PAMEKASAN – Senyum tersungging dari bibir pasien di ruang zaal D RSUD dr H Slamet Martodirdjo Pamekasan Jumat (6/10). Pasien laki-laki yang terbaring lemas di ranjang nomor dua sisi kiri ruangan itu menyapa Jawa Pos Radar Madura (JPRM).
Tidak ada sepatah kata pun yang keluarga dari mulut pria berkulit hitam itu. Pandangan redup seolah mengisyaratkan kondisinya lemas. Pasien bernama Lihen, 45, itu menderita wasir stadium akhir.
Bapak dua orang anak itu masuk rumah sakit sejak Kamis (5/10) sekitar pukul 20.00. Dia berhasil berobat karena bantuan sejumlah relawan. Selama ini, Lihen tidak dirawat di rumah sakit lantaran kekurangan biaya.
Pa’ie, 35, kerabat Lihen yang menemani di rumah sakit mengatakan, kondisi perekonomian mereka sangat susah. Setiap hari penderita wasir atau ambeien itu menggantungkan hidup dari hasil melaut. Tidak jarang Lihen ngutang kepada tetangga lantaran tidak dapat ikan saat melaut.
Sementara Hosniyah, 38, istrinya, tidak bisa bekerja. Perempuan yang menemani Lihen sejak puluhan tahun itu menderita penyakit ganas kanker kulit. Sekujur tubuhnya gosong. Bahkan, di sejumlah titik melepuh. ”Pak Lihen ini orang tidak mampu,” kata Pa’ie.
Pa’ie menuturkan, Lihen menderita wasir sejak delapan bulan lalu. Dia sempat dirawat di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). Namun, penyakit yang memaksanya menggunakan pampers itu kambuh kembali.
Pemicunya, karena Lihen bekerja berat. Dia melaut. Akibatnya, penyakit yang disebabkan melebarnya pembuluh darah di bagian dubur itu kambuh. ”Sering kambuh, ya karena kerjanya berat,” katanya.
Pasca berobat di puskesmas, tim medis meminta dia menebus obat. Kali pertama, Lihen mampu menebus obat sesuai saran dokter. Setelah penyakit itu kambuh, pria asal Dusun Morlaok, Desa Majungan, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, tidak mampu.
Untuk menebus obat, Lihen harus ngutang. Karena terlalu sering ngutang, kata Pa’ie, Lihen sungkan dan ada tetangga yang tidak memberi utangan. ”Sampai akhirnya penyakitnya semakin parah seperti ini,” katanya.
Pa’ie berharap, ada uluran tangan dari relawan dan dermawan untuk membantu pasutri miskin itu. Biaya berobat Lihen memang gratis. Dia mengantongi Kartu Indonesia Sehat (KIS). Tapi, biaya operasional setiap hari yang tidak ada.
Uluran tangan dermawan diharapkan membantu meringankan beban pasutri miskin itu. Minimal untuk biaya hidup selama pengobatan. ”Karena keduanya sama-sama sakit, tidak ada pemasukan sama sekali,” katanya.
Sementara Hosniyah berharap suaminya lekas sembuh. Dia tidak memiliki biaya jika pengobatan berlangsung lama. ”Semoga cepat sembuh, kami orang miskin, tidak punya biaya,” katanya.
Kepala Dinkes Pamekasan M. Ismail Bey mengatakan, penanganan dasar di tingkat puskesmas sudah dilakukan. Kemudian, dilanjutkan ke penanganan lanjutan di rumah sakit. Tugas dinkes hanya memastikan pasien mendapat penanganan medis dengan baik.
Terkait biaya biaya hidup, bukan lagi tanggung jawab dinkes. ”Pasien wasir itu sudah mendapat penangangan medis dengan baik,” tandasnya.
Editor : Abdul Basri