Para pemuda tak perlu malu belajar dan menggunakan bahasa Madura. Karena bahasa Madura itu bahasa ibu. Begitulah salah satu pesan H. Abdir, penyusun buku Taman Sare dan Bhâsa Sangkolan.
KINI usia H. Abdir menginjak 77 tahun. Tapi, semangat merawat dan menyalurkan pengetahun bahasa Madura tetap berkobar. Sudah puluhan tahun dia mengabdikan diri untuk pendidikan.
Dia telah mengajarkan bahasa Madura di SMPN 2 Sumenep selama 19 tahun. Setelah pensiun, dia kembali mengajar bahasa Madura di STKIP Sumenep. Dia menjadi dosen 8 tahun sejak 2007 sampai 2015.
Sabtu (26/10), Jawa Pos Radar Madura mengunjungi rumahnya di Desa Kebunan, Kecamatan Kota Sumenep. Di siang yang cerah itu dia menceritakan pengalamannya.
Abdir merupakan lulusan Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) Surabaya bidang bahasa Madura pada 1969. Setelah lulus, lalu mengajar di beberapa lembaga di Sumenep dengan status sukarelawan (sukwan).
Semenjak menjadi tenaga pendidik, dia menyadari bahwa keberadaan guru bahasa Madura sangat minim. Karenanya, Abdir merasa terpanggil dan punya tanggung jawab untuk semakin getol belajar bahasa Madura. Juga terinspirasi untuk memberi pelajaran tambahan di luar jam sekolah.
Sekitar 34 tahun lalu, tepatnya 1985, Abdir membuka les privat bahasa Madura. Awalnya dia mendatangi rumah-rumah muridnya untuk mengajar bahasa Madura. Itu dilakukan dua kali dalam seminggu.
Dia mendatangi rumah yang ditentukan orang tua murid untuk dijadikan tempat les. Saat itu, ada 35 anak yang aktif mengikuti les privatnya. Mereka membentuk kelompok sendiri sesuai dengan yang disepakati orang tua.
Saat itu, siswa yang ikut les bahasa Madura didominasi oleh anak keturunan Tionghoa yang tinggal di sekitar Kota Sumenep. Ada sekitar 25 anak keturunan Tionghoa waktu itu.
Tidak ada patokan harga yang ditetapkan. Karena les privat itu murni berangkat dari rasa kepedulian. Wali murid membayar sesuai dengan kemampuan. Mulai dari Rp 25 ribu, Rp 50 ribu, Rp 75 ribu hingga maksimal Rp 150 ribu per bulan.
”Mereka (murid) sudah banyak yang menjadi guru, ada juga yang sudah menjadi dokter,” cerita kakek yang sudah dikaruniai tiga cucu itu.
Karena kecintaan terhadap pelajaran bahasa Madura, Abdir berinisiatif untuk menyusun buku bahasa Madura bagi kalangan pelajar SMP. Buku itu digunakan bagi SMP pada 2011. Buku pertama berjudul ”Taman Sare” yang diberlakukan pada 2011 sampai sekarang.
Setelah ada Peraturan Gubernur (Pergub) pada 2014 yang mengatur pendidikan bahasa daerah untuk jenjang SMA, dia kembali menyusun buku berjudul Bhâsa Sangkolan yang diperuntukkan kepada siswa SMA. Dirinya bekerja sama dengan penerbit buku Erlangga.
”Semua buku itu berbentuk LKS dan masih digunakan di sekolah sampai sekarang,” terangnya.
Di Kabupaten Sumenep, Abdir tergabung dalam Tim Pembina Bahasa Madura (Nabara). Saat ini dirinya sudah memiliki lembaga kursus bahasa Madura yang bernama Pottre Koneng. Lembaga itu berada dalam naungan yayasan Songsong Senom.
Menurutnya, untuk kursus di lembaganya tidak dipungut biaya pendaftaran. Peserta hanya cukup membayar Rp 100 ribu per bulan. Seorang yang ikut kursus dinyatakan lulus setelah mengikuti tes selama 4 bulan. Terakhir, ada biaya pengambilan sertifikat sebesar Rp 50 ribu.
Saat ini, kemauan generasi muda belajar bahasa Madura secara detail sangat terkikis. Masalah itu sebenarnya berasal dari lingkungan rumah tangga. Banyak orang tua yang kesehariannya berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dengan anak-anaknya. Padahal, mereka asli Madura.
Ini tidak hanya terjadi di kota, melainkan sampai di desa-desa. Jadi, pengetahuan dasar yang ditangkap oleh anak adalah bahasa Indonesia.
”Makanya saya membuka kursus bahasa Madura ini tidak ada saingan. Kalau membuka kursus bahasa Inggris pasti banyak saingan. Sesuai informasi dari murid saya, selain saya, belum ada yang membuka kursus bahasa Madura,” jelas suami dari Hj Amrati itu.
Menurut Abdir, bahasa Madura itu ada pada peringkat tiga dalam tingkatan rumpun bahasa daerah yang diakui nasional. Pertama bahasa Jawa, kedua bahasa Sunda, dan ketiga Madura.
Pulau Madura yang kecil mampu mengalahkan pulau besar lain dalam merawat bahasanya. Seperti pulau Kalimantan dan Sumatera. Hal ini tidak lepas dari peran leluhur Madura untuk merawat bahasanya.
Tentunya, sebagai warga Madura memiliki tanggung jawab untuk terus melestarikan bahasa Madura. Dirinya berharap, masyarakat lebih bisa menyadari pentingnya merawat bahasa Madura. Karena ini bahasa warisan leluhur.
”Warisan itu harus dijaga, jangankan bahasa Madura. Warisan dari orang tua yang bentuknya materi saja harus dirawat dengan baik. Apalagi, bahasa Madura itu bahasa ibu bagi kita,” jelasnya.
Para muda mudi sekarang tidak perlu merasa malu untuk belajar dan menggunakan bahasa Madura. Baik kiranya bahasa Madura kembali digunakan dalam forum-forum masyarakat. ”Seperti acara perkawinan, itu lebih anggun didengar. Tapi, sekarang mulai banyak langsung menggunakan bahasa Indonesia,” tandasnya. (c3)
Editor : Abdul Basri