Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Gamar, Maestro Macapat dan Pelestari Bahasa Madura, Berpulang

Abdul Basri • Rabu, 16 Januari 2019 | 19:31 WIB
Gamar, Maestro Macapat dan Pelestari Bahasa Madura, Berpulang
Gamar, Maestro Macapat dan Pelestari Bahasa Madura, Berpulang


Sumenep berduka. Putra daerah, seniman, serta budayawan Gamar meninggal dunia. Tokoh pelestari bahasa Madura dan maestro macapat itu mengembuskan napas terakhirnya di usia 85 tahun.


*************



SAAT Jawa Pos Radar Madura (JPRM) tiba, rumah duka masih sepi. Hanya terlihat beberapa orang di halaman rumah anak kedua Gamar, Mardi Kusnadi, di Desa Pangarangan, Kecamatan Kota Sumenep.


Dari dalam rumah terdengar isak tangis lirih. Dari celah jendela yang sedikit terbuka, terlihat beberapa wanita dan pria mengelilingi jenazah. Mereka adalah keluarga almarhum yang sedang mengaji.


Mardi menyambut niat baik koran ini. Guru di SMPN 1 Gapura itu bersedia diwawancarai. Obrolan mengenai almarhum berlangsung singkat. Maklum, dia sedang sibuk menyiapkan prosesi pemakaman.


Baginya, Gamar adalah sosok yang tidak tergantikan. Bukan hanya sebagai ayah, kekaguman Mardi karena kecintaan Gamar pada budaya dan bahasa Madura. Bahkan, dia menganggapnya sebagai guru sepanjang hidupnya.


”Bapak itu orangnya sangat disiplin. Dia sangat mencintai bahasa seperti juga mencintai kami, keluarganya,” kata Mardi.


”Yang membuat saya sangat kagum dengan beliau adalah penguasaan budaya dan bahasa itu bukan hanya di materi, melainkan juga praktik,” imbuhnya.


Bahkan karena kecintaannya pada dunia seni, sebelum sakit, enam bulan lalu, Gamar sering keliling ke desa-desa dan kecamatan untuk menampilkan macapat. Pihak keluarga tidak pernah melarangnya.


”Kami sangat mendukung. Selama beliau sehat, kami akan sangat bahagia melihat bapak aktif,” terang Mardi diiringi tangis.


Di mata para seniman dan sastrawan, Gamar adalah sosok yang perlu diteladani. Karya dan keterlibatannya dalam melestarikan budaya dan bahasa Madura tidak perlu diragukan. Bahkan, pada akhir 2018 Gamar menerima penghargaan sebagai tokoh pelestari bahasa Madura dari Pemkab Sumenep.


Selain sering berkeliling untuk menampilkan macapat, dia pernah mengisi acara di stasiun TV lokal dan radio. Karya tulisnya juga pernah dimuat dalam Konkonan.


”Saya kenal Gamar sebagai salah satu tokoh sastra daerah yang sangat peduli dengan perkembangan sastra di Madura pada umumnya dan Sumenep khususnya,” ungkap budayawan Sumenep Syaf Anton WR.


Gamar adalah sosok yang mudah bergaul, tidak pilih-pilih teman, dan aktif. Gamar juga sosok yang selalu merendah dan sopan. ”Meskipun sudah lama di dunia seni, Gamar selalu menghormati siapa pun, termasuk orang yang lebih muda dari dia. Orangnya supel dan kadang ceplas-ceplos. Jadi, banyak yang suka,” katanya.


Hal itu juga dikuatkan dengan kesaksian seniman Sumenep Ibnu Hajar. Dia menganggap Gamar sebagai guru. ”Sejak dulu, beliau sudah jadi pemerhati bahasa Madura. Juga beliau sangat mahir dalam bahasa Madura. Baik dalam tingkatan bahasa Madura (odhagga basa) dan tata bahasanya (paramasastra),” ucapnya.


Selain itu, Gamar dikenal memiliki vokal yang bagus, juga memiliki tembang-tembang berbahasa Madura yang indah. Ibnu Hajar mengaku masih ingat pesan Gamar. ”Beliau pernah bilang ke saya dalam sebuah pertemuan, Le', ta' langkong perteyagi basa Madura neka, Le', polana basa Madura neka basa ebu,” katanya dalam bahasa Madura.


Gamar dinyatakan meninggal dunia di ruang ICU RSUD dr. H. Moh. Anwar Senin malam (14/1) pukul 23.00. Dia dimakamkan di pemakaman umum Desa Pangarangan kemarin pukul 15.30. 


Editor : Abdul Basri