Kiai Musleh sedang berjuang membangun pondok pesantren. Pondok tersebut dibangun dengan dasar dendam masa lalu. Seperti apa dendamnya?
MENUJU kediaman KH Musleh Adnan tidak sulit. Perjalanan dari pusat kota ke rumahnya di Kampung Karang Anyar, Dusun Pangaporan, Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, tak sampai 20 menit. Jalan yang dilewati pun relatif mudah dan nyaman. Hanya ketika sampai di pertigaan yang terpampang papan nama Pondok Pesantren Nahdlatut Ta’miliyah, jalur menuju pondok tersebut sedikit curam. Tapi, panjangnya tak lebih 50 meter.
Nah, dari pertigaan tersebut kita berbelok ke kanan. Dari belokan itulah ada tanjakan sedikit curam. Namun karena kondisi jalan cukup baik, tanjakan tersebut tak menjadi hambatan berarti.
Setelah masuk di depan kompleks pesanteren itu, kita akan melihat bangunan seperti rumah panggung tanpa dinding di bagian depan. Bangunan yang penuh dari kayu tersebut berada di sisi timur kompleks. Bangunan tersebut biasa dijadikan tempat mengaji oleh santri. Di tempat inilah pagi itu tim Acabis menunggu sang dai kondang menyelesaikan pengajiannya bersama jamaah di dalam masjid.
Usai pengajian, Kiai Musleh mempersilakan kami masuk ke dalam ruangan di samping masjid. Dari penataan ruangnya, bisa kami simpulkan tempat tersebut adalah studio yang biasa digunakan untuk membuat konten ceramah di kanal YouTube-nya.
Dia kemudian menceritakan pembangunan Ponpes Nahdlatut Ta’miliyah. Pondok tersebut belum satu tahun dirintis. Saat ini jumlah santrinya baru 100 orang. Seluruh santri dikonsentrasikan menghafal Al-Qur’an. ”Tapi ada kurikulum lain,” ujarnya.
Hafalan Al-Qur’an menjadi program utama didorong oleh anaknya yang juga seorang hafiz. Anaknya menyelesaikan hafalan Al-Qur’an di Ponpes Darussalam Mojowarno, Jombang. Dialah yang dijadikan ketua yayasan. Sementara Kiai Musleh sebagai pengasuh.
Ada yang menarik dari Ponpes Nahdlatut Ta’miliyah. Seluruh santri tidak dipungut biaya. Sepeser pun. Biaya makan juga ditanggung. ”Kenapa saya gratiskan? Saya sebenarnya ingin balas dendam yang baik. Balas dendam kan ada yang baik, ada yang tidak baik,” tuturnya dengan nada serius.
Kiai kelahiran Jember, 18 Oktober 1975 ini kemudian menceritakan kisahnya saat nyantri dulu di Ponpes Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Selama sepuluh tahun nyantri di sana dengan penuh keprihatinan. Sebab, dirinya jarang dikirimi oleh orang tua. Di pondok itulah Musleh muda mengenyam pendidikan SLTP, SLTA, dan kuliah.
”Ibu saya bilang, ’saya sanggup mengirimmu, tapi apa adanya’. Jadi bukan 10 tahun tidak dikirim. Kadang 4 bulan sekali, kadang 5 bulan sekali,” tutur alumnus SDN Jatisari, Jember, itu dengan mata berkaca-kaca.
Kiriman yang jarang itu bukan untuk kebutuhan hidup, melainkan untuk biaya SPP. Sedangkan untuk makan harus mencari jalan keluar sendiri. Salah satunya menjadi juru masak di kelompok-kelompok santri. Sekali masak untuk tujuh orang. Dengan begitu, dirinya bisa makan dengan gratis.
Tentu cara itu tidak selamanya sukses. Kadang harus menahan lapar. ”Dari itu saya punya niatan kalau saya punya santri, harus saya kasih makan supaya tidak lapar seperti saya,” ungkap putra Munasik Abdullah itu menjelaskan makna balas dendam baik yang dia sampaikan sebelumnya.
Kondisi keuangan keluarga saat itu menjadi sangat buruk ketika kedua orang tuanya berpisah. Dia dan tiga kakaknya memilih tinggal bersama sang ibu. Di situlah ibunya menjadi orang tua tunggal yang harus membiayai keempat anaknya.
Ibu single parent itu menghidupi empat anak. Kiai Musleh anak bungsu. Saat itu kakak-kakaknya sudah kuliah. ”Akhirnya bagaimana nasib anak terakhirnya ini? Yang jelas kebagian sisa dari kakak-kakaknya kan,” terang dai kondang tersebut.
Dalam situasi ekonomi yang serbasulit itu, sang ibu sempat ragu jika Musleh mau nyantri di Nurul Jadid. Beliau bilang, jangan mondok terlalu jauh karena tidak punya biaya. Namun, permintaan sang ibu dia tolak. ”Yang paling tahu diri saya kan saya. Saya kalau mondok terlalu dekat tak mungkin ada hasilnya. Pasti saya pulang terus,” jawabnya kepada sang ibu.
Dari perbincangan itulah akhirnya disepakati sang ibu cukup membantu biaya SPP. Itu pun masih dicicil. Selain orang tua dan teman-temannya yang mau berbagi makanan dengan dia selama mondok, ada sosok lain yang juga berjasa pada KH. Musleh Adnan. Sosok tersebut adalah salah satu guru sekaligus kerabatnya di Ponpes Nurul Jadid. ”Namanya almarhum Ustad Abdussomad. Saya kalau mau pulang dari Paiton juga ngampong biaya ke beliau,” ungkapnya.
Atas dasar pengalaman itulah, biaya makan seluruh santri Ponpes Nahdlatut Ta’miliyah diambilkan dari uang pribadi Kiai Musleh. Dia tidak membedakan santri dari kalangan tidak mampu atau mampu. Semua dia gratiskan.
Di pondok ini ada anak bidan. Ada juga anak perawat. Kiai Musleh tidak mau tebang pilih. Kalau mereka waktunya makan ya makan. ”Apa yang saya makan, sama dengan yang mereka makan,” tegas suami Shafiyah itu.
Adapun gaji guru tidak hanya dari uang pribadi. Ada juga bantuan dari donatur yang peduli terhadap pesantren. ”Sekarang ada perhatian dari pemerintah. Dari Kasipontren (Kemenag, Red) ada sesuatulah. Ada gaji yang diberikan untuk mereka (guru, Red),” tambahnya. (*/luq)
Editor : Abdul Basri