SEJAK pertama bertemu, sebenarnya bisa ditebak seperti apa sosok Izzah Muthmainnah. Apalagi, tutur kata perempuan berhijab itu lembut dan lirih. Pembawaannya juga tenang dan sopan. Sikapnya kepada semua orang juga ramah. Dia pun murah senyum.
Saat ini Izzah Muthmainnah sedang menempuh studi di Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Dia dikenal sebagai sosok pendiam tapi pintar. Dibanding teman-teman sebayanya, dia suka berdiskusi dan aktif melontarkan argumen.
Perempuan yang akrab dipanggil Izzah tersebut merupakan tipikal yang penasaran dengan hal-hal baru. Bagi dia, hidup stagnan itu membosankan. Karena itu, dia memilih melakukan loncatan-loncatan untuk menambah dan memperluas pengalaman.
Baru-baru ini, Izzah dinobatkan sebagai Putri Batik Intelegensi dalam ajang pemilihan Putra dan Putri Batik Kabupaten Sampang. Saat ditanya alasan mengikuti perlombaan bergengsi tersebut, Izzah menyatakan karena penasaran.
Alasan lain yang dilontarkan warga Desa Tamberu, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang itu adalah ingin belajar dan mengenal lebih jauh tentang batik Sampang. Tidak hanya tahu tentang pembuatannya, tapi juga ingin belajar dan terlibat dalam kegiatan pelestarian batik.
”Selain karena penasaran, alasan saya mengikuti lomba putra dan putri batik karena didukung kedua orang tua. Apa yang saya capai sekarang tidak instans seperti yang orang-orang pikirkan,” tuturnya.
Izzah mengungkapkan, selama satu bulan harus pulang pergi (PP) dari Bangkalan ke Sampang. ”Kadang PP dari Sokobanah ke Kota Sampang,” sambung Izzah yang merupakan alumnus Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Bangkalan tersebut.
Bagi Izzah, banyak pengalaman menarik yang diperoleh selama satu bulan lebih mengikuti lomba. Misalnya seperti belajar catwalk. Baginya, hal itu merupakan sesuatu yang baru. ”Sebagai pemula, memakai high heels dengan ketinggian 12 cm sampai berjam-jam itu sebuah tantangan dan cukup menguras tenaga,” ucapnya.
Sebelum melaju ke grand final, Izzah dikarantina selama tiga hari. Waktu yang cukup singkat itu dia gunakan untuk belajar banyak tentang batik. ”Mulai dari cara membatik, hingga belajar jenis batik dan kualitas bahan yang akan dibuat batik,” paparnya.
Perempuan yang kini berdomisili di Desa Bulung Timur, Kecamatan Klampis, Kabupaten Bangkalan, tersebut menegaskan, kesempatan tidak datang dua kali dan hanya datang kepada orang yang beruntung.
”Jika kesempatan itu datang kepadamu, ambil dan manfaatkan sebaik mungkin. Sebab, kamu termasuk orang yang beruntung. Jika sudah mendapatkan kesempatan, maka nikmati prosesnya. Karena hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha. Demikian sebaliknya,” tandasnya. (c2)
Editor : Abdul Basri