Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Latihan Sambil Bermain, Paling Sulit Padukan Instrumen

Abdul Basri • Jumat, 4 Agustus 2017 | 21:33 WIB
Photo
Photo

PAMEKASAN – Menabuh rebana lazimnya dilakukan orang dewasa dan disaksikan anak-anak. Karenanya, menjadi beda ketika justru bocah SD yang menggubah instrumen hadrah dan disambut histeris pendukungnya yang mayoritas orang dewasa. Itulah yang tersaji dalam lomba hadrah cilik di Kota Gerbang Salam.


Azna Mutimmatis Saadah, Rahmah Asy-Syifa, dan Muammar asyik menari sembari menyanyikan salawat nabi. Tiga bocah yang masing-masing duduk di kelas I, II, dan VI salah satu sekolah dasar (SD) di Kota Pamekasan itu terlihat antusias. Suara ketiganya padu bersama dendang suara rebana.


Di belakang mereka, tujuh orang menabuh rebana dengan semangat tinggi. Sembari mengenakan baju kuning, sepuluh bocah-bocah imut itu menunjukkan kemahirannya bermain alat musik rebana. Tak pelak, penampilan mereka memukau para penonton yang hadir memberi dukungan.


Ya, mereka sedang tampil di hadapan pendukung. Kamis (3/8) bocah-bocah itu tampil dalam lomba hadrah cilik se-Pamekasan yang diselenggarakan dinas pendidikan (disdik) di Aula SMKN 3 Pamekasan. Mereka bersaing dengan 12 peserta lainnya dari kecamatan berbeda.


”Ini merupakan lomba hadrah kedua yang kami ikuti dalam waktu dekat ini. Sebelumnya kami ikut lomba hadrah HUT Jawa Pos Radar Madura pada Minggu (30/7) di Arek Lancor. Alhamdulillah meraih juara dua,” ujar Sufiyatur Rizkiyah, pembina grup hadrah cilik.


Perempuan yang juga aktif di Muslimat NU Pamekasan itu menceritakan, melatih hadrah cilik gampang-gampang susah. Gampang karena dia sudah terbiasa dengan rebana sehingga mudah menularkan skill-nya kepada anak-anak. Apalagi dia aktif di seni musik islami ini sejak usia remaja.


Tetapi menjadi susah karena yang dihadapi masih bocah-bocah. Anggota dari grup tersebut ada yang usia tujuh tahun atau duduk di kelas 1 SD. Jika dipaksa, anak-anak akan jenuh dan hasilnya berantakan.


”Karenanya, saat latihan harus banyak waktu untuk istirahat. Mereka dibiarkan untuk bermain, lalu latihan lagi,” tegasnya.


Mengembangkan bakat anak tidak boleh grusa-grusu. Salah seorang sastrawan Jerman, Johann Wolfgang von Goethe mengungkapkan bahwa untuk mengembangkan bakat butuh ketenangan. Prinsip ini dipegang teguh saat Sufiyah, sapaannya, melatih hadrah cilik.


”Yang paling sulit penyesuaian nada antara vocal dengan backing vocal,” katanya. ”Termasuk meramu instrumen hadrah yang indah dan enak didengar juga sangat sulit,” tambahnya.


Pada lomba kemarin, delegasi UPT Cabang Dinas Pendidikan Kota Pamekasan ini tampil sebagai juara dua. Namun, menurut Sufiyah, bukan itu yang menjadi tujuan utama ikut lomba, melainkan mengembangkan bakat siswa-siswi yang masih belia.


”Ketika bakat mereka dikembangkan, mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang berkarakter. Juara atau tidak juara, itu urusan terakhir,” tukasnya.


Kabid Pendidikan Sekolah Dasar Disdik Pamekasan Prama Jaya mengungkapkan, lomba hadrah diikuti 13 grup. Mereka merupakan delegasi dari masing-masing UPT Cabang Dinas Pendidikan.


Tahun ini merupakan kali pertama digelarnya lomba hadrah cilik di disdik. ”Sesuai dengan jargon Kota Gerbang Salam, pendidikan harus mengembangkan bakat-bakat anak di bidang seni islami. Kami harap ini bisa berlangsung istiqamah,” ucapnya.

Editor : Abdul Basri