Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Vihara Avalokitesvara Jadi Simbol Toleransi Umat Beragama

Abdul Basri • Selasa, 26 September 2017 | 10:25 WIB
Photo
Photo

PAMEKASAN – Toleransi beragama tidak harus diprakarsai kelompok mayoritas. Penganut agama minoritas pun bisa menjadi pelopor gerakan multikulturalisme. Seperti Vihara Avalokitesvara yang menyediakan tempat beribadah untuk tiga agama berbeda.


Vihara Avalokitesvara (Kwan Im Kiong) terletak di Dusun Candi, Desa Polagan, Kecamatan Galis, Pamekasan. Lokasinya berdekatan dengan wisata Pantai Talang Siring. Jika dari pusat kota Pamekasan menggunakan kendaraan bermotor, butuh waktu sekitar 25 menit untuk sampai ke tempat bersejarah tersebut.


Wihara ini memiliki daya magnet tersendiri, baik di tingkat lokal ataupun nasional. Tersedianya tempat ibadah agama-agama berbeda di dalam lokasi Vihara Avalokitesvara menjadi daya tarik bagi masyarakat luar, khususnya pemerhati masalah agama untuk berkunjung. Baik berkunjung mengamati ataupun meneliti lebih dalam.


Selain menjadi tempat ibadah umat Buddha, di wihara ini tersedia musala sebagai tempat ibadah umat Islam. Ada pula bangunan Pura yang menjadi tempat ibadah umat Hindu. Spirit multikulturalisme dan toleransi inilah yang membuat Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan mengunjungi Vihara Avalokitesvara Senin  (25/9).


”Saya dulu membaca di surat kabar ada tulisan tentang Vihara Avalokitesvara. Di dalam wihara itu katanya ada musala. Saya simpan tulisan itu. Alhamdulillah, sekarang saya bisa mengunjunginya,” ujar Ketua FKUB Kota Banjarmasin Prof. Dr. H. M. Ma’ruf Abdullah.


Pria yang juga Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Banjarmasin ini mengaku takjub dengan nilai-nilai yang tersimpan dalam wihara. Terlebih, wihara ini memiliki sejarah yang cukup panjang. Berdasarkan keterangan yang diterimanya, cikal bakal wihara ini sudah ada sejak abad ke-14 atau ketika Kerajaan Majapahit masih berdiri tegak di bumi Nusantara.


”Ternyata ada kaitannya dengan Majapahit. Itu arcanya Ratu Tribuana Tunggadewi. Wajahnya mirip seperti dengan yang ditulis oleh sejarawan Anwar Sanusi,” tegasnya.


Dari dalam wihara inilah dia semakin yakin bahwa pada dasarnya agama apa pun di dunia ini mengajarkan perdamaian dan toleransi. Agama pada hakikatnya akan saling menjunjung satu sama lain.


Sebaliknya, tidak ada agama apa pun yang mengajarkan kebencian. ”Ujaran kebencian, intoleransi, penyebaran berita hoax, tidak ada itu dalam ajaran agama mana pun,” jelasnya.


Ketua Yayasan Vihara Avalokitesvara Kosala Mahinda menjelaskan, wihara yang dikelolanya memang sudah ada sejak abad ke-14. Ceritanya, pada zaman itu, di daerah Kecamatan Proppo, Pamekasan, terdapat kerajaan Buddha, yakni Kerajaan Jamburingin. Kerajaan tersebut berencana membangun sebuah candi di pusat kerajaan.


Rencana ini disambut baik oleh Kerajaan Majapahit. Raja Majapahit kemudian mengirimkan perlengkapan candi berupa arca-arca. Perlengkapan tersebut dikirimkan melalui jalur laut dan berlabuh di Pantai Talang Siring.


Arca-arca tersebut coba dibawa ke pusat Kerajaan Jamburingin dengan menggunakan kereta kuda. Tetapi rupanya, kereta itu tak sanggup membawa beban arca yang demikian berat. Akhirnya, pembangunan candi di Kerajaan Jamburingin gagal. ”Atas peristiwa ini, lokasi yang akan dijadikan tempat candi itu diberi nama Candi Burung atau candi yang gagal dibangun,” tuturnya.


Terkait arca yang mirip dengan Tribuana Tunggadewi, menurutnya memang multitafsir. Para arkeolog menyebut arca tersebut merupakan gambaran dari raja ketiga Kerajaan Majapahit tersebut. ”Tapi waktu itu, orang Hindu menyebut arca ini Dewi Kwan Im. Sampai sekarang dinamai arca Dewi Kwan Im,” tegas Kosala.

Editor : Abdul Basri