Karapan sapi digelar setiap tahun. Mulai dari kompetisi tingkat kewedanaan, kabupaten, hingga perwakilan pengerap dari empat kabupaten di Madura memperebutkan Piala Presiden.
BADRI STIAWAN, Sumenep
TIM pengerap mulai bersiap sembari meluruskan kaki kedua pasang sapi. Ekor dan dua alat pukul sudah ada di genggaman joki. Ratusan pasang mata tertuju pada garis start di Lapangan Karapan Sapi, Kecamatan Bluto, Sumenep, Jumat (13/7). Tak terkecuali para pelancong luar negeri yang saat itu juga menyaksikan kebudayaan khas Pulau Garam.
Dua pasang sapi berpacu setelah pecut dibunyikan. Seperti biasa, kru pengerap berteriak agar sapi berlari kencang. Lintasan pacu praktis berdebu. Pandangan pengunjung tetap tertuju pada sapi kerap. Untuk menyaksikan siapa yang tercepat.
Namun, karapan yang satu ini bukan kompetisi resmi. Hanya sebagai sajian pertunjukan bagi turis yang saat itu berkunjung ke Kota Keris. Ya, saat ini karapan sapi bukan sebatas kompetisi. Di mata wisatawan, kebudayaan ini merupakan pertunjukan yang sayang untuk dilewatkan.
Di Sumenep, adu kecepatan sapi kerap yang resmi digelar di tingkat kewedanaan baru akan dimulai akhir bulan ini. Menurut Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Sumenep Robi Firmansah Wijaya, karapan sapi tingkat kewedanaan akan dilaksanakan mulai 28 Juli 2019.
Ada enam kewedanaan di Bumi Sumekar. Yakni, Kewedanaan Bluto, Guluk-Guluk, Kota Sumenep, Batu Putih, Ambunten, dan Sapudi. Masing-masing kewedanaan memiliki jadwal pelaksanaan berbeda. Di antara enam kecamatan yang menggelar kerapan tersebut, kewedanaan Sapudi diakui paling banyak memiliki sapi kerap.
Setiap kali kompetisi digelar, di kewedanaan ini bisa diikuti sebanyak 48 pasang sapi. Bisa dibilang lumbungnya sapi kerap ada di Sumenep. Ada juga di salah satu kewedanaan yang hanya diikuti enam pasang sapi saja. Meski demikian, kompetisi tetap digelar. Yang jelas, keenam pasang sapi bisa sama-sama meraih juara.
Mengapa demikian? Karena dalam karapan sapi biasanya ada juara golongan menang (menang atas) dan kalah (menang bawah). Sapi kerap yang kalah akan diadu kembali untuk memperebutkan juara I, II, dan III sesuai golongannya. Begitu juga dengan yang menang.
”Setiap kewedanan diambil enam pasang untuk menujuk ke tingkat kabupaten. Tiga pasang juara golongan menang dan tiga dari golongan kalah,” kata pria yang akrab disapa Robi itu.
Sedangkan di kewedanaan yang diikuti lebih dari enam pasang sapi, pengerap harus beradu untuk mendapatkan tiket juara. Baik golongan menang maupun kalah, Sapudi misalnya. Dengan total 48 pengerap, sapi-sapi tersebut harus bisa menjadi yang tercepat untuk mendapatkan enam tiket ke kompetisi tingkat kabupaten.
”Dari enam kewedanaan, 36 pasang sapi kerap yang akan ikut di tingkat kabupaten. Enam pasang yang juara akan lanjut ke Piala Presiden,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, para pengerap dari satu kewedanaan bisa mengikuti kompetisi ke kewedanaan lain. Jadi, bagi pengerap yang kurang beruntung di satu kompetisi, bisa ikut kembali di kewedanaan lain. Sesuai persetujuan dari pelaksana.
Setelah gelaran tingkat kewedanaan selesai, para juara akan kembali beradu kecepatan di lintasan pacu tingkat kabupaten. Untuk kompetisi ini, tahun ini pemerintah mengagendakan terselenggara pada 22 September.
”Nanti di tingkat kabupaten akan dipilih enam pasang sapi untuk menuju ke Piala Presiden. Mewakili Sumenep,” papar Robi.
Sementara itu, Kepala Disparbudpora Sumenep Carto mengutarakan, selain sebagai bentuk pelestarian, karapan sapi juga menjadi daya tarik bagi wisatawan. Budaya khas Madura ini banyak dinantikan para pelancong setiap tahunnya. Bahkan, wisatawan rela merogoh kocek untuk bisa menyaksikan karapan sapi.
Seperti para wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Sumenep, Jumat (13/7). Sebanyak 90 wisatawan asing memesan pertunjukan karapan sapi. Itu karena kunjungan yang dilakukan tidak bertepatan pada kompetisi karapan sapi resmi. Dengan begitu, untuk bisa menyaksikan kebudayaan ini, wisatawan membayar lebih. Untuk biaya sewa sapi kerap.
”Karena para pengerap untuk turun ke lintasan juga ada biaya. Kenapa rela membayar lebih? Karena wisatawan, khususnya para turis ingin tahu kebudayaan ini,” tandasnya.
Editor : Abdul Basri