Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Tari Ronding Ada sejak Zaman Penjajahan Belanda

Abdul Basri • Senin, 18 September 2023 | 02:19 WIB

TEGAS NAN ANGGUN: Amalia Desy Wahyuni sedang memperagakan salah satu gerakan tari ronding di rumah Suparto, Desa Laden, Kecamatan Kota Pamekasan, pada Jumat, 18 Juni 2022. (SUPARTO UNTUK JPRM)
TEGAS NAN ANGGUN: Amalia Desy Wahyuni sedang memperagakan salah satu gerakan tari ronding di rumah Suparto, Desa Laden, Kecamatan Kota Pamekasan, pada Jumat, 18 Juni 2022. (SUPARTO UNTUK JPRM)

 

Gambarkan Pasukan Prajurit yang Semangat, Lincah, dan Tegas

Tari ronding muncul di tengah masyarakat pada masa penjajahan Belanda. Tari tersebut sempat dianggap tak bertuan. Tapi, kini tari dengan hentakan kaki itu menjadi tari khas Kota Gerbang Salam.

AYU LATIFAH, Pamekasan, RadarMadura.id

SUARA alat musik tradisional terdengar sayup. Irama karawitan itu terdengar indah dimainkan para seniman Sanggar Budaya Mekkas Laras.

Semakin merdu, seperti mengomando Jawa Pos Radar Madura untuk segera sampai di lokasi, tempat para seniman itu mengasah kemampuannya. Latihan itu dipimpin pria paro baya mengenakan kaus pendek.

Pria itu Suparto. Namanya tidak asing seantero jagat seni tradisional. Dialah penggiat, pelaku dan pelestari tari ronding hingga kini. Pria kelahiran April 1952 itu mengenal sekaligus menjadi pelaku tari ronding sejak duduk kelas IV sekolah dasar.

Sambil duduk santai, pria berusia 71 tahun itu mulai menceritakan secara lengkap tentang tari ronding tersebut. Menurut dia, pencipta tari tersebut masih misteri. Sebab, tari itu muncul di tengah-tengah masyarakat begitu saja.

Konon ceritanya, tari ronding ditampilkan pada kesenian tradisional sebagai tari komedi waktu penjajahan Belanda. ”Tari ini sudah ada sejak zaman penjajahan, namun siapa penemunya, belum diketahui,” katanya.

Hingga kini tari tersebut belum memiliki arti secara filosofis yang sah. Dugaan sementara, kata ronding berasal dari Bahasa Belanda. Namun para tokoh seniman, sejarawan, dan budayawan mencoba memberikan arti di luar tata bahasa dan muncul dua istilah.

”Di tengah masyarakat itu sudah ada kata ronding, tapi apa artinya ketika dicari di kamus bahasa Indonesia dan Belanda itu tidak ada. Jadi sejarawan sepakat mengartikan di luar tata bahasa,” terangnya.

Istilah pertama, tari ini berasal dari dua kata, yakni ro’ artinya mayuh atau ikut, serta ding artinya suara kendang. Istilah lain kata ronding berasal dari rot artinya nyorot atau mundur, serta ding berarti tolak pinggang.

”Jadi istilah pertama berarti ayo ikut suara kendang dan yang kedua artinya menari dengan mundur bertolak pinggang,” jelasnya.

Suparto menyampaikan, ada sebagian masyarakat yang menyebut tari tersebut sebagai tari kenca’. Yakni, tarian yang menggambarkan hentakan kaki. Ada pula yang menyebut tari baris karena menggambarkan baris-berbaris pasukan Belanda.

”Tari ini semula tampil sebagai tari komedi yang menggambarkan pasukan para Belanda, tari ini memiliki banyak pesan saat dipentaskan,” tuturnya.

Tari yang dimainkan enam orang itu terdiri dari empat pasukan. Yakni, satu komandan Belanda dan satu ornas (tangan kanan Belanda dari unsur rakyat). Dengan demikian, tarian yang tampil di depan orang-orang Belanda itu dianggap sebagai hiburan. Padahal, penampilan tersebut sarat makna atas ketidaksenangan rakyat terhadap Belanda.

”Mereka hanya melihat penampilan lucunya, padahal ada pesan yang disampaikan. Terutama pemimpin ornas yang saat itu menjadi pemberontak yang berpura-pura baik di depan Belanda,” ungkapnya.

Seiring berkembangnya waktu, pada 2001 tari ronding berhasil dirubah olehnya menjadi tari lepas. Hanya, sifat tari yang memiliki unsur menghibur tidak dihilangkan. ”Pakaian tari Ronding itu khas, seperti baju, odheng, gongseng, penggunaan kaos kaki, sapu tangannya itu semua menggambarkan pakaian pasukan penjajah. Ada makna filosofisnya,” ungkapnya.

Ciri khas pada tari itu adalah hentakan kaki. Gerakan yang mendominasi pada tarian tersebut adalah hentakan kaki. ”Hentakan kaki itu menggambarkan prajurit yang semangat, lincah, dan tegas,” tuturnya.

Pria yang juga menjadi Duta Seni Indonesia itu berharap, tari tersebut masuk warisan budaya tak benda (WBTB) seperti tari topeng ghetta’. Sebab, munculnya tarian itu bersamaan, tetapi memiliki nilai filosofis berbeda.

”Saya akan bertekad mengusulkan tari ini sebagai warisan budaya tak benda, bukan hanya tari topeng ghetta’ yang menjadi khas Pamekasan, tapi juga tari ronding,” terangnya. (*/pen)

Editor : Abdul Basri
#penjajahan belanda #seni tradisional #Tari Ronding