Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Uniknya Pembuatan Perahu Kayu di Pesisir Pantai Utara

Abdul Basri • Kamis, 22 Februari 2018 | 10:28 WIB
Uniknya Pembuatan Perahu Kayu di Pesisir Pantai Utara
Uniknya Pembuatan Perahu Kayu di Pesisir Pantai Utara




SUMENEP – Nenek moyangku seorang pelaut. Petikan lagu anak-anak itu kiranya cocok disematkan kepada masyarakat pesisir pantai Desa Ambunten Timur, Kecamatan Ambunten, Sumenep. Selain berprofesi sebagai nelayan, masyarakat di sana pandai membuat perahu.



 



Angin berembus kencang melambaikan-lambaikan daun pohon kelapa di pesisir pantai Desa Ambunten Timur, Selasa siang (20/2). Beberapa warga sedang mandi di tepi pantai. Ada pula yang sedang memancing ikan di muara sungai.



Di tepi pantai, beberapa nelayan sedang asyik berbincang. Ada pula yang khusyuk menyerut kayu jati. Kayu-kayu dengan kualitas prima hendak dibuat perahu yang dipesan oleh nelayan dari daerah lain.



Di desa ini ada banyak warga yang bisa membuat perahu. Seperti Abdus Salam, Musfik, Ahmad Fauzi, Yut, dan lainnya. Mereka kerap mendapat order pembuatan perahu dari nelayan. Baik nelayan yang berasal dari Sumenep atau dari kabupaten lain di Madura.



Jawa Pos Radar Madura disambut beberapa nelayan yang sedang membuat perahu. Buhari merupakan salah satu nelayan yang menyempatkan diri berbincang-bincang tentang pembuatan alat melaut tersebut. Menurut dia, membuat perahu perlu teknik khusus.



Di antaranya, memilih kayu yang berkualitas. Diutamakan kayu jati. Kayu tersebut diyakini dapat menghasilkan perahu yang kuat dan tahan lama.



”Kayu jati lebarnya minimal 40 cm dan tebal 4 cm,” kata Buhari dengan suara lantang. Berbicara di pinggir pantai memang membutuhkan suara yang keras. Sebab, debur ombak dan angin yang berembus begitu kencang.



Kayu-kayu pilihan itu kemudian dipola sesuai dengan yang dibutuhkan. Mula-mula perajin perahu membuatkan lenggi yang berbentuk melengkung. Proses pembuatan lenggi ini, lanjut Buhari, merupakan yang paling sulit. Sebab, kayu yang lurus dipola melengkung.



Setelah itu, perajin membuatkan lunas perahu. Lunas merupakan sambungan dari lenggi. Posisi lunas berada di bawah perahu. Potongan kayu ini juga sangat penting dan perlu dikerjakan secara hati-hati. ”Setelah itu, pembuatan papan, tajuk, dan tatapan perahu,” terang pria berambut ikal tersebut.



Membuat perahu membutuhkan waktu cukup panjang. Terkadang satu perahu bisa selesai dalam waktu satu bulan. Apalagi kalau di daerah tersebut terjadi pemadaman listrik, maka proses pembuatan perahu semakin lama. Sebab, alat untuk menyerut kayu menggunakan tenaga listrik.



Tetapi, waktu yang lama itu akan menghasilkan keuntungan besar. Setiap perahu bisa dijual dari harga Rp 75 juta hingga ratusan juta. Bergantung dengan besar perahu yang dibuat. ”Untuk ukuran perahu panjang 7 meter dan lebar 2 meter, harganya sekitar 75 juta,” terangnya.



Harga tersebut hanya cukup untuk membeli kerangka perahu. Belum dilengkapi dengan mesin dan jaring ikan. Jika lengkap, dengan ukuran perahu yang sama, harga bisa mencapai Rp 125 juta. Harga tersebut hampir setara dengan harga mobil keluarga.



Tetapi bagi nelayan, lebih baik punya perahu dibanding mobil. Sebab, perahu bisa menghasilkan uang. Sedang mobil hanya menghabiskan uang setiap tahunnya. ”Perahu kalau tidak dipakai tidak mengeluarkan biaya. Tapi kalau mobil, dipakai atau tidak dipakai, tiap tahun harus bayar pajak,” tukas Buhari.







Editor : Abdul Basri
#nelayan