PAMEKASAN – Cinta akan membuat segalanya menjadi mudah. Ini pula yang membuat Mbah Supar tekun membuat kerajinan gerabah. Sejak Orde Lama hingga era reformasi, perempuan 74 tahun itu sudah menghasilkan ribuan karya yang dikirim hingga mancanegara.
Rumah Hj Sundari itu menghadap ke utara. Di depan rumah tampak sejumlah pohon hias, sayur mayur, dan tanaman lain. Senin siang (22/1), mendung menyelimuti langit di atas rumah di Kampung Asam Pitu, Desa Pademawu Barat, Kecamatan Pademawu, itu.
Panggilan salam disambut perempuan kelahiran 1944 itu dengan ramah. Sembari menanyakan maksud dan tujuan, Sundari mempersilakan koran ini masuk. Kemudian mengajak menuju bangunan di belakang rumah. Tempat dia membuat kerajinan gerabah.
Lebih setengah abad istri Abdus Salam ini menjadi perajin gerabah. Tepatnya sejak 1961. Dia belajar mengolah tanah liat itu secara otodidak. Jumlah gerabah yang dibikin kala itu hanya terbatas.
Banyak jenis gerabah yang dia buat. Seperti, vas bunga, asbak, pot bunga, cowek, tungku, dan lain sebagainya. ”Alhamdulillah, karya saya ini sudah dikirim ke beberapa daerah di Indonesia. Termasuk juga ke luar negeri, seperti Australia dan negara-negara lain,” kata perempuan yang juga sering disapa Mbah Supar tersebut. Nama itu merupakan nama anak sareyangnya.
Mbah Supar memiliki kelebihan dibanding perajin lain. Meski tidak pernah mengenyam bangku sekolah formal atau les bahasa, dia punya kemampuan berbahasa Inggris. Bahkan koran ini sesekali diajak ngobrol menggunakan bahasa internasional tersebut. ”What, what, what?” katanya sembari tertawa. ”Ayo, kalau mau ngomong bahasa Inggris,” tambahnya.
Dengan hasil karyanya ini, Mbah Supar bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Dalam sebulan dia bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 3 juta. ”Bergantung permintaan,” katanya.
Mbah Supar merupakan perajin yang langka di Kota Gerbang Salam. Tidak banyak orang yang bersedia menjadi perajin tanah liat. Padahal, kebutuhan akan kerajinan ini cukup banyak. ”Kalau ada pesanan banyak, saya minta beberapa tetangga untuk membantu. Kadang ada belasan orang yang ikut membantu,” tambahnya.
Dia khawatir kerajinan gerabah ini akan punah. Sebab tidak ada penerus yang melanjutkan usaha ini. Putra putrinya juga enggan menjadi perajin gerabah. ”Anak saya kerja di bidang lain,” tegasnya.
Anak-anak Mbah Supar sudah sukses. Tapi dia enggan untuk menggantungkan hidup kepada mereka. Mbah Supar lebih memilih tetap menjadi perajin gerabah demi memenuhi kebutuhan rumah tangga. ”Saya tidak mau ngerepotin anak-anak. Dengan bekerja, saya juga bisa tambah sehat, karena gerak terus,” ujar ibu sembilan anak itu.
Dia berharap ada generasi muda melanjutkan pekerjaannya sebagai perajin gerabah. Sebab kerajinan ini merupakan warisan nenek moyang yang kaya makna. Ada kesan tersendiri manakala dia mampu menyelesaikan satu karya dan bisa dipasarkan ke publik.
”Alhamdulillah saya pernah dapat penghargaan dari pemerintah. Pernah juga saya dapat bantuan alat putar gerabah dan uang Rp 15 juta. Tapi itu uang zaman dulu. Kalau sekarang kira-kira setara Rp 150 juta,” pungkasnya.
Editor : Abdul Basri