PAMEKASAN, RadarMadura.id – Menjadi putra daerah berkontribusi sangat diperlukan. Sebab, di tangan putra daerah, persembahan pemikiran dinantikan di masa depan. Begitulah yang memotivasi Sudiyanto, pendiri cabang olahraga (cabor) pertama taekwondo Indonesia (TI) di Madura itu.
Rumah Sudiyanto tidak jauh dari perkotaan. Perjalanan dari kota membutuhkan waktu 10 menit hingga tiba di halaman rumahnya. Saat dijumpai Jawa Pos Radar Madura (JPRM) di kediamannya di Desa Bettet, Kecamatan Kota Pamekasan, Rabu (10/1) tampaknya Sudi tengah beristirahat setelah melatih atlet.
Tuan rumah itu kemudian mempersilakan koran ini duduk sembari menyuguhkan segelas teh. Bapak tiga anak itu menceritakan, awal mula tertarik pada dunia taekwondo sejak kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) 2004.
Sebelumnya, dia mengikuti unit kegiatan mahasiswa (UKM) karate. ”Kemudian pada 2005, melihat atraksi UKM taekwondo sepertinya keren, akhirnya tertarik dan fokus mengikuti taekwondo,” ujarnya.
Kemudian, Sudiyanto memfokuskan aktif mengikuti UKM taekwondo tersebut. Mulai dari sering mengikuti kejuaraan tingkat mahasiswa, open tournament, dan sebagainya. Pada 2006, sempat vakum.
”Karena masih menyelesaikan tugas skripsi. Saat aktif kembali, teman saya sudah ada yang menjadi pemain tim nasional (timnas) dan sebagainya. Saya memulai lagi dari awal,” ujarnya.
Suami Putri Fitriyah itu kembali bergabung lantaran ingin membawa oleh-oleh saat balik tanah kelahiran. Oleh-oleh tersebut yakni berupa ilmu yang bermanfaat. ”Pada 2009, saya menginginkan ilmu yang saya peroleh bisa berkembang. Kemudian, saya berkoordinasi dengan beberapa pihak untuk mendirikan (cabor) taekwondo di Pamekasan,” ujarnya.
Pria 37 tahun itu mengatakan, di Madura taekwondo belum ada yang mendirikan sama sekali. Karena itu, pada 2009 dia mulai mendirikan taekwondo di tempatnya mengajar di SMKN 2 Pamekasan.
”Banyak siswa yang tertarik di sekolah tempat saya ngajar. Melalui beberapa tahapan, akhirnya cabor taekwondo di Pamekasan diakui sebagai cabor resmi,” ujarnya.
Setelah cabor taekwondo sukses diakui di Pamekasan, Sudi menginginkan cabor yang didirikan memiliki prestasi agar tidak kalah dengan kabupaten lain. Caranya, mengikuti kompetisi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur (Jatim) pada 2011 saat cabor itu masih sedikit.
”Pertama ikut sukses menyumbangkan satu medali perunggu dari empat atlet yang diturunkan. Kemudian pada 2015, atlet kami menyumbang satu emas, satu perak, dan satu perunggu,” ujar guru SMKN 2 Pamekasan itu.
Sudi menambahkan, cabornya tidak gampang berpuas diri sehingga terus meningkatkan prestasi dengan mengikuti kejuaraan internasional di Riau pada 2017. Pesertanya dari seluruh negara di Asia dan Eropa.
”Meski pertama kali ikut kejuaraan internasional, atlet kami sudah mampu memperoleh 3 medali perunggu,” tuturnya.
Pada 2018, atlet binaannya dilirik dan diminta bergabung pada tim Pelatihan Nasional (Pelatnas). Dengan demikian, Aprila Dwi Rahayu dididik mewakili Indonesia di berbagai event taekwondo internasional yang juga mengharumkan nama baik Indonesia dari Pamekasan.
”Di antaranya, kejuaraan Kazakhstan Open Tournament Taekwondo, Korea Open Tournament Taekwondo, dan lain-lain meraih beberapa medali,” ujarnya.
Dia menambahkan, dirinya berpikir agar tiga kabupaten lain di Madura terbentuk juga cabor taekwondo. Kali pertama yakni mencoba membentuk di Sampang dan melakukan pembibitan atlet baru.
”Setelah muncul regenerasinya, kami biarkan berkembang secara mandiri. Untuk Bangkalan terbentuk sendiri. Sedangkan untuk Sumenep, sekarang masih dalam pemantauan untuk dibentuk taewondo juga,” terangnya.
Mendirikan taekwondo merupakan salah satu ibadah kebaikan bagi dirinya. Sebab, ilmunya dapat bermanfaat untuk orang lain hingga memperoleh berbagai prestasi. ”Alhamdulillah banyak atlet kami, berkat prestasinya sudah mampu meraih cita-cita. Ada yang sudah menjadi polisi, TNI, dan lain-lain. Kalau mewariskan barang tidak akan abadi, tapi kalau mewariskan ilmu akan abadi,” pesannya. (bai/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Ina Herdiyana