Membacalah untuk mengenal dunia dan menulislah untuk dikenal dunia. Pepatah itu tidak pernah usang dimakan waktu dan selalu menjadi motivasi bagi kalangan akademisi. Bahkan, hal itu nyata dalam hidup seorang penulis buku bernama Mohamad Suhaidi, warga Perumahan Agung Regency, Desa Babbalan, Kecamatan Batuan, Sumenep.
MOH. BUSRI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura
SUHAIDI adalah salah seorang penulis asal Sumenep yang lahir di lingkungan keluarga petani pada 27 Juni 1982. Dia memulai karier di dunia kepenulisan sejak 1995. Tepatnya saat nyantri di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Sumenep.
Kehidupan di pesantren, menurut dia, sangat luar biasa. Sebab, di lingkungan pesantren itulah dirinya ditempa sehingga sekarang berhasil menjadi penulis populer di Kota Keris.
Karya pertama yang ditulisnya adalah puisi. Setelah enam bulan menyandang gelar santri, beberapa puisinya berhasil terbit di koran Jawa Pos. Saat itu, Suhaidi masih duduk bangku kelas I madrasah tsanawiah (MTs).
”Karya tulis yang saya kirim terbit, dulu mendapat honor Rp 15 ribu. Sejak itu karier menulis saya dimulai. Berawal dari nulis puisi, setelah itu beralih ke cerpen, esai, hingga artikel. Semuanya saya coba,” ungkapnya kemarin (13/12).
Suhaidi menempa bakat menulisnya secara otodidak di Pondok Pesantren An-Nuqayah Daerah Lubangsa Selatan, Guluk-Guluk. Di sisi lain, dia terinspirasi kepada para kiai di pondok pesantren yang juga tekun menulis. Bahkan, aktivitasnya dalam kepenulisan sempat mendapat pujian dari gurunya.
”Suatu ketika saya pernah ditanya dapat honor berapa dari menulis. Setelah saya beri tahu, beliau menampakkan senyumnya dan hal tersebut membuat saya semangat. Sebab bagi saya, senyum kiai merupakan motivasi kuat yang seakan terus menyuruh saya untuk menulis,” ujarnya.
Sampai saat ini, kecintaannya pada dunia kepenulisan tidak pernah luntur. Menurut Suhaidi, segala kebutuhan hidup terpenuhi melalui hasil menulis. Baik berupa karya penelitian ataupun artikel dan esai hingga menjadi editor penerbitan buku.
”Saya kuliah S-1 sampai S-2, semua biayanya bersumber dari hasil menulis. Sampai saat ini pun, proses S-3 biayanya saya penuhi dari hasil menulis,” jelasnya.
Bagi dia, menulis merupakan sarana utama untuk mendapat rezeki dari Tuhan. Kebutuhan hidupnya seperti rumah, kendaraan, dan makan sebagian besar dari hasil menulis. ”Saat ini saya juga sedang menabung dari hasil menulis untuk biaya umrah atau haji,” ucapnya.
Dunia kepenulisan yang digelutinya dilatarbelakangi dengan inspirasi untuk mengikuti jejak para ulama terdahulu. Terlebih, di tempat dirinya nyantri dulu pengasuh dan keluarganya mayoritas adalah seorang sastrawan dan penulis.
Sejatinya, dia tidak terlalu memperhitungkan upah dalam menulis. Sebab, semua itu sekadar bonus dari proses yang konsisten dilakukan.
Sejak memulai karir kepenulisan, aktivis pendidikan ini telah menerbitkan delapan buku pribadi. Salah satu karya terbarunya yaitu Dekonstruksi Tafsir Gender Al-Qur’an. Merasa belum puas dengan semua itu, saat ini dirinya sedang menggarap dua buku. Pertama adalah kumpulan esai berjudul Kiai Migas di Madura, dan yang kedua yaitu buku bertajuk Wallahu A’lam Bissowab: Percikan Pemikiran di Masa-Masa Dunia Pergerakan.
”Proses saya di dunia kepenulisan mengalami evolusi. Jadi, karena di pesantren para kiai yang saya kagumi adalah sastrawan, maka karya tulis pertama saya puisi. Setelah itu, saya tertarik pada cerpen dan saat ini lebih bergelut di karya tulis berjenis artikel, esai, dan karya ilmiah,” tuturnya.
Menurut Suhaidi, menjadi seorang penulis harus tahu sedikit dari banyak hal dan tahu banyak dari sedikit hal. Maksudnya, sebagai penulis dituntut menguasai banyak pengetahuan, baik dari politik, ekonomi, pendidikan, agama, dan sebagainya. Setelah mengetahui banyak hal tersebut, baru nanti lebih difokuskan pada satu pembahasan.
Berprofesi sebagai seorang penulis tentu memiliki capaian kenikmatan tersendiri. Sedangkan bagi mantan sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep (DPKS) ini, puncak kenikmatan terindah di dunia kepenulisan yaitu jika karyanya mampu memberikan perubahan sosial. Selain itu, menulis dianggap sebagai amal ibadah yang telah diperintahkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an.
”Pada saat kita menulis serta mampu dibaca oleh orang lain dan menjadi bahan pengetahuan, maka di situlah menulis menjadi amal jariah bagi kita. Sampai hari ini, saya terus menulis minimal satu judul artikel setiap hari. Sedangkan per enam bulan sekali saya pasti melakukan penelitian. Sebab, kemampuan menulis harus terus diasah agar tidak tumpul,” pungkasnya.
Editor : Abdul Basri