Tempat wisata Puncak Lanjari baru digarap awal 2022. Penggarapan wisata paralayang pertama di Pulau Garam ini dilakukan oleh masyarakat. Yakni, melalui kelompok sadar wisata (pokdarwis) dan badan usaha milik desa (BUMDes).
Penggarapan wisata mulai dilakukan secara masif setelah spot itu dinyatakan berhasil uji coba. Dengan demikian, pokdarwis dan BUMDes Soddara segera menyelesaikan penyempurnaan area spot penerbangan atlet tersebut.
Pada akhir Mei 2022, Pucak Lanjari berhasil dijadikan tempat festival paralayang dalam ajang Bupati Sumenep Cup. Setahun kemudian, awal Juni 2023, Puncak Lanjari dipercaya oleh Pengurus Provinsi (Pengprov) Cabor Paralayang Jatim untuk dijadikan spot Liga Jatim Seri 1.
Bahkan pada 2024, Puncak Lanjari direncanakan menjadi spot paralayang event nasional. ”Sebenarnya, itu memang menjadi target kami. Apalagi, sudah mendapat dukungan pemerintah kabupaten (pemkab),” ucap Sekretaris Desa (Sekdes) Soddara Samsul Arifin.
Pengprov Cabor Paralayang Jatim juga menyatakan, Puncak Lanjari sudah layak menjadi spot kejuaraan nasional. Jadi, tidak menutup kemungkinan tahun yang akan datang segera terlaksana.
Spot paralayang Puncak Lanjari memang cukup bagus. Posisinya berada di ketinggian, lahannya luas, dan jauh dari pepohonan. Hanya, akses menuju wisata itu masih banyak yang rusak. Akibatnya, kendaraan pengunjung cukup kesulitan untuk sampai ke lokasi. Itu masih memerlukan perbaikan.
”Kalau anggaran desa tidak mungkin mampu untuk memperbaiki jalan. Kami harap, pemkab bisa memberikan perhatian atau bantuan,” tutur pria yang akrab disapa Encung itu.
Jawa Pos Radar Madura (JPRM) turut menyaksikan aksi atlet Paralayang Liga Jatim Seri 1 pada Minggu (4/6). JPRM menyaksikan aktivitas atlet dari dekat di sekitar spot penerbangan. Sepertinya, penerbangan paralayang tersebut cukup sulit untuk bisa melayang dengan stabil.
Salah satu rintangannya, kondisi angin kurang stabil. Seketika kencang, seketika pula pelan. Jadi, atlet yang akan terbang harus bersabar menunggu hingga kondisi angin benar-benar stabil.
Terutama, bagi atlet pemula alias junior. Sebab, pemahaman mereka terhadap teknik pengendalian parasut belum begitu sempurna. Dengan kondisi angin yang kurang stabil, atlet sangat kesulitan untuk terbang.
”Spotnya sangat luas. Berbeda dengan beberapa tempat lain yang mayoritas sempit,” tutur atlet asal Lumajang Setianingrum Dwi Harti. Remaja 15 tahun itu mengatakan, spot paralayang di Puncak Lanjari memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah kondisi angin. Namun, arena spot dianggap sudah cukup bagus.
Ningrum menjelaskan, kondisi angin di Puncak Lanjari cukup kencang. Untuk itu, dia sulit mengendalikan parasut saat mulai terbang. Seketika kemudian, kecepatan angin tiba-tiba berubah pelan. ”Jika kondisi angin tidak stabil, cukup sulit untuk mengarahkan karena terseret ke berbagai arah,” tuturnya.
Pengalaman Ningrum menjadi atlet paralayang baru satu setengah tahun. Namun, sudah cukup banyak kejuaraan yang diikuti. Mulai dari tingkat kabupaten hingga provinsi. ”Dari beberapa spot paralayang yang pernah saya coba, hanya di sini yang anginnya cukup kencang. Makanya, ini menjadi tantangan baru untuk saya,” paparnya.
Pelatih asal Malang Samsul Hadi mengatakan, sebenarnya kondisi angin di Puncak Lanjari masih pelan. Namun jika diukur dengan kemampuan atlet junior, angin memang terasa kencang. Menurut dia, itu terjadi karena kemampuan atlet belum begitu sempurna.
”Kalau bagi atlet senior, kondisi angin seperti ini sudah langsung terbang. Sebab, mereka mampu memperkirakan kecepatan angin,” ujarnya.
Atlet yang mampu memperkirakan arah dan kecepatan angin sudah bisa memutuskan waktu untuk terbang atau tidak. Bahkan, teknik yang harus dilakukan dengan kondisi angin tersebut juga telah dipahami secara mendalam.
”Sebenarnya, di Puncak Lanjari ini saya yang meminta untuk dibuat spot paralayang. Makanya, saya paham betul, spot ini layak atau tidak,” katanya.
Beberapa tahun lalu Samsul diminta oleh salah seorang temannya untuk menyurvei spot paralayang di Puncak Lanjari. Kemudian, dia bertemu Encung selaku Sekdes Soddara. Waktu itu, dia tidak tahu arah mata angin di bukit itu.
”Saya kira, sisi utara ini adalah arah barat. Karena itu, saat dilakukan uji coba selalu gagal. Sebab, prediksi arah angin yang saya perhitungkan salah arah,” kenang Samsul.
Setelah berulang kali ke Sumenep untuk melakukan survei, uji coba baru berhasil pada akhir 2021. Tahun berikutnya mulai dilaksanakan festival paralayang di Puncak Lanjari. ”Spot ini sudah cukup bagus. Hanya, nanti ada yang perlu disempurnakan. Itu sudah saya bicarakan dengan Sekdes,” jelasnya. (bus/luq) Editor : Abdul Basri