SAMPANG, RadarMadura.id – Menjadi guru bukan impian yang paling diinginkan oleh Sulaiman.
Pria yang lahir di Desa Tambuko, Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep, itu justru tidak banyak menyiapkan diri untuk menjadi guru. Profesi yang dijalani saat ini berkat dorongan dan restu orang tua.
Alumnus jurusan ekonomi STAIN Malang ini sebenarnya bercita-cita ingin menjadi wartawan. Dia banyak aktif dalam kegiatan literasi sejak duduk di bangku sekolah.
Sampai pada jenjang tingkat perguruan tinggi, dia aktif sebagai pengurus lembaga pers mahasiswa (LPM).
Semasa kuliah, Sulaiman pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi majalah inovasi di STAIN Malang, kampus yang sekarang berubah menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Namun, setelah lulus kuliah, justru diarahkan menjadi guru oleh kedua orang tuanya.
Sulaiman merupakan putra dari pasangan Abd. Djamal dan Amna. Kedua orang tuanya bukan dari kalangan akademisi. Tetapi, hanya seorang penjaga sekolah dan ibu rumah tangga biasa.
Pendidikan dasar sampai tingkat menengah atas ditempuh Sulaiman di kota kelahirannya, Kabupaten Sumenep.
Pria kelahiran 5 November 1979 itu menempuh pendidikan dasar di SDN Baragung 3. Kemudian, lanjut di SMP Negeri 1 Ganding, dan Madrasyah Aliyah Annuqayah.
Pengabdian pertamanya sebagai guru dimulai sejak baru lulus kuliah pada 2004. Dia bertugas sebagai guru pembantu di SMP Negeri 1 Masalembu dan SMA Negeri 1 Masalembu. Sementara pengabdiannya di Kota Bahari dimulai sejak 2005, saat dia diterima sebagai pegawai negeri sipil (PNS).
”Pada 2005 saya mendaftar PNS dan diterima. Saya ditugaskan mengajar di SMA Negeri 1 Ketapang. Saya diangkat sebagai kepala sekolah tahun 2022,” tuturnya.
Suami dari Nanik Indriyani itu menuturkan, menjadi guru tidak cukup dengan bekal ilmu pengetahuan.
Tetapi, harus punya ketulusan dan keikhlasan hati dalam membimbing siswa. ”Guru harus bisa menjadi teladan, sebagai motivator dan inspirator bagi muridnya,” katanya.
Bapak tiga anak itu menambahkan, zaman sekarang siswa sudah mudah mendapatkan pengetahuan berkat dukungan teknologi.
Namun, pengetahuan itu tentu tidak cukup. Siswa harus ada yang membimbing dan mengarahkan agar menjadi pribadi yang lebih baik.
Belasan tahun mengabdi sebagai guru, banyak pengalaman yang sangat berkesan bagi Sulaiman.
Salah satunya, perasaan senang dan bahagia tiada tara ketika berhasil mengantarkan siswanya meraih prestasi. Kemudian, mendengar anak didiknya sukses.
”Bahagia sekali rasanya apabila mendengar siswa kami sudah sukses. Atau kami bisa berhasil mengantarkan siswa untuk kuliah sesuai jurusan yang diinginkan. Kebahagiaan itu tidak bisa diukur dengan materi,” ucapnya.
Pria berusia 44 tahun itu juga tidak menyesali meski cita-citanya menjadi wartawan tidak bisa diwujudkan.
Sebab, pengetahuan tentang literasi juga tidak terbuang sia-sia. Dirinya masih berkesempatan untuk mengajarkan pengetahuan itu kepada semua siswanya.
”Saya hobi membaca, dan sejak kuliah sering menyisakan uang saku untuk membeli buku setiap bulan,” jelasnya. (jun/pen)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Berta SL Danafia