Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Ahmad Syaiful Bahri Teruskan Usaha Keluarga Jual Kijing dan Batu Nisan, Ingin Bantu Orang agar Merawat Makam Keluarga yang Meninggal

Hera Marylia Damayanti • Selasa, 20 Februari 2024 | 00:47 WIB
BERDAGANG: Ahmad Syaiful Bahri, pemilik Toko Ahmad Kejing menunjukkan dagangannya di Kelurahan Gunung Sekar, Kecamatan Sampang, Sabtu (17/2). (JUNAIDI PONDIYANTO/JPRM)
BERDAGANG: Ahmad Syaiful Bahri, pemilik Toko Ahmad Kejing menunjukkan dagangannya di Kelurahan Gunung Sekar, Kecamatan Sampang, Sabtu (17/2). (JUNAIDI PONDIYANTO/JPRM)

SAMPANG, RadarMadura.id – Sangat mudah untuk mencari rumah Ahmad Syaiful Bahri karena letaknya yang berada di pinggir jalan raya.

Tepatnya di Jalan Imam Ghazali, Kelurahan Gunung Sekar, Sampang. Selain itu, tidak sulit untuk menbedakan rumah Syaiful dengan tetangga sekitarnya. Sebab, depan rumah dipenuhi dengan kijing dan batu nisan.

Rumah pria kelahiran 20 Oktober 1988 itu seperti tidak ada halamannya. Tidak ada ruang untuk sekadar bersantai.

Untuk masuk ke dalam rumah, hanya ada ruang untuk sepeda motor lewat. Dia memanfaatkan halaman rumah untuk memasarkan kijing makam dan batu nisan dagangannya.

Ada banyak model kijing dengan variasi ukuran berbeda yang dijajakan Syaiful. Sebagian kijing sudah dipasang nama, tapi lebih banyak yang tidak ada namanya. Artinya, beberapa kijing tersebut sudah ada yang memesan.

Syaiful mengatakan, dirinya sudah lama menjalani usaha kijing dan batu nisan. Usaha yang ditekuni itu dirintas sang ayah Ahmad Hadiri.

Karena itu, usahanya itu diberi nama Toko Ahmad Kejing. ”Ini sudah seperti usaha keluarga,” ucapnya.

Sepintas, usaha kijing dan batu nisan seperti mencari keuntungan dari kesedihan orang. Sebab, kijing dan batu nisan bisa laku jika ada orang meningal dunia.

Namun, hal itu langsung dibantah Syaiful. Dirinya menggeluti usaha itu dengan niat ingin membantu orang agar merawat makam keluarga yang sudah meninggal.

”Bisnis ini bukan untuk mengambil keuntungan dari orang sedang bersedih. Tetapi, justru untuk membantu mereka yang ingin memberikan persembahan terakhir kepada kelurganya yang meninggal,” tutur pria berusia 35 tahun itu.

Alumnus SMA Negeri 1 Sampang itu mengutarakan, biasanya orang memesan kijing ketika ingin merenovasi kuburan.

Baca Juga: Prabowo Terima Surat Ucapan Selamat dari PM Inggris, Begini Isi Suratnya

Biasanya, renovasi dilakukan jauh hari setelah meninggal. Jika ada orang baru meninggal, tidak mungkin langsung dipasang kijing.

Syaiful mengaku tidak menjual batu nisan kepada tetangga yang meninggal dunia. Dia, memilih untuk memberikan secara cuma-cuma. ”Kalau kuburan baru tidak mungkin langsung menggunakan kijing,” ujarnya.

Menjual kijing atau batu nisan, lanjut Syaiful, seperti kematian yang sudah pasti akan tiba.

Artinya, kijing maupun batu nisan tak pernah tidak terjual. Seolah-olah setiap bangunan kijing itu sudah dengan nama penggunanya.

”Hanya menunggu waktu saja untuk dipakai, seperti manusia menunggu ajalnya tiba,” ucapnya.

Syaiful mengungkapkan, selama menggeluti usaha ini, tidak pernah ada barang terbuang karena pasti ada pembeli.

Asalkan sabar menunggu meski tidak setiap kijing atau batu nisan yang dipajang cepat laku.

”Jualan barang ini memang belum tentu laku setiap hari. Tetapi, barang yang ada dapat dipastikan akan tetap laku pada waktunya. Pasti ada yang minat untuk beli. Saya juga promosikan di media sosial,” ungkapnya.

Ada ratusan stok kijing dan batu nisan yang tersedia di rumahnya. Setiap model harganya tidak sama. Harga paling murah sekitar Rp 250 ribu hingga termahal Rp 1,8 juta tersedia.

Dalam situasi normal, pria lulusan Universitas Kanjuruhan Malang itu dapat mengumpulkan omzet bulanan Rp 8 juta hingga Rp 10 juta.

Tetapi, ada kalanya dalam setahun terjadi peningkatan permintaan. Biasanya terjadi pada Rajab, Syakban, Ramadan atau menjelang Hari Raya Idul Fitri. Permintaan biasanya meningkat mencapai ratusan kijing dalam sebulan.

”Kalau stok harian dalam waktu normal saya menyediakan 50 buah. Pengalaman saya, tidak ada barang yang tidak laku, hanya menunggu waktu saja,” pungkasnya. (jun/bil)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#kijing #usaha keluarga #makam #Syaiful #batu nisan