BANGKALAN, RadarMadura.id – Sore itu, Selasa (9/1), Sudarsono sibuk dengan aktivitas melatih anak-anak belajar seni tari. Dia melatih mereka di halaman Stadion Karapan Sapi RP Moch. Noer Bangkalan. Tempat ini menjadi tongkrongan untuk menularkan pengetahuan seni kepada anak didik.
Puluhan anak-anak berbaris mengikuti gerakan yang Sudarsono peragakan. Dengan telaten dia melatih anak-anak dan remaja itu. Aktivitas seperti itu biasa dilakukan sejak lama.
Masyarakat hingga kalangan pejabat tidak asing dengan Sudarsono. Dia kerap diundang untuk tampil di berbagai kegiatan.
Dia bersama Sanggar Tarara tidak hanya tampil di Madura, melainkan juga menghibur di berbagai daerah. Bahkan, di Istana Negara.
Ketekunan menapaki dunia seni tari dan musik tradisional tidak terlepas dari hobi dan darah yang mengalir pada dirinya. Orang tua Darso adalah pegiat seni musik karawitan dan macapat.
Sejak kecil dia sudah memiliki darah seni. Jadi tidak heran jika sampai sekarang bergelut di dunia kesenian.
”Musik dan tari ini sudah menjadi hobi saya. Sejak kecil saya belajar banyak kepada orang tua yang juga bergelut di bidang kesenian musik tradisional,” katanya Selasa (9/1).
Darso kebal dan bisa bertahan di tengah gempuran teknologi digital. Meskipun dia sempat dilarang oleh orang tuanya untuk menekuni musik tradisional dan tari.
”Sempat dilarang karena seni itu tidak bisa dibuat hidup, saat itu memang hidup serba kekurangan,” kenangnya.
Tetapi, semua itu tidak membuatnya patah semangat. Justru dia memikirkan dan menjadikan ucapan orang tuanya itu sebagai cambuk. Dia meyakini, seni yang sangat dahsyat pasti bisa menghidupi.
”Orang jual tusuk sate saja bisa naik haji, apalagi seni yang sangat dahsyat, pasti bisa. Mungkin manajemennya yang perlu dibenahi,” imbuhnya.
Selama menekuni kesenian musik tradisional dan tari, tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk mencari ketenaran. Semua mengalir begitu saja seperti air.
Dia hanya memiliki tujuan untuk melatih dan berkarya. ”Seberapa jauh karya saya ini bisa diterima,” katanya.
Baginya, kesempatan itu ada karena sudah ada kepercayaan dari orang. Sehingga, kesuksesan itu akan mengikuti, meskipun tujuan itu tidak pernah ada dalam pikirannya. Bahkan, karya seni yang dia ciptakan tanpa memikirkan tujuan untuk mencapai ketenaran.
”Orang tahu apa yang saya buat ini bermanfaat, sehingga kesuksesan dan pelestarian ikut dengan sendirinya,” ujarnya.
Perjuangannya memang tidak mudah dan singkat. Semua membutuhkan waktu puluhan tahun. Pada 1996 dia mulai melatih anak-anak untuk belajar tari. Saat itu dia melatih tari angklung topeng. Kemudian, mengikuti berbagai festival dan lomba secara mandiri.
”Saat itu kami tidak memiliki sarana apa pun. Semua serba sederhana. Tapi, itu tidak membuat kami menyerah untuk ikut lomba,” ucapnya.
Untuk melatih tari, dia menggunakan alat musik seadanya. Busana harus membuat sendiri. Bahkan, saat itu dia harus bekerja sebagai pemulung untuk menghidupi dirinya sendiri dan Sanggar Tarara yang dia rintis.
Saat itu pendapatan Darso Rp 400 ribu. Rp 200 untuk keluarga dan sisanya untuk sanggar.
”Kemudian, saya belajar electone dangdut. Saya ngutang saat itu, dan alhamdulillah mulai banyak job. Banyak saweran hingga kami bisa membeli berbagai alat musik,” urainya.
Hingga sekarang Darso konsentrasi untuk melatih dan melahirkan karya. Terbaru, dia tengah menggarap tari topeng kolosal yang diteliti sejak 2015. Semua itu dia jalani sepenuh hati dan secara bertahap.
Pada peringatan Hari Jadi Ke-77 Provinsi Jawa Timur 2022 lalu Darso mendapatkan penghargaan SDM Kebudayaan 2022 sebagai Kreator Bidang Seni Tari.
Penghargaan dari Gubernur Khofifah Indar Parawansa itu diperoleh atas dedikasi Darso di bidang seni tari selama 37 tahun tanpa henti.
Dulu Darso bekerja serabutan. Bahkan, pernah menjadi pemulung barang bekas. Setelah menekuni dunia seni, dia mulai menabung untuk membangun sanggar. Dari tangan Darso kemudian terbentuk Sanggar Tarara yang kini memiliki ratusan anak didik. (*/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti