Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Ikatan Alumni dan Santri (Ikastri) Ponpes Taman Sari Palengaan Laok

Abdul Basri • Jumat, 24 Mei 2019 | 13:58 WIB
Ikatan Alumni dan Santri (Ikastri) Ponpes Taman Sari Palengaan Laok
Ikatan Alumni dan Santri (Ikastri) Ponpes Taman Sari Palengaan Laok

Manfaat organisasi alumni pesantren tidak hanya dirasakan oleh lembaga. Tapi, alumni sendiri pun demikian.


MOH. ALI MUHSIN, Pamekasan


SEJUMLAH santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Islami As Salafy Taman Sari sedang belajar ketika Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berkunjung pada Rabu (15/5). Mereka mengikuti kegiatan pondok Ramadan yang menjadi program tahunan.


Kedatangan JPRM disambut Ketua Ikastri Ustad Zubaidi dan Ustad Subairi selaku wakil bendahara. Lalu, koran ini dipersilakan masuk ke kamar santri di sisi timur. Di kamar itu, mereka menceritakan berbagai program Ikatan Alumni dan Santri (Ikastri) Ponpes Taman Sari. ”Ikastri berdiri sekitar 1998,” kata Zubaidi.


Organisasi alumni ponpes tersebut berada di bawah naungan ketua dua yang mewadahi kepesantrenan. Organisasi ini dibentuk dengan tujuan agar ada hubungan emosional antara alumni dan pesantren. ”Ikastri untuk menguatkan eksistensi pesantren dan pengabdian kepada masyarakat,” terangnya.


Ikastri merupakan kepanjangan tangan pesantren. Khususnya dalam menyampaikan dakwah. ”Baik dakwah bil hal, bil lisan, dan lain-lain,” jelasnya.


Organisasi ini juga melebarkan sayapnya dalam bidang usaha. Ikastri telah merintis koperasi yang bergerak dalam bidang usaha konfeksi. Usaha ini telah berdiri di berbagai titik.


Usaha ini memberikan dampak positif. Alumni bisa berkontribusi untuk membantu pesantren yang beralamat di Palengaan Laok, Kecamatan Palengaan, Pamekasan itu. Khususnya dalam meningkatkan kebutuhan pembangunan.


”Alhamdulillah, koperasi atau usaha ini sangat membantu untuk biaya operasional organisasi atau kebutuhan pesantren,” terangnya.


Laba dari usaha tersebut juga bisa disumbangkan untuk membayar honor guru madrasah diniyah. Dengan demikian, kesejahteraan guru bisa diperhatikan. ”Alhamdulillah, dengan adanya organisasi ini alumni bisa memberikan konntribusi,” tegas Zubaidi.


Selain itu, koperasi bermanfaat bagi alumni. Sebab, usaha tersebut juga bisa sebagai ladang pekerjaan mereka. Pengelola juga digaji secara profesional.


”Biasanya setelah lulus dari pondok, ada yang langsung berangkat ke Malaysia menjadi TKI. Alhamdulillah dengan usaha ini, mereka bisa bekerja di sini tanpa harus jadi TKI,” terangnya.


Subairi menambahkan, Ikastri juga menggelar kegiatan sosial. Seperti khitanan masal, santunan kepada duafa dan anak yatim. ”Kita juga menggelar pertemuan akbar per tiga tahun yang insyaallah akan digelar pada Syawal mendatang,” ujarnya.


Selain Ikastri, pondok pesantren tersebut juga membentuk organisasi Ikatan Santri Taman Sari (Iksatam). Kegiatan organisasi ini berjalan setiap tiga bulan sekali. Setiap desa dibentuk koordinator.


”Kegiatannya mengaji kitab kepada pengasuh yang diikuti alumni, simpatisan, dan masyarakat untuk menguatkan keislaman dan kenegaraan. Selain itu juga diisi dengan sharing tentang kelembagaan.” kata Ketua Iksatam Abdul Wafi.


Kegiatan tersebut penting karena penguatan keislaman dan akhlak memang harus terus didakwahkan. ”Dawuh KH Abdul Wasik Hamzah Rasyad selaku pengasuh, ’sepintar apa pun kita tapi tidak punya akhlak akan percuma’,” terangnya.


Pondok Pesantren Al-Islami As-Salafy Taman Sari didirikan pada 1966 oleh Kiai Ahmad Hamzah. Sebelum mendirikan pesantren, Kiai Ahmad Hamzah meminta nasihat kepada Kiai Jeddin, pengasuh Pondok Pesantren Bunangkah Pegantenan. Ketika itu, Kiai Ahmad Hamzah bersama temannya, H Alwi.


 Sebelum kedatangan Kiai Ahmad Hamzah, Kiai Jeddin menyuruh santrinya untuk menyapu halaman. Sebab, beliau memiliki firasat akan kedatangan tamu atau Kiai Gumu’, sebutan Kiai Jeddin kepada Kiai Ahmad Hamzah. Sebab, Kiai Ahmad Hamzah mempunyai karakter pemberani, berhati lembut, dan tidak mengenal lelah dalam berdakwah.


Kiai Ahmad Hamzah juga meminta nasihat kepada mertuanya sendiri, Kiai Abdur Rahman. Pada malam hari, Kia Abdur Rahman langsung bermunajat kepada Allah. Ketika tidur, beliau bermimpi melihat gentong berisi air penuh di lokasi yang akan dibangun pondok pesantren oleh Kiai Ahmad.


Setelah meminta nasihat, Kiai Ahmad Hamzah belum puas. Beliau masih bermunajat meminta petunjuk kepada Allah sehingga pada suatu malam ketika tidur, dia bermimpi melihat air mengalir dari utara. Keesokannya, beliau menafsirkan air yang mengalir dari utara itu adalah santri-santrinya dari wilayah utara pondok pesantren.

Editor : Abdul Basri
#pondok pesantren #ikatan alumni #santri