Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Mengharap Turunnya Hujan, Warga Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, Gelar Tradisi Okol

Berta SL Danafia • Sabtu, 4 November 2023 | 16:03 WIB
MEMUKAU: Warga menyaksikan peserta okol yang bertanding di arena, Dusun Bunut, Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, Jumat (3/11). (UBAIDILLAHIR RA’IE/JPRM)
MEMUKAU: Warga menyaksikan peserta okol yang bertanding di arena, Dusun Bunut, Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, Jumat (3/11). (UBAIDILLAHIR RA’IE/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.idRitual untuk mengharap hujan turun biasanya dilakukan dengan doa-doa.

Sedangkan di Pamekasan, ritual mengharap turunnya hujan dilakukan adu ketangkasan. Tradisi itu disebut okol dan sampai saat ini masih dilestarikan.

Cuaca di Jalan Palduding, Kecamatan Pegantenan, mendung. Dari gang sebelah timur Masjid Aisyah (Katandur) terlihat gelanggang yang akan menjadi arena pertandingan okol.

Sebanyak 17 potongan bambu ditancapkan di lahan bekas tanaman tembakau itu.

Tali rafia diikatkan mengelilingi 17 potongan bambu yang ditancapkan tersebut. Sehingga, terlihat seperti ring pertandingan.

Sebagian panitia tampak sibuk meratakan gundukan tanah di arena pertandingan.

Suara klakson motor mulai ramai terdengar menuju gang pergelaran okol.

Warga yang memadati dan mengelilingi arena pertandingan okol semakin sesak, mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa.

Kemudian, panitia mulai berdiri tegap di sisi barat, timur, selatan, dan utara.

”Mereka para panitia yang berdiri berperan sebagai penjaga kondusivitas dan mencari peserta yang mau bertanding,” ucap Ketua Panitia Okol Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan, Mandra Bajll.

Sembari menonton pertandingan, pria berpeci putih itu menerangkan, pertandingan okol bebas diikuti siapa pun, asalkan laki-laki.

Saat pertandingan hendak dimulai, panitia mengatur peserta yang akan bertanding. Tujuannya, supaya berjalan fair dan sebanding.

PENUH SEMANGAT: Peserta berusaha saling menjatuhkan di tengah arena okol di Dusun Bunut, Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, Jumat (3/11). (FAHMI JALIL/JPRM)
PENUH SEMANGAT: Peserta berusaha saling menjatuhkan di tengah arena okol di Dusun Bunut, Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, Jumat (3/11). (FAHMI JALIL/JPRM)

”Untuk anak-anak, lawannya anak-anak juga. Untuk yang kurus, lawannya juga kurus. Sedangkan yang gemuk, lawannya gemuk pula agar seimbang,” ujarnya.

Sebelum dan sesudah bertanding, panitia akan meminta peserta untuk saling bersalaman. Itu menunjukkan adu ketangkasan yang dilaksanakan sebagai hiburan dan mempererat persaudaraan.

”Peserta ada yang berasal dari Desa Plakpak sendiri, ada yang dari Desa Larangan Badung, Nyalabu, Klampar, Palengaan, dan sebagainya,” ujarnya.

Pria usia 35 tahun itu mengungkapkan, panitia memberikan hadiah kepada peserta okol yang bertanding. Hadiah tidak hanya didapat oleh peserta yang menang.

Peserta yang kalah juga mendapatkan hadiah sebagai tanda terima kasih telah turut meramaikan kegiatan okol.

Hadiah yang telah dipersiapkan panitia untuk peserta pertandingan okol berupa 70 sak beras dengan kemasan 5 kilogram. Kemudian, ada 20 pres rokok.

”Bagi yang menang mendapat beras satu sak 5 kilogram. Sedangkan yang kalah diberi hadiah rokok satu bungkus,” ujarnya.

Dia menerangkan, okol sudah ada sejak 1980-an. Sebab, saat Mandra Bajll masih kecil, tradisi itu rutin dilaksanakan setiap tahun saat musim kemarau panjang dan lama tidak turun hujan.

”Okol oleh masyarakat diyakini sebagai tradisi ritual untuk meminta hujan,” ujarnya.

Setelah okol dilaksanakan, atas izin Yang Maha Kuasa, tidak lama kemudian biasanya turun hujan.

”Rata-rata setelah seminggu kegiatan okol, baru hujan turun. Okol merupakan simbol bagi warga bahwa musim penghujan sudah dekat,” ujarnya.

Warga Dusun Bunut, Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan, itu menambahkan, setelah kegiatan okol, diharapkan hujan segera turun. Sehingga, masyarakat bisa bercocok tanam.

”Sehingga, para petani dapat sejahtera saat hujan sudah turun,” ujuarnya. (bai/jup)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Berta SL Danafia
#pamekasan #Peserta #hujan #turun #madura #ritual #tradisi