SAMPANG, RadarMadura.id – Berpendidikan tinggi dengan pengetahuan luas menjadi impian semua orang. Namun, tidak semua orang berkesempatan mewujudkan. Apalagi perempuan.
Inilah yang diperjuangkan Rohiyah, perempuan asal Desa Tobai Barat, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang.
Tidak semua perempuan mampu melawan stigma yang memandang pendidikan bagi perempuan tidak terlalu penting.
Sebagian orang menganggap perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi karena hanya akan mengurus rumah tangga.
Padahal, perempuan dengan pendidikan tinggi justru lebih mampu mengurus itu.
Tidak sedikit kaum hawa yang tidak menempuh pendidikan tinggi memilih menikah muda.
Rohiyah berbeda. Dara berusia 19 tahun itu memilih melanjutkan pendidikan. Sebab, kesempatan itu sudah sejak lama menjadi impian.
Rohi kini berhasil mencicipi bangku kuliah. Namanya tercatat sebagai mahasiswi jurusan kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Sukma Wijaya Sampang.
Perempuan kelahiran 2 Desember 2005 itu menyadari, tidak banyak perempuan seusia dirinya menempuh pendidikan tinggi.
Terutama di Desa Tobai Barat, Kecamatan Sokobanah. Kebanyakan sudah berumah tangga dan memiliki anak.
Putri pertama pasangan Rohemah dan Hasiri itu harus rela menunda menikah demi menempuh pendidikan.
Juga merelakan berpisah dengan tunangan yang sempat mengajak untuk segera menjalani biduk rumah tangga.
Itu dilakukan atas dasar keinginan kuat dirinya untuk melanjutkan pendidikan.
Pertunangan itu atas arahan orang tua saat masih nyantri. Dirinya mengaku siap, dengan catatan masih berkeinginan untuk tetap kuliah.
Pertunangan itu berlangsung hampir satu tahun sebelum akhirnya dibatalkan karena Rohi memilih melanjutkan kuliah.
Sementara, dari pihak tunangan berkeinginan untuk menyegerakan menikah.
Mahasiswi semester satu itu tidak siap apabila menjalani pernikahan sambil berkuliah.
Apalagi, tercatat sebagai mahasiswa penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Beasiswa dari pemerintah yang mensyaratkan penerima tidak boleh menikah.
Sikap dan pilihan alumnus SDN Tobai Barat 1 itu bukan tanpa alasan.
Semua dilakukan untuk mewujudkan cita-cita menjadi tenaga kesehatan. Dia juga ingin memiliki fasilitas kesehatan sendiri.
Alumnus Pondok Pesantren Fadhilatul Qur’an Desa Tengginah, Kecamatan Ketapang, itu mengucapkan terima kasih kepada Komunitas Rumah Desa Hebat yang membantu mengadvokasi mendapatkan beasiswa.
Dirinya berkomitmen untuk memanfaatkan kesempatan emas ini dengan maksimal.
”Sudah menjadi komitmen saya untuk semangat, giat, dan tekun belajar,” ujar perempuan yang menemui koran ini bersama Zahrotul Aini itu.
Pendiri Komunitas Rumah Desa Hebat Abu Rizal menyampaikan, komunitasnya memang mendorong pemuda melanjutkan pendidikan.
Gerakan itu digagas dengan program seribu sarjana untuk anak desa. Apalagi, pemerintah cukup besar memberikan peluang agar mahasiswa belajar secara gratis.
Rizal menegaskan, pihaknya tidak dapat menjamin mahasiswa bisa mendapatkan beasiswa.
Komunitas hanya mengadvokasi mahasiswa untuk berusaha mendapatkan beasiswa. Yakni, dengan mengawal informasi dan membantu mempersiapkan persyaratan.
”Ada beberapa yang kami bantu dalam menginformasikan peluang-peluang beasiswa. Tetapi, bukan kami yang meloloskan. Semoga para penerima beasiswa tidak menyia-nyiakan kesempatan baik itu,” harapnya. (jun/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Berta SL Danafia