Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Berkunjung ke Makam Syekh Ali Akbar Syamsul Arifin

Abdul Basri • Selasa, 28 Desember 2021 | 06:39 WIB
berkunjung-ke-makam-syekh-ali-akbar-syamsul-arifin
berkunjung-ke-makam-syekh-ali-akbar-syamsul-arifin

Jika mendengar nama Desa Pasongsongan, mungkin yang terlintas di benak adalah Buju’ Panaongan. Sebab, sejak ditemukan 1999, Asta Panaongan langsung dijadikan ikon Pasongsongan. Padahal, ada Syekh Ali Akbar Syamsul Arifin yang berjasa besar  menyebarkan ajaran Islam di pesisir utara Kabupaten Sumenep.


MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura


SELAMA ini, memang tidak banyak literatur yang mengisahkan keberadaan dan andil Syekh Ali Akbar di Kabupaten Sumenep. Bahkan, di babad Sumenep sekalipun, hanya selintas diceritakan peran waliyullah tersebut. Syekh Ali Akbar, konon, merupakan salah seorang santri Kanjeng Sunan Ampel, yang kemudian ditugaskan berdakwah di pesisir utara Madura pada abad ke-15.


Hal itu dibenarkan Yant Kaiy, penulis yang punya minat melakukan penelitian sejarah desa di Sumenep. Dia menuturkan, banyak tokoh sejarah yang menyebutkan, Pasongsongan memang menjadi salah satu lokasi yang kerap didatangi pembesar-pembesar kerajaan Makassar. Hal itu masuk akal. Sebab, Pasongsongan (selain Legung, Ambunten, dan Pasean) kerap disinggahi orang Tionghoa.


Bahkan, kata Yant Kaiy, konon, Raja Makassar Sultan Hasanuddin sempat memiliki hubungan diplomatik dengan Syekh Ali Akbar. ”Ada juga yang bilang, Sultan Hasanuddin pernah memakai tongkat pusaka milik Syekh Ali Akbar dalam satu peperangan dengan tentara kolonial,” terangnya.


Makam Syekh Ali Akbar terletak di Dusun Pakotan, Desa Pasongsongan, Kecamatan Pasongsongan. Tepat di sisi barat jembatan sungai Angsono. Tiap Kamis (malam Jumat), makam Syekh Ali Akbar selalu dikunjungi warga sekitar. Tapi, keagungan Syekh Ali Akbar seolah tertutupi kebesaran Buju’ Panaongan.


Yant Kaiy juga menyebutkan, konon, penamaan Pasongsongan didasarkan pada kisah Syekh Ali Akbar semasa hidupnya. Pasongsongan diyakini berasal dari kata pasong yang berarti payung. Penamaan itu didasarkan pada kisah salah seorang raja Sumenep yang hendak sowan ke kediaman Syekh Ali Akbar. Raja tersebut dikawal ketat oleh para prajuritnya.


”Biasalah, kan raja, pasti dikawal oleh prajurit dan lengkap dengan senjata. Termasuk payung agar raja terhindar dari sengatan matahari,” kata lelaki yang beralamat di Dusun Sempong, Desa/Kecamatan Pasongsongan, itu.


Masyarakat setempat secara spontan menyebut pasong. Kemudian, sang raja memutuskan agar daerah tersebut diberi nama Pasongsongan. ”Ini hanya kisah, belum diketahui secara pasti, tapi mungkin mengandung nilai filosofis tersendiri,” tegasnya.


Berdasar satu ilustrasi, Yant Kaiy menyebutkan bahwa payung yang dimaksud adalah daerah tersebut diharapkan bisa memberikan perlindungan bagi masyarakat. Kata Yant Kaiy, Pasongsongan merupakan daerah aman. Terutama dari tindak kejahatan. ”Wajar kalau di Pasongsongan banyak pendatang saat itu. Apalagi, menjadi salah satu pelabuhan di pesisir utara Madura,” katanya.


Yant Kaiy menambahkan, tonggak sejarah Pasongsongan tidak boleh lepas dari keberadaan Syekh Ali Akbar Syamsul Arifin. Keberadaannya tidak terpisahkan dengan masyarakat setempat. ”Dedikasinya untuk masyarakat Pasongsongan dan Sumenep sangat besar. Bahkan, kebesaran Pasongsongan berkat kerja samanya dengan Bindara Saod,” ungkap Yant Kaiy.


Konon, sebagai raja ke-29 di Keraton Sumenep, Bindara Saod ingin mengangkat Syekh Ali Akbar sebagai salah satu penasihat kerjaan. Baik yang berurusan dengan agama, diplomasi, maupun sikap politik. Sebab, Pasongsongan menjadi tempat bersandar orang-orang luar negeri.


Akan tetapi, hal itu ditolaknya dengan halus. Sebab, Syekh Ali Akbar khawatir lupa dengan tugasnya membangun peradaban Islam di pesisir. Dia ingin tetap hidup sederhana berdampingan dengan masyarakat. Tetapi jika diminta oleh pihak keraton, dia tetap memberikan pendapat. ”Syekh Ali Akbar mengemban tugas dakwah, bukan politik,” lanjutnya.


Dia menambahkan, penyebaran ajaran Islam saat itu kian luas berkat kegigihan Syekh Ali Akbar. Ajaran agama Islam yang diusungnya bersandar pada cara-cara yang dilakukan gurunya, Kanjeng Sunan Ampel Surabaya. ”Konon, beliau sangat bijaksana dalam berdakwah, tak jauh berbeda dengan Sunan Ampel,” pungkas lelaki yang juga bergiat di Lesbumi MWCNU Pasongsongan ini.

Editor : Abdul Basri