”Saat itu, saya ikut Kapal Sabuk Nusantara 91. Ongkosnya, Rp 50 ribu dengan rute Masalembu–Surabaya,” tutur Miskan menceritakan perjalanannya untuk mengikuti pelatihan guru master di Surabaya pekan lalu.
Ach. Miskan merupakan guru PNS di SDN Masalima 2, Kecamatan Masalembu, Sumenep. Dia mengajar sebagai guru kelas sejak 2009. Miskan mengikuti pelatihan guru master revitalisasi bahasa daerah Madura 2023 di Surabaya pada 22–26 Mei. ”Dari Masalembu ada dua guru yang terpilih sebagai peserta pelatihan ini,” ungkapnya Selasa (30/5). Selain Miskan, ada Maya Khairal Umami dari SDN Sukajeruk 1.
Sebagai orang pulau, jalur laut menjadi satu-satunya pilihan dalam bepergian. Miskan menuju Surabaya ikut kapal perintis karena ongkos lebih murah dibandingkan kapal ekspres. Apalagi memang belum ada kapal ekspres yang masuk ke Pulau Masalembu.
Dia berangkat Jumat (19/5) pukul 18.00. Tiba di Surabaya pada Sabtu (20/5) pukul 10.00 setelah 16 jam mengarungi lautan. Setelah tiba di Surabaya, Miskan langsung menghubungi anaknya yang sedang kuliah di Kota Pahlawan. Malam Minggu sampai malam Senin menginap di kosan anak karena pembukaan pelatihan masih Senin (22/5). Hal itu dilakukan agar lebih mengirit biaya.
Miskan bangga bisa mengikuti pelatihan ini. Sebab, dia terpilih sebagai peserta mewakili ratusan guru PNS asal Masalembu. Dengan pelatihan itu pula, dia memiliki kesempatan untuk banyak belajar. Terutama mengenai ilmu bahasa Madura.
Pria kelahiran 2 April 1974 itu mengaku banyak pengetahuan tentang meteri pembelajaran bahasa Madura yang belum dipahami. Pelatihan ini dimanfaatkan untuk menimba banyak wawasan. ”Saya sama sekali tidak paham tentang materi nembang alias ngejung. Sedangkan dalam pelatihan tersebut, saya bisa mendapat banyak pengetahuan tentang nembang,” jelas warga Dusun Raas, RT 3, RW 1, Desa Masalima, Masalembu, itu.
Peserta pelatihan mendapat tujuh materi. Meliputi materi mendongeng (Avan Fathurrahman), carakan (Isya Sayunani), pidato (Moh. Hafid Effendy), puisi (Lukman Hakim AG), careta pandha’ (Mudhar CH.), lawakan tunggal (Habibur Rohman), dan nembang (Tola’adi). Semua materi sangat berarti bagi alumnus PGSD Universitas PGRI Adi Buana Surabaya 2012–2015 itu. Setelah mengikuti pelatihan, dirinya paham macam-macam lagu tembang Madura. Sehingga, dia memiliki oleh-oleh untuk materi pembelajaran bahasa Madura.
Miskan juga tertarik pada materi dongeng Madura. Selama ini, Miskan mempraktikkan dongeng Madura hanya membacakan secara datar. Ternyata, kata dia, praktik mendongeng perlu teknik tertentu supaya lebih menarik perhatian peserta didik.
”Mendongeng itu ternyata harus bisa menirukan berbagai macam suara. Seperti suara hewan dan kakek-kakek. Materi itu sangat menarik dan unik bagi saya,” papar pria yang menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengah di Masalembu itu.
Dia juga memiliki pengalaman berkesan saat mengikuti materi puisi Madura. Pada hari terakhir dia sempat diminta untuk praktik menulis puisi Madura oleh Lukman Hakim AG selaku maestro. Puisi yang ditulis kemudian dibacakan di depan peserta. ”Saya diberi buku puisi Madura karya Mas Lukman Hakim. Pengalaman tersebut menjadi kesan tersendiri bagi saya,” tuturnya.
Semua materi yang dia dapatkan dalam pelatihan akan dikembangkan. Bahkan, dia juga akan membagikan kepada guru lain. Supaya, penyampaian materi pelajaran bahasa Madura di Masalembu bisa terus berkembang.
”Hasil materi akan dikenalkan kepada anak didik saya di kelas. Bahkan, saya juga akan berkoordinasi dengan guru dan pengawas. Supaya, hasil pelatihan ini bisa ditindaklanjuti menjadi semakin luas,” katanya.
Di Masalembu terdapat tiga bahasa yang biasa digunakan. Yakni, bahasa Bugis yang digunakan oleh masyarakat asal Makassar. Bahasa Mandar dipakai oleh masyarakat asal Sulawesi Barat. Bahasa Madura yang dipakai oleh suku warga asli Masalembu.
Dari tiga bahasa tersebut, yang mendominasi bahasa Madura. Pelajaran bahasa Madura di Masalembu sudah dijadikan materi muatan lokal. Sehingga, wajib diajarkan kepada siswa kelas I–VI SD.
Penetapan pelajaran bahasa Madura sebagai materi muatan lokal sudah berlangsung lama. Bahkan, nilai hasil ujian dari pelajaran tersebut dicantumkan langsung dalam ijazah tanda kelulusan. Meski begitu, banyak kendala dalam pembelajaran bahasa Madura. Sebagai guru kelas VI, Miskan harus menyampaikan materi dari awal. Dari materi carakan. Sebab, guru di kelas lain tidak ada yang paham.
”Saya berharap, balai bahasa terus melaksanakan pelatihan seperti ini. Bahkan, kalau perlu turun langsung ke Masalembu. Supaya, bisa mengetahui langsung kondisi di sini,” harapnya.
Pelatihan guru master ini merupakan program revitalisasi bahasa daerah 2023. Pelatihan melibatkan 240 guru bahasa Madura dari Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Tiap kabupaten 30 guru SD dan 30 guru SMP. Pelatihan digelar secara bergelombang sesuai daerah masing-masing.
Kepala Balai Bahasa Jawa Timur Umi Kulsum menjelaskan, selain bahasa Madura, tahun ini Jawa Timur juga merevitalisasi bahasa Jawa dialek Using. Dia berharap guru master mengimbaskan materi pelatihan kepada siswa dan guru di lingkungan kerja masing-masing.
Berbeda dengan rute saat berangkat menuju Surabaya, usai pelatihan, Miskan pulang ke kampung halaman melalui rute Kalianget–Masalembu. Dia harus menyusuri jalur darat Madura untuk sampai Kalianget. Sebab, jadwal pemberangkatan kapal perintis menuju Masalembu Sabtu (27/5) hanya tersedia di Pelabuhan Kalianget. Kapal meninggalkan pelabuhan pukul 08.00. Miskan tiba di Masalembu pada pukul 20.30 atau 12,5 jam pelayaran. (bus/luq) Editor : Abdul Basri