Madura memiliki populasi sapi yang sangat tinggi. Bahkan, salah satu pulau di Sumenep, yakni Pulau Sapudi, pernah dinobatkan sebagai kawasan sapi terpadat di dunia.
BERBICARA Pulau Sapudi, selalu erat kaitannya dengan sapi. Pulau dengan dua kecamatan itu memiliki potensi peternakan sapi yang sangat tinggi. Hampir semua penduduk memelihara hewan dengan nama latin bos taurus itu.
Setiap bulan, sapi asal Sapudi dijual ke sejumlah daerah di Jawa dan luar Jawa. Seperti Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan hingga Bangka Belitung. Sayangnya, penjualan hewan ternak itu tidak diimbangi sarana yang memadai.
Sampai saat ini, belum ada satu pun pelabuhan khusus hewan ternak di Madura. Akibatnya, sapi yang hendak diangkut melalui jalur laut, terlebih dahulu harus diceburkan ke dalam laut lalu ditarik menuju kapal.
Sekretaris Desa Prambanan, Kecamatan Gayam, Amuriyanto mengatakan, pengiriman sapi terkendala sarana pelabuhan. Masyarakat yang hendak mengirim sapi ke luar pulau harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menyewa perahu pengangkut sapi menuju kapal.
Jika tidak ingin mengeluarkan biaya tambahan, warga terpaksa menceburkan sapinya ke laut kemudian ditarik menuju kapal sandar. Cara tersebut puluhan tahun dilakukan ketika hendak mengirim sapi ke luar daerah.
”Kalau berbicara potensi, tentu sangat banyak, tapi pelabuhannya yang tidak ada. Kalau masyarakat membangun sendiri pelabuhan tentu tidak mampu, harus pemerintah yang turun tangan,” katanya.
Dengan demikian, diharapkan peran pemerintah untuk membangun sarana penunjang transportasi laut itu. Dengan adanya pelabuhan khusus ternak, diyakini akan mampu mendongkrak perekonomian masyarakat Madura yang mayoritas peternak sapi.
Amuriyanto menyampaikan, sapi di Pulau Sapudi masih asli Madura. Sekalipun ada beberapa warga yang mengawinkan dengan sapi Jawa, persentasenya sangat kecil. Masyarakat di pulau titisan Adi Poday itu komitmen mempertahankan keaslian sapi di daerah tersebut.
Meski diakui, ukuran sapi Sapudi lebih kecil dibanding sapi Jawa. Kondisi tersebut yang membuat sebagian kecil masyarakat mengawinkan silang sapi yang dimiliki. ”Di Pulau Raas, ada sebagian masyarakat memelihara sapi Jawa, kemudian dikawinkan dengan sapi di sini,” terangnya.
Kabid Prasarana Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Perhubungan (Disperkimhub) Sumenep Dadang Dedi Iskandar mengakui belum ada pelabuhan khusus hewan ternak. Dengan demikian, masyarakat yang hendak mengirim sapi melalui jalur laut biasanya menggunakan pelabuhan tradisional.
Pembangunan pelabuhan khusus ternak menjadi atensi pemerintah. Jika memungkinkan, pelabuhan itu akan segera dibangun untuk menunjang pengiriman hewan ternak. ”Nanti pasti akan disediakan (pelabuhan) khusus pengiriman ternak,” ucapnya.
Kepala Kesyahbandaran Unit Penggarab Pelabuhan (UPP) Kelas III Sapudi Hidayat mengatakan, pengiriman sapi dari Pulau Sapudi menggunakan kapal barang. Yakni, kapal yang biasa mengangkut kayu.
Setiap kapal yang hendak mengirim sapi, harus mengurus izin. Tujuannya, untuk memastikan keselamatan selama pelayaran. ”Sapi yang akan dikirim ke luar daerah juga harus memiliki surat dari balai karantina hewan berkaitan dengan kondisi kesehatan,” terangnya.
Tujuan pengiriman sapi paling banyak ke Situbondo. Sekali kirim, bisa mencapai 50–60 ekor.
Kepala KUPP Kelas III Telaga Biru Edi Kuswanto mengakui fasilitas pelabuhan yang dikelola belum memadai. Sapi yang akan dikirim keluar daerah tidak bisa langsung dimasukkan ke kapal pengangkut karena tidak bisa sandar di pelabuhan.
”Sebelum sapi dimasukkan ke kapal pengangkut, terlebih dahulu harus diangkut menggunakan perahu tambangan dengan kapasitas 20–25 ekor sapi,” katanya.
Edi mengaku memberi saran kepada pengusaha agar mengirim sapi melalui Pelabuhan Pasean. Sebab, fasilitas di pelabuhan itu lebih memadai. Tetapi, masyarakat tetap mengirim sapi melalui Pelabuhan Telaga Biru.
”Terus terang sebenarnya kami ingin menyelesaikan masalah fasilitas pelabuhan (faspel) itu. Cuma persoalannya, Pelabuhan Telaga Biru ini sudah diajukan oleh Pemprov Jatim untuk diambil alih,” terangnya.
Sapi yang dikirim melalui pelabuhan tersebut tujuannya beragam. Yakni, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Bangka Belitung. Satu kapal bisa mengangkut 200–300 ekor sapi. ”Dalam satu bulan ada delapan sampai sembilan kapal pengangkut. Pada momentum Idul Adha, bisa sampai 15 kapal,” katanya.
Sebelum berlayar, pemilik sapi harus mengurus sertifikat kesehatan hewan yang dikeluarkan balai karantina. Tanpa sertifikat itu, pelayaran tidak diizinkan.
Kondisi serupa terjadi di Bumi Gerbang Salam. Banyaknya populasi sapi tidak diimbangi dengan sarana transportasi laut. Sebenarnya, terdapat pelabuhan di Desa Pagagan, Kecamatan Pademawu, yang biasa digunakan mengirim sapi ke Jawa.
Namun, Sekretaris Dishub Pamekasan Nurul Horiyanto mengeklaim sudah lama tidak ada pengiriman sapi dari pelabuhan itu. ”Sudah lama gak ada pengiriman,” terangnya. (iqb/jup/afg/pen)
Editor : Abdul Basri