Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Rapat Paripurna dalam Rangka Memperingati Hari Jadi Ke-752 Sumenep

Abdul Basri • Selasa, 2 November 2021 | 01:48 WIB
rapat-paripurna-dalam-rangka-memperingati-hari-jadi-ke-752-sumenep
rapat-paripurna-dalam-rangka-memperingati-hari-jadi-ke-752-sumenep

Hari jadi membuat jalan sidang paripurna berbeda. Rapat di gedung dewan itu menggunakan bahasa Madura. Bahasa Madura tak boleh luntur dan harus tetap lestari.


MOH. JUNAIDI, Sumenep, Jawa Pos Radar Madura


”LANGKONG dhimin ngereng same-same ngonjugagi poji tor sokkor dha’ Ajunanepon Guste Allah swt, amarga atas tebanan ramat, taufiq sareng hidaya-Epon, badan kaula sadaja bisa apanggi pole dhalemmanna sidang paripurna parengeddan hari jadi Kabupaten Sumenep se kapeng 752.”


Kalimat tersebut disampaikan Ketua DPRD Sumenep Abdul Hamid Ali Munir dalam sidang paripurna di gedung dewan kemarin (31/10). Kalimat pembuka itu diungkapkan setelah menyapa bupati, wakil bupati, forum koordinasi pimpinan daerah (forkopimda), pimpinan DPRD, fraksi, dan alat kelengkapan dewan. Dia juga menyapa sekretaris kabupaten (Sekkab), asisten, kepala organisasi perangkat daerah (OPD), camat serta tokoh agama.


Rapat paripurna itu terasa berbeda dan istimewa karena bahasa yang digunakan tidak seperti sidang biasanya. Penggunaan bahasa daerah itu merupakan salah satu bentuk komitmen untuk melestarikan kekayaan budaya.


Di tengah perkembangan teknologi dan budaya yang semakin terbuka, eksistensi bahasa Madura sebagai bahasa lokal punya tantangan sendiri. Ditambah bahasa asing yang seolah menemukan momentum kepopulerannya.


Meski demikian, bagi masyarakat Madura, bahasa Madura bukan hanya sebagai lingua franca. Tetapi juga sebagai identitas, kultur, dan jati diri. Alih-alih dinggap ketinggalan zaman, kuno, dan terbelakang, justru dengan begitu, semakin menguatkan pandangan bahwa masyarakat Madura selalu berpijak pada lokalitas.


Abdul Hamid Ali Munir menyadari, bahasa Madura sebagai bahasa komunikasi dalam acara-acara besar memang terkesan eksklusif dan sulit. Tapi, jika tidak diterapkan, bukan tidak mungkin, bahasa Madura asing. Terutama saat menggunakan bahasa yang sangat halus atau tingkatan enggi-bunten.


”Hal itu memang sangat sulit,” ujarnya saat diwawancarai pasca sidang paripurna di kantor DPRD Sumenep kemarin (31/10). Karena itu, pada momen Hari Jadi Ke-752 Sumenep ini pihaknya menggelar sidang paripurna menggunakan bahasa Madura.


Menurut politikus asal Kecamatan Rubaru itu, harus dicarikan solusi yang jitu supaya bahasa Madura lestari dan mampu bertahan di tengah gempuran bahasa-bahasa asing yang populer di kalangan remaja. Hamid mengatakan, salah satu solusinya adalah bagaimana bahasa Madura benar-benar diterapkan dalam pendidikan.


”Makanya, saya sangat berharap sekolah-sekolah harus kembali lagi mengajarkan bahasa Madura untuk siswa. Kalau perlu, wajib berbahasa Madura,” tambahnya.


Jika sudah benar-benar dipraktikkan dalam dunia pendidikan, lanjut Hamid, tak perlu lagi cemas dan khawatir akan kepunahan bahasa Madura. Sebab, lanjutnya, jika sudah biasa, pasti akan bisa. ”Nah, ke depannya perlu dilakukan, terutama untuk dinas pendidikan agar mengevaluasi terkait penggunaan bahasa Madura ini,” tegasnya.


di tengah kegembiraan hari jadi, Hamid merasa Kota Keris ini masih berada dalam masa yang sulit. Pandemi tidak hanya menyadarkan keterbatasan manusia. Tapi, juga menghantam semua sektor kehidupan, baik dari ekonomi, budaya, dan tradisi.


”Untuk itu, penting mendorong pemerintah, terutama dalam memulihkan perekonomian Kabupaten Sumenep,” tambahnya.


Hamid mengakui perayaan hari jadi tahun ini tak sesemarak sebelum pandemi melanda. Dulu, kata dia, sebelum ada korona, peringatan hari jadi dimeriahkan dengan berbagai kegiatan. Seperti pertunjukan dan arak-arakan. Kini, semua itu harus ditahan sebelum Covid-19 benar-benar minggat. Salah satunya dengan menggencarkan program vaksinasi.


”Program vaksinasi se kodu teptep ajalan kadi biyasana ta’ kengeng ambu amarga badhana pandemi paneka,” jelas Hamid.


Sidang paripurna ini menitikberatkan cara mengatasi pandemi Covid-19. Sehingga, Sumenep bisa kembali pulih dalam segala bidang. Selain perekonomian dan pendidikan, sektor pertanian, perdagangan, dan yang lain harus bangkit kembali.


Bupati Sumenep Achmad Fauzi mengatakan hal yang sama. Menurutnya, perlu ada kebiasaan dalam menggunakan bahasa Madura. Seperti apa pun sulitnya, bahasa Madura, sebagai bagian dari kekayaan budaya harus dilestarikan secara bersama-sama.


Tidak hanya pemerintah, bupati berharap ada kerja sama dan kesadaran dari masyarakat agar bahasa Madura kukuh di tempatnya sendiri. ”Hal ini penting agar nilai-nilai budaya kita tetap dipertahankan, dan anak-anak kita tidak asing dengan bahasanya sendiri,” katanya.


Sebagai orang nomor satu di Sumenep, Fauzi berjanji akan mengusahakan supaya pada hari-hari tertentu bahasa Madura menjadi bahasa wajib. Khususnya tingkat SD dan SMP. ”Akan kita coba ke depannya,” katanya.

Editor : Abdul Basri
#sumenep