BANGKALAN, RadarMadura.id – Keterbatasan fisik dan ekonomi sering dianggap sebagai kendala untuk mewujudkan cita-cita mulia. Namun tidak demikian dengan Sahmul Lailah.
Seng berkarat menjadi pagar dari sebuah rumah sederhana di Kelurahan Pejagan, Kecamatan Kota Bangkalan. Alat-alat elektronik tampak berjejer di rumah berukuran 10x5 meter persegi tersebut.
Seorang ibu bernama Eka Sri Utami tersenyum menyambut kedatangan Jawa Pos Radar Madura dan mempersilakan masuk.
Anaknya yang penyandang disabilitas, Sahmul Lailah, juga menemui koran ini dengan santun.
Ibunya dengan telaten membantu Sahmul Lailah untuk duduk di kursi roda. Dalam obrolan santai, Sahmul Lailah menuturkan, bahwa tidak ada yang lebih berharga selain kursi roda.
Barang itu sangat bermanfaat dalam kehidupannya sehari-hari untuk memudahkannya beraktivitas.
Di sela-sela obrolan, Sahmul mengungkapkan harapannya selama ini. Yakni, melanjutkan studi magister (S-2).
Sebelumnya, perempuan berjilbab hitam itu baru menamatkan pendidikan strata satu (S-1) jurusan bahasa Inggris di STKIP PGRI Bangkalan, September lalu. Sekarang dia tengah berusaha melanjutkan S-2.
”Saat ini saya sedang berjuang untuk melanjutkan studi saya,” ujar Sahmul.
Seusai lulus dari STKIP PGRI Bangkalan, dirinya kesulitan mendapat pekerjaan lantaran keterbatasan fisik.
Bahkan, nyaris tidak ada lowongan pekerjaan yang siap menampung kaum difabel seperti dirinya.
”Jika tidak melanjutkan S-2, saya tidak tahu lagi,” tambahnya.
Ikhtiarnya melanjutkan studi S-2 ditempuh melalui jalur beasiswa. Tidak mungkin baginya melanjutkan studi dengan biaya mandiri. Sebab, dia berasal dari keluarga ekonomi lemah.
Selama ini dia bercita-cita menjadi seorang dosen. Oleh karena itu, dia berusaha untuk mewujudkan mimpinya itu dengan menempuh studi magister.
”Selama ii, nsaya sering sampaikan aspirasi ke tokoh publik daerah dan nasional, bahkan Presiden Jokowi. Harapan saya, mereka membantu dan memperhatikan para disabilitas yang memiliki semangat, tapi keterbatasan ekonomi seperti saya,” ucapnya.
Keinginannya menjadi seorang dosen hanya untuk mengabdi kepada negeri. Serta ingin membuktikan bahwa kaum difabel juga bisa sukses.
”Agar tidak dipandang sebelah mata,” tutur anak kedua dari pasangan Eka Sri Utami dan Asnawi itu.
Ada beberapa tokoh publik yang pernah mendengarkan secara langsung curhatannya. Mulai dari presiden, gubernur, bupati, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Kemudian Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam).
”Terakhir, mungkin saya akan ke Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek). Semoga ada jalan bagi saya untuk melanjutkan studi,” sambungnya.
Perempuan 24 tahun itu mengaku sangat senang karena kedua orang tuanya tidak pernah lelah membersamainya dalam mewujudkan cita-citanya menjadi seorang dosen.
Sehingga, dirinya terus termotivasi untuk bisa membanggakan kedua orang tuanya.
”Harapan saya yang utama membahagiakan orang tua. Saya ingin mengangkat derajat keluarga,” pintanya.
Sementara, Eka Sri Utami berharap keinginan buah hatinya melanjutkan studi S-2 melalui jalur beasiswa bisa terwujud.
Sebab, dirinya hanya bekerja sebagai petugas kebersihan di salah satu sekolah dengan gaji Rp 900 ribu.
Sedangkan Asnawi, suaminya, produktivitasnya menurun karena masalah kesehatan. Dengan begitu, ibu Sahmul menjadi tulang punggung keluarga.
”Gaji segitu hanya cukup untuk makan. Bapak sudah lama tidak bekerja karena sakit,” tuturnya. (ay/jup)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Berta SL Danafia