Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Kiprah Ikatan Santri Pondok Pesantren Assadad Tanjung Ambunten

Abdul Basri • Rabu, 29 Mei 2019 | 20:35 WIB
Kiprah Ikatan Santri Pondok Pesantren Assadad Tanjung Ambunten
Kiprah Ikatan Santri Pondok Pesantren Assadad Tanjung Ambunten


Sudah 20 tahun Ikatan Santri Ponpes Assadad Tanjung Ambunten (Istana) berdiri. Organisasi inikonsisten berjuang meningkatkan keilmuan dan memperbagus akhlak masyarakat.




ZAINAL ABIDIN, Sumenep



SUASANA sejuk begitu terasa di halaman Pondok Pesantren (Ponpes) Assadad di Desa Ambunten Timur, Kecamatan Ambunten, Sabtu (25/5). Dari kejauhan, terdengar pengajian kitab di masjid pondok.



Puluhan santri khusyuk mendengar penjelasan kitab yang diampu ustad di pesantren yang berdiri pada 1983 itu. Pondok Assadad diasuh KH. Thaifur Ali Wafa. Dia dikenal sebagai salah seorang guru Mursyid Thariqah Naqsabandiyah di Ambunten.



Sekitar pukul 14.00, Jawa Pos Radar Madura (JPRM) ditemui Ustad Mahfud, salah seorang pengurus pondok. Setelah menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan, kami diantarkan ke rumah Ustad Saiful Bari, katua umum Ikatan Santri Ponpes Assadad Tanjung Ambunten (Istana).



Saiful Bahri menyampaikan, alumni Ponpes Assadad banyak. Tersebar di sejumlah kecamatan di Kota Keris. Baik di daratan maupun kepulauan dan luar kota. Para alumni membentuk Ikatan Santri Pondok Pesantren Assadad Tanjung Ambunten.



Istana dibentuk sekitar 20 tahun lalu. Anggota Istana berjumlah seribu orang. Namun, yang aktif mengikuti kegiatan sekitar 300 orang. Pembentukan Istana bertujuan mewadahi alumni dan mempererat hubungan silaturahmi antara alumni dengan pengasuh dan keluarga pondok.



Meski sudah tidak nyantri atau belajar di pondok, alumni tetaplah santri dan memiliki ikatan dengan pesantren. Terutama ikatan emosional dengan pengasuh. Istana terbagi menjadi dua wilayah, yakni Timur dan Barat.



Anggota Istana wilayah Timur mencakup alumni di Kecamatan Rubaru, Manding, Dungkek, Batang-Batang, dan Ambunten. Sementara wilayah Barat mencakup Pasean Pegantenan, dan Pasongsongan. ”Kalau alumni di kepulauan dan di luar kota menggabung,” terangnya.



Anggota Istana merupakan santri alumni dari semua angkatan. Struktur kepengurusan terdiri atas pelindung, yaitu pengasuh, dewan penasihat, ketua harian, koordinator kecamatan (korcam), dan kordes. Selama ini, organisasi itu berpusat dan berkedudukan di lingkungan pesantren. Semua kebijakan dan program yang dijalankan tetap bernaungan kepada pengasuh.



”Kami berupaya selalu dekat dengan pengasuh. Sebab, pertemuan atau silaturahmi antara murid dan guru itu sangat penting dan harus tetap terjaga dengan baik,” kata pria kelahiran 1974 itu.



Visi misi Istana ialah mewujudkan cita-cita perjuangan para muassis dengan semangat kebersamaan para alumni dalam berkhidmat, meningkatkan implementasi ajaran agama Islam secara kafah, meningkatkan keilmuan, dan memperbagus akhlakul karimah. Apabila seseorang sudah memiliki ilmu yang bermanfaat dan akhlak yang baik, maka orang tersebut memiliki kedudukan atau derajat yang lebih tinggi daripada bintang di langit. Sesungguhnya, kesempurnaan seorang santri itu terletak pada ilmu dan akhlak yang dimiliki.



Dia menyampaikan, secara struktural belum ada program khusus yang dijalankan. Istana hanya fokus melaksanakan kegiatan rutin. Yaitu, pertemuan yang diisi dengan pembacaan tahlil, salawat, dan pengajian kitab. Kitab yang dipelajari yaitu Riyadhus Shalihin, Al Hikam, dan Sullamul Qoshidin yang merupakan kitab karangan KH. Thaifur Ali Wafa.



”Pengajian itu dilaksanakan setiap bulan. Itu terbuka untuk umum. Semua masyarakat bisa ikut, alumni menyediakan tempat dan konsumsi,” tutur pria yang menjabat ketua umum Istana sejak 2010 itu.



Pihaknya juga mengadakan pertemuan akbar yang diselenggarakan setiap bulan Syawal berbarengan dengan acara haul pondok. Semua alumni kumpul dan membahas serta mengevaluasi pengajian yang sudah berjalan.



Selain pengajian rutin, Istana aktif menyosialisasikan atau mempromosikan pondok. Salah satunya dengan menugaskan ustad ke sejumlah lembaga pendidikan di Kebupaten Sumenep.



Setiap masa penerimaan santri baru, alumni di tiap kecamatan menyosialisasikan dan mengajak masyarakat memasukkan putra dan putrinya ke pondok. Setiap sosialisasi, alumni menyampaikan program pendidikan dan peraturan pondok kepada masyarakat.



”Pondok Assadad merupakan pondok salaf, tetapi tidak mengesampingkan pendidikan formal. Namun, bagi santri yang ingin sekolah formal bisa masuk sekolah terdekat di sekitar pondok,” terang alumnus Assadad 2003 itu.



Meski belum memiliki program khusus untuk mendorong kemajuan pondok, pihaknya mengaku banyak berkoordinasi dengan alumni di sejumlah pesantren di Kota Keris yang sudah maju terkait dengan program-program yang dijalankan. Kemudian, program tersebut dijalankan di Pondok Assadad.



Program yang ingin dilaksanakan yaitu akan menulis kitab terjemahan Sullamul Qoshidin dalam bahasa Madura yang kemudian kitab terjemahan tersebut dijual di lingkungan pesantren, dan uangnya dijadikan sebagai kas pesantren. ”Rencana itu masih dibahas bersama semua anggota dan akan diajukan kepada kiai. Semoga ini mendapat restu dari Kiai,” harapnya.



Editor : Abdul Basri
#pondok pesantren