BANGKALAN – Madura ternyata menyirat kenangan bagi beberapa artis. Salah satunya penyanyi yang biasa disapa Nugie. Dia banyak bicara tentang garam, tembakau, dan lingkungan di Pulau Garam.
Madura dan garam sepaket. Petani garam masih aktif memproduksi kristal putih itu. Garam Madura juga banyak dikenal masyarakat luas. Bahkan, menyisakan kerinduan untuk bisa menikmati kembali.
Seorang artis yang bersedia berbagi cerita tentang Madura adalah Nugie. Penyanyi pop dan musisi bernama lengkap Agustinus Gusti Nugroho itu sering mengonsumsi garam Madura semasa kecil. Usai menghibur penonton di Alun-Alun Kota Bangkalan, Rabu (22/11), pria kelahiran 31 Agustus 1971 itu membuka diri berbagi kisah.
Sebelum bicara garam, Nugie berharap Jembatan Suramadu menjadi akses untuk terus meningkatkan pelestarian lingkungan. Maklum, dia artis yang banyak mengeluarkan album musik bertema lingkungan. Beberapa tahun lalu dia juga memutuskan untuk menggunakan sepeda sebagai transportasi utama sehingga ramah lingkungan.
”Dengan adanya jembatan ini, otomatis lebih gampang ke Madura. Harusnya bisa dimanfaatkan secara kelestariannya. Supaya jembatan ini bukan hanya menjadi akses untuk eksploitasi Madura lebih besar lagi. Itu saja yang aku takutin,” tutur artis berkacamata ini.
Nugie juga berharap pembangunan di Madura diimbangi peningkatan konservasi lingkungan. Itu supaya tidak merusak keasrian alam. ”Alih fungsi lahan yang masih bagus lahannya jangan sampai terjadi,” pesan suami Shinta Dewi itu.
Menurut dia, lingkungan di Madura masih cukup baik, seperti kualitas air. Nugie bernostalgia jika dulu dia suka meminum air langsung dari sumur. Namun kebiasaan itu sudah tidak memungkinkan dilakukan di lingkungan yang sudah tercemar. Terlebih, banyak yang memilih untuk membeli air kemasan karena lebih praktis.
”Dulu minum air langsung dari sumur. Sekarang, berani nggak minum air langsung dari sumur? Kalau nggak, berarti ada masalah dengan lingkungan kita,” kenangnya.
Artis yang kerap mengampanyekan tentang pelestarian lingkungan itu ingin generasi saat ini merasakan kenikmatan seperti yang diberikan alam dahulu. Dengan begitu, tidak hanya menjadi sebuah cerita atau pelajaran di bangku sekolah. ”Masak cuma bisa dengar cerita, ’dulu bapak minum dari tanah ini loh’, tapi sekarang sudah pakai kemasan,” ungkap pria asal Jakarta itu.
”Rasa air tanah bagaimana, ya air. Mendengar pernyataan ini dari anak zaman sekarang, ironis. Mangga juga belinya di supermarket. Padahal dari pohon langsung lebih bagus,” imbuh Nugie.
Dulu anak sekolah berangkat dengan jalan kaki. Saat ini hampir sebagian besar menggunakan kendaraan bermotor. Kemudian, lingkungan tidak bersahabat disebabkan padatnya lalu lintas. ”Kalau sekarang mau jalan kaki, mau menghirup apa? Asap knalpot?” kata pria yang mulai menjadi pegiat lingkungan sejak 1998 itu.
Alam saat ini dianggap menakutkan. Misal cuaca panas. Padahal kondisi cuaca demikian memang sudah menjadi berkah dan nikmat. ”Kita jadi ketakutan dengan alam luar. Kalau kita mau buka mata buka hati, pakai AC, Indonesia bukan AC, tapi tropis. Saya coba ajarkan ke anak saya. Ya ini Indonesia, kalau mau dingin tinggal di Jepang sana. Orang-orang Indonesia memang tropis, jadi jangan takut sama yang namanya panas,” tuturnya.
Kecintaannya terhadap lingkungan bukan tanpa alasan. Dia ingin mewujudkan berbagi nikmat yang pernah dirasakan kepada generasi saat ini. Kendaraan yang semakin banyak diharapkan berimbang dengan jumlah pohon. Hampir di setiap daerah pohon hanya sebatas pajangan. Tidak diperhatikan. Padahal manfaatnya luar biasa.
”Kenapa saya masih tetap melakukan hal seperti ini? Karena saya ingin, apa yang dirasakan waktu kecil, minimal masih bisa bermain dengan apa yang ada di sekitar. Mudah-mudahan ada perubahan nyata di kota-kota di Indonesia,” jelasnya.
Selain lingkungan, Nugie juga mengaku memperjuangkan tembakau Indonesia yang harus tetap ada. Petani tembakau diharapkan terus aktif melestarikan tanaman organik tersebut. ”Satu rokok itu dihasilkan dari tanaman yang organik. Rokok ekretek loh ya. Tembakau terbaik dari daerah timur Indonesia. Di Madura juga ada. Tembakau Madura memang khas. Sampai saat ini dipakai untuk salah satu bahan utama rokok keretek,” paparnya.
Penyanyi solo itu kembali mengenang tentang pengalaman mengonsumsi garam Madura. Saat duduk di bangku SD dan SMP, dia lebih mengenal garam Madura dibandingkan yang sudah branded.
Saat ini, kata dia, garam Madura jarang yang tahu. Tahunya garam yodium. ”Gue dulu kecilnya makan garam Madura. Pulau Garam itu di Madura. Masak cuma jadi cerita zaman dulu. Sekarang ke mana?” tanyanya.
Dulu di pelajaran sekolah juga diterangkan mengenai garam asal Madura. Baginya, garam Madura harusnya menjadi sebuah kebanggaan. ”Garam yang masih kotak-kotak dan warnanya gak putih itu aku rasakan. Ini toh garam Madura. Masih punya kebanggaan. Sekarang udah gak kayak gitu. Dengan kemasan plastik. Dianggap gak kekinian kalau gak kayak gitu,” kenang Nugie.
Dia mengungkapkan, garam organik yang diproduksi di Madura harusnya lebih mahal dibandingkan dengan kemasan praktis. Sebab, garam Madura masih terbukti alami. Apalagi garam organik masih menjadi incaran banyak kalangan. ”Harusnya kita kaya, Indonesia ini,” ujarnya.
Untuk mencapai kenangan masa lalu menjadi realitas, saat ini perlu uluran tangan semua pihak. Mulai dari diri sendiri dengan ikut serta menjaga lingkungan sekitar. Bersama menjaga warisan. ”Kita sama-sama. Indonesia akan memimpin dunia. Itu visi saya,” pungkasnya.
Editor : Abdul Basri