Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Menyaksikan Kontes Sape Sono’ di Lapangan Mandala, Desa Batukerbuy, Pasean, Pamekasan

Abdul Basri • Minggu, 27 Agustus 2023 | 03:25 WIB

 

WARISAN BUDAYA: Warga menyiapkan sape sono’ sebelum kontes dimulai di Lapangan Mandala, Desa Batukerbuy, Kecamatan Pasean, Pamekasan. (AYU LATIFAH/JPRM)
WARISAN BUDAYA: Warga menyiapkan sape sono’ sebelum kontes dimulai di Lapangan Mandala, Desa Batukerbuy, Kecamatan Pasean, Pamekasan. (AYU LATIFAH/JPRM)

Madura terkenal dengan kesenian karapan sapi. Tapi, di sisi lain, ada kesenian lain yang tidak kalah menarik. Yakni, kontes sape sono’.

AYU LATIFAH, Pamekasan, RadarMadura.id

MUSIK saronen seakan membius ratusan pasang telinga masyarakat Desa Batukerbuy, Kecamatan Pasean, Pamekasan, Sabtu (26/8). Irama khas musik tradisional Madura itu seakan mengomando langkah kaki menuju tempat kontes sape sono’.

Lenggak-lenggok si pemain musik dengan pakaian penuh warna kontras menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat menyaksikan kontes. Bahkan, terik mentari yang begitu menyengat tidak menyurutkan masyarakat berkumpul di lokasi pertunjukan.

Tenda hijau kombinasi kuning berjejer rapi mengelilingi lapangan. Sepasang sapi lengkap dengan aksesori mewah di bahunya berdiri tegap mengisi kolong-kolong tenda. Sapi yang berpenampilan bak pengantin itu menunggu giliran tampil.

Kontes sape sono’ itu digelar oleh Paguyuban Putri Mandala dengan mengundang peserta se-Madura. Berbeda dengan karapan sapi yang mengadu kecepatan, kontes ini melihat keindahan langkah hewan dengan nama latin bos taurus itu.

Marta’i, perwakilan Paguyuban Putri Mandala mengatakan, sape sono’ bukan lomba. Tapi, festival yang tujuan utamanya adalah menjalin silaturahmi antar pemilik sapi. ”Tidak diperlombakan, hanya kontes adu kecantikan dan keindahan sapi. Tujuan utamanya untuk silaturahmi,” katanya.

Sebanyak 115 pasang sapi dari tiga kabupaten yang mengikuti festival tersebut. Yakni, dari Pamekasan, Sumenep, dan Sampang. Mereka bersilaturahmi sekaligus mempersiapkan event keresidenan sape sono’ yang akan digelar September mendatang.

”Hanya tiga kabupaten yang ikut. Selanjutnya, akan dipilih sekitar 36–60 pasang sapi untuk tampil di event keresidenan,” terangnya.

Penilaian dimulai sejak sapi masuk arena lapangan. Panjang arena sekitar 50 meter. ”Penilaiannya mulai dari cara sapi berjalan, keselarasan langkah, tubuh sapi harus sejajar dan tidak boleh melebihi garis pembatas. Ketika lewat dari garis, skor nilainya minus lima karena dianggap terjadi pelanggaran,” katanya.

Sapi dihiasi berbagai aksesori. Di antaranya, pangonong atau kayu berhias yang menghubungkan dua pasang sapi serta hiasan lainnya.

”Sapi itu diiringi musik saronen untuk menghibur warga yang menyaksikan kontes itu. Kemudian, di garis finish ada sinden yang nantinya juga bertugas memberikan hadiah,” katanya.

Kadi, salah satu pemilik sapi mengaku kerap mengikuti festival. Bahkan, sapi miliknya tidak jarang mendapat penghargaan. ”Alhamdulillah, sapi saya pernah juara,” terangnya.

Berkat prestasi itu, sapi milik Kadi sempat ditawar dengan harga Rp 200 juta. Prestasi tersebut bukan diperoleh dengan cara mudah. Tapi, butuh perawatan intens yang harus dilakukan.

”Saya ingin sapi saya jadi yang terbaik. Untuk aksesorinya saja, saya sudah mengeluarkan modal hingga Rp 10 juta. Biaya perawatan setiap harinya mencapai ratusan ribu rupiah. Tidak apa-apa mengeluarkan modal banyak demi hobi dan pelestarian budaya Madura,” pungkansya. (*/pen)

Editor : Abdul Basri
#musik saronen #musik tradisional Madura #Sapi Madura #sape sono