Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Menulis seperti Bernapas yang Tiada Henti

Abdul Basri • Jumat, 13 Januari 2023 | 00:40 WIB
MULTITALENTA: dr. Ita Fajria Tamim, dokter muda yang hobi menulis. (NYAI dr. ITA FAJRIA TAMIM, M.Kes UNTUK Radarmadura.id)
MULTITALENTA: dr. Ita Fajria Tamim, dokter muda yang hobi menulis. (NYAI dr. ITA FAJRIA TAMIM, M.Kes UNTUK Radarmadura.id)
Ita Fajria Tamim adalah sosok perempuan yang menginspirasi. Selain sebagai pengasuh di salah satu pesantren, dia juga menjalani profesi sebagai dokter. Nyai muda asal Jombang ini juga seorang penulis.

LAILIYATUN NURIYAH, Pamekasan Jawa Pos Radar Madura

SIKAPNYA lembut, tapi tegas. Memiliki dedikasi yang tinggi untuk kesehatan sekaligus pendidikan. Selalu menjaga marwahnya sebagai seorang perempuan muslim. Itulah sedikit penggambaran dari Nyai dr. Ita Fajria Tamim, M.Kes.

Berada di lingkungan pesantren tidak menghalangi dokter Ita dalam berekspresi. Justru, itu dijadikan jembatan untuk mewujudkan cita-citanya. Baik sebagai penulis maupun sebagai seorang dokter.

Pilihannya menjadi seorang dokter merupakan saran dari sang ayah saat masih duduk di bangku SMA. Tujuannya, agar bisa membantu masyarakat sekitar rumah, termasuk kerabat yang membutuhkan layanan kesehatan.

Sementara kebiasaannya menulis sudah dilakukan sejak kecil. Menurut dia, menulis itu adalah napas. Jika tidak menulis, hidupnya akan terasa hampa dan tidak berarti. Saat masih kuliah, dia pernah menjadi jurnalis kampus.

Dokter Ita intens menulis sejak usia sekolah. Itu berawal dari kebiasaannya menulis diary. Hingga saat ini, sudah ada dua buku yang berhasil diselesaikan. Pada 2021, buku dengan tebal 180 halaman berhasil diselesaikan dalam waktu dua bulan.

Photo
Photo
EDUKASI: Nyai dr. Ita Fajria Tamim, M.Kes. ketika mengisi ngaji kesehatan pada Pekan Ngaji 8 bersama santriwati Muba Putri Pamekasan di musala putri, Selasa (10/1) malam. (MUBA PUTRI UNTUK Radarmadura.id)

Kemudian, pada 2022, dia kembali menyelesaikan satu buku yang berisi tentang status-status di akun Instagramnya. ”Kalau buku ketiga ini novel, insyaallah akan terbit pada pertengahan tahun ini, mohon doanya saja,” tuturnya.

Di tengah kesibukannya menjalani beberapa profesi, aktivitas menulis itu tetap dia tekuni, Biasanya dilakukan ketika waktu senggang. ”Selain menulis buku, saya juga menulis esai di beberapa media online, seperti detikcom dan geotimes,” ungkap penerima beasiswa short course ’Life of Muslim in Germany’ pada 2018 lalu itu. Anak perempuan pertama dari lima bersaudara ini memang berada di lingkungan keluarga yang lebih menomorsatukan pendidikan. Selain dokter Ita, adik kedua dan keempat sama-sama memilih profesi sebagai dokter, meskipun kuliah di kampus yang berbeda. Dokter Ita di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bali. Sementara kedua adiknya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI).

Pada 2005, dr Ita pernah kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan prodi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol). Kemudian, pada 2006 pindah haluan ke Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bali saat ingat saran sang ayah. Dia berhasil menyelesaikan studinya pada 2012.

Dia bercerita, saat sedang menimba ilmu, ada sosok lelaki yang mempunyai niat baik untuk menikahinya. Yakni, KH Muhammad bin Muafi. Pria asal Madura tersebut sudah mengikuti dirinya di Facebook. Kedua orang tuanya, KH Tamim Romly, S.H., M.Si. dan Ny. Hj. Muflihah Shohib sempat khawatir bakal menghambat studinya.

Akan tetapi, dr Ita dan KH Muhammad bin Muafi berhasil meyakinkan kedua orang tuanya. Sehingga, keduanya mendapat restu untuk menikah. Bahkan, sebelum menyandang gelar dokter, dr. Ita sudah menyandang status sebagai istri pengasuh Pondok Pesantren Nazhatut Thullab Prajjan, Camplong, Sampang.

Dokter Ita mengungkapkan, sangat bersyukur mempunyai teman hidup yang memiliki tujuan yang sama. Salah satunya, untuk tumbuh dan berkembang bersama dalam mewujudkan impian. Menurut dia, lingkungan keluarga suaminya juga sangat mendukungnya.

”Alhamdulillah sekali memiliki suami dan juga keluarga yang open minded, sehingga tidak ada batasan-batasan perempuan untuk bermimpi asalkan paham akan hak dan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu,” jelasnya.

Perempuan asal Jombang tersebut memutuskan unutk membuka klinik rawat inap yang tidak jauh dari Ponpes Nazhatut Thullab Sampang. Banyak warga yang mendatangi klinik itu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. ”Semoga ke depannya bisa mengembangkan klinik ke beberapa lokasi, terutama di perifer,” ungkapnya.

Salah satu delegasi dalam Australia-Indonesia Muslim Exchange Program (AIMEP) di 2021 itu mengungkapkan, banyak hal positif yang dia dapatkan ketika menginjak kaki di Madura. Meskipun, di awal-awal dia bingung akan memulainya dari mana.

Bersama suami tercinta, banyak hal yang akan dilakukan. Salah satunya mengembangkan pesantren, membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat sekitar dan sebagainya.

”Jangan pernah takut bermimpi, bukan karena kita perempuan tidak boleh bermimpi. Akan tetapi, karena kita perempuan harus mempunyai dan mewujudkan mimpi itu, bukan karena unutk menyaingi dan menggantikan laki-laki,” tandasnya. (*/han) Editor : Abdul Basri
#muba #menulis #sosok perempuan #menginspirasi #nyai ita