aktivitas tersebut dilakukan tiap hari sehabis salat Asar. Sebagai anak biasa pada umumnya, dia menganggap kesadaran untuk mandiri adalah modal paling penting dalam hidup.
Sebab, dengan begitu, ada prinsip hidup yang dijalani bisa lebih kuat dan tidak menjadi beban bagi orang lain. Terutama keluarga dan orang tua.
Meskipun harus menjadi pedagang asongan di usianya yang masih sangat muda, Tirmidzi tidak pernah merasa gengsi.
Bahkan, dari keuntungannya berdagang, dia mampu menabung dan ikut arisan dalam perkumpulan jemaah salawat.
Tiap pekan dia menyisihkan sebagian keuntungan dagangannya untuk membayar arisan.
Hal itu dilakukan untuk menabung biaya mondok sesuai keinginan besarnya.
Doa atas keinginan mulia yang dicita-citakan Tirmidzi diberi jalan mudah oleh Tuhan.
Saat kelas IX MTs, ternyata nama dia keluar dalam arisan perkumpulan jemaah salawat yang dia ikuti.
Sehingga, uang yang ditabung melalui arisan tersebut benar-benar dapat dijadikan modal biaya untuk mondok.
”Setelah saya lulus MTs, saya langsung mondok di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Daerah Lubangsa,” tuturnya.
Bersamaan dengan itu, dia juga melanjutkan pendidikan di tingkat Madrasa Aliyah Keagamaan (MAK) di ponpes setempat. Tirmidzi mondok selama tiga tahun sejak 2000 hingga 2003.
Tiap dua pekan sekali dia hanya dikirim uang jajan oleh ibunya Rp 15 ribu. Meskipun tidak terlalu besar, uang tersebut cukup untuk biaya hidup di pondok selama setengah bulan.
”Kebetulan, di pondok saya masak sendiri karena juga dikirimkan beras oleh ibu. Jadi, uang yang Rp 15 ribu hanya untuk beli lauk,” katanya.
Dia memang berasal dari keluarga kurang mampu. Namun, hal tersebut tidak menjadikannya sebagai pria yang pesimistis.
Bermodal doa dan restu ibu, Tirmidzi memiliki mimpi untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi pascalulus MAK.
Prinsip untuk hidup mandiri tetap dia pegang teguh. Keinginannya untuk kuliah harus bisa tercapai tanpa membebankan biaya kepada keluarga.
Sebab, hasil dagangan ibunya di pasar hanya cukup sebagai biaya hidup sederhana.
Setelah lulus MAK, dia berangkat ke Surabaya untuk mengikuti tes penerimaan mahasiswa baru di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Bermodal pengetahuan yang didapat dari pondok, dia berhasil lulus tes.
”Kali pertama saya pamit untuk aktif kuliah, saya dibekali uang oleh ibu sebesar Rp 1,3 juta,” sebutnya.
Dari uang tersebut, Rp 700 ribu dia gunakan untuk urunan biaya kontrak tempat tinggal di Surabaya. Sedangkan sisanya dipakai sebagai biaya hidup selama setahun.
Setelah sampai setahun, ternyata Tirmidzi tidak mampu memperpanjang kontrakan. Sebab, dia tidak memiliki uang sama sekali.
Sebagai alternatif, dia mencari musala. Mulai tahun kedua kuliah, dia mengurus salah satu musala di kota seberang alias menjadi marbot.
Aktivitas sehari-hari, dia bersih-bersih musala, azan, menjadi imam salat, bahkan juga mengajar jemaah ibu-ibu mengaji.
Dia tidak mendapatkan bayaran dari semua aktivitas tersebut. Namun, dia tetap bersyukur karena bisa memiliki tempat tinggal tanpa harus bayar.
Sementara biaya hidup seperti kebutuhan makan harus ditanggung sendiri.
Sebagai sumber pendapatan, Tirmidzi ikut temannya menjual buku.
Baca Juga: Problematika Cyber Ethics
Tiap hari menjajakan buku, terutama dalam acara tertentu seperti seminar. Sesekali dia membuka lapak pada saat ada acara besar.
Setelah dua tahun menjadi marbot musala dan mengajar ngaji, ternyata ada salah satu ibu rumah tangga yang mengangkatnya sebagai anak angkat. Tirmidzi diajak untuk tinggal di rumah perempuan bernama Hery itu.
Mulai saat itu, Tirmidzi pindah tempat tinggal dari musala ke rumah ibu angkatnya. Namun, untuk aktivitas di musala tetap dia lakukan.
Tiap hari dia datang ke musala untuk bersih-bersih, azan, dan mengajar ngaji.
”Semua itu saya lakukan bermodal ilmu yang saya dapatkan di pondok,” katanya.
Tirmidzi menjadi anak angkat Ibu Hery selama dua tahun. Setelah itu, dia pamit kepada ibu angkat dan pemilik musala untuk lebih fokus kuliah.
Sekaligus, aktif mengikuti kegiatan organisasi. ”Saya memfokuskan kegiatan di kampus dan organisasi pada 2005,” kenangnya. (bus/luq)
Editor : Fatmasari Margaretta