Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Hidrochin Sabarudin, Budayawan yang Ingin Dikenal dan Dikenang sebagai Orang yang Menghargai Leluhur, Cintai Kebudayaan dan Sejarah sejak SMA

Hera Marylia Damayanti • Senin, 29 Januari 2024 | 16:26 WIB
PEDULI SEJARAH: Hidrochin Sabarudin sedang membaca buku saat ditemui di rumahnya Desa Baengas, Kecamatan Labang, Bangkalan, Kamis (25/1). (VIVIN AGUSTIN HARTONO/JPRM)
PEDULI SEJARAH: Hidrochin Sabarudin sedang membaca buku saat ditemui di rumahnya Desa Baengas, Kecamatan Labang, Bangkalan, Kamis (25/1). (VIVIN AGUSTIN HARTONO/JPRM)

BANGKALAN, RadarMadura.id – Sekitar 200 meter dari Jalan Raya Suramadu arah Surabaya terlihat hunian perumahan Griya Reka.

Laju kendaraan koran ini terhenti di blok D nomor 9. Cukup banyak kucing berkeliaran di sekitar rumah sederhana itu.

Disitulah Aba Doink, sapaan akrab dari Hidrochin Sabarudin tinggal. Dia termasuk tokoh yang masyhur di kalangan budayawan, khususnya di Kabupaten Bangkalan.

Keilmuannya membuat Aba Doink dikenal sebagai budayawan Madura.

”Saya dipanggil budayawan Madura, itu cukup berat bagi saya. Sebenarnya cukup disebut sebagai pemerhati budaya,” ucapnya mengawali pembicaraan saat Jawa Pos Radar Madura (JPRM) bertamu, Kamis (25/1).

Dia bercerita bahwa sudah lama menyukai tentang kebudayaan. Bermula saat duduk di bangku SMA. Aba Doink mengikuti lomba karya cerita legenda nasional pada 1977.

Lomba tersebut menjadi cikal bakal dirinya terpikat dengan kebudayaan.

Sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan mulai dipelototi. Itu dilakukan untuk mengenal cerita kuno, khususnya tentang Madura.

Secara perlahan, dia menyelam dalam kesejarahan dan budaya di Madura.

Di antara buku yang dibaca berjudul Sedjarah Tjaranja Pemerintahan di Daerah-Daerah di Kepulauan Madura dan Hubungannja.

”Setelah membaca buku dari Kanjeng Zainal Fatah tentang Madura ini, saya mulai fokus mendalami tentang Madura,” tuturnya.

Bukti kecintaan Aba Doink terhadap budaya dan sejarah Madura ditunjukkan dengan merintis website Bangkalan Memory.

Isinya berupa informasi tentang pelestarian budaya serta sejarah Madura, khususnya yang ada di Bangkalan.

Alumnus SMAN 1 Bangkalan menyampaikan, website itu dikelola bersama tiga temannya. Dirintis sejak 5 Oktober 2007 dan bertahan hingga sekarang.

”Ada Mas Bagus Indra yang sudah almarhum, sekarang tinggal Syafi’i. Kami merintis website karena belum ada yang mengeksplorasi tentang kisah atau sejarah abad 16 hingga 17,” ucapnya.

Aba Doink mengungkapkan, Bangkalan Memory menjadi penampungan tulisan tentang warisan budaya dan sejarah yang berhasil dikumpulkan.

Di antaranya berupa foto benda peninggalan sejarah, seni budaya, cerita rakyat, kuliner, manuskrip, peta dan dokumentasi sejarah lainnya.

Peninggalan sejarah itu dia dapat dari pewaris keluarga Cakraningrat dan Universitas Leiden Belanda.

”Pertama saya dapatkan dari arsip Madura, khusus Bangkalan di Arsip Leiden yang saat itu sempat dimintai bayaran. Namun saya mengancam balik,” kenangnya sambil tertawa sampai tongkos di kepalanya ikut bergerak.

Menurut dia, mengumpulkan peninggalan bersejarah penuh perjuangan. Namun, perjalanan berkelana mengumpulkan sejarah memberikan kesan tersendiri.

Utamanya saat menemukan dua patung Ganesha di Kecamatan Modung dan Kecamatan Socah sekitar 1980-an.

Aba Doink mendalami sejarah dua patung itu hingga terungkap asal-usulnya merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit.

”Itu yang membuat saya berkesan hingga saat ini karena saya bisa mengetahui ada agama Hindu dan Buddha dari pra Kerajaan Majapahit dan pasca Kerajaan Majapahit,” tuturnya.

Saat ini dia telah mengumpulkan sekitar 3.000 lebih fakta-fakta dan benda bersejarah. Yakni, berupa data, foto, dan manuskrip beserta keterangannya.

”Sebagian ada di Depo Arsip, dan temuan kami mendapatkan piagam,” paparnya.

Pria berusia 64 tahun itu menyampaikan, sejak mengelola Bangkalan Memory, dia berkelana untuk mengabadikan benda bersejarah di Madura.

Lalu, hal itu dituangkan dalam tulisan untuk diunggah di media sosial pribadinya. Dia juga aktif mengisi konten-konten bersejarah untuk mengetuk hati anak muda agar tidak melupakan sejarah.

Dia berusaha keras melestarikan peninggalan sejarah agar bisa dikenal dan dikenang sebagai orang yang menghargai para leluhur.

Karena itu, Aba Doink punya harapan besar kepada generasi muda. Dia mendorong anak muda belajar sejarah sebagai bentuk menghargai perjuangan leluhur.

”Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Orang yang pandai membaca sejarah bangsanya dan dia bangga kepada bangsanya, dia akan menjadi besar. Jika sebaliknya, generasi tersebut akan dilindas oleh sejarah,” pungkasnya. (ay/bil)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#peninggalan sejarah #Hidrochin Sabarudin #budayawan #kebudayaan #Aba Doink #pemerhati budaya #sejarah #sejarah madura #Bangkalan Memory