PAMEKASAN, RadarMadura.id – Menjalani tugas di bulan suci Ramadan hingga Hari Raya Idul Fitri menjadi pengalaman paling membekas bagi anggota kepolisian.
Di saat banyak orang berkumpul bersama keluarga, mereka justru harus berjaga, menahan rindu demi pengabdian.
Bagi sebagian orang, Ramadan dan Lebaran adalah momen berkumpul bersama keluarga. Namun, tidak bagi Brigpol Nurina Ika Perwirawati.
Baca Juga: Mercon Masih Menjadi Kebiasaan saat Lebaran meski Berbahaya, Hiburan Berujung Petaka
Anggota Satlantas Polres Pamekasan itu justru menjalani hari-hari penuh kesibukan demi memastikan keamanan dan kelancaran aktivitas masyarakat.
Bagi perempuan berhijab tersebut, menjadi polisi bukan perkara ringan. Tanggung jawab besar menuntut pengorbanan, terlebih saat Ramadan hingga Lebaran.
”Selama Ramadan, intensitas tugas meningkat dibanding hari biasa. Mulai pengaturan pagi, sore, hingga pengamanan salat Tarawih,” ungkapnya.
Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, Ika bersama rekan-rekannya harus mempersiapkan diri secara maksimal.
Baik fisik maupun mental. Mereka dituntut selalu sigap dalam melayani masyarakat, khususnya dalam mengamankan arus mudik dan arus balik Lebaran 2026.
Baca Juga: Jaksa Sumenep Nur Fajjriyah, Demen Berbaur dengan Warga dan Aktif Hadiri Kegiatan Sosial
Di tengah padatnya tugas, Ika tetap berupaya menyeimbangkan peran sebagai polwan dan anggota keluarga.
Manajemen waktu yang disiplin, komunikasi yang baik, serta dukungan keluarga menjadi kunci utama.
”Alhamdulillah, keluarga memahami tugas saya sebagai polwan dan selalu memberikan dukungan penuh,” tuturnya.
Menurutnya, prioritas utama dalam pengamanan Lebaran adalah menjaga situasi kamtibmas tetap kondusif.
Selain itu, kelancaran arus lalu lintas juga menjadi fokus demi keselamatan masyarakat.
Sebagai anggota Polri, Ika berkomitmen memberikan pelayanan terbaik. Dia menjalankan tugas sesuai arahan pimpinan demi menjaga kepercayaan masyarakat.
Meski begitu, tantangan terbesar tetap ada. Terutama saat harus merelakan momen Lebaran tanpa berkumpul bersama keluarga.
Rasa rindu menjadi bagian yang tak terpisahkan. Namun, hal itu tidak menyurutkan langkahnya dalam bertugas.
”Pengalaman paling berkesan saat Idul Fitri adalah bagaimana kami harus memadukan dedikasi profesional dengan rasa rindu keluarga,” ujarnya.
Bagi Ika, menjadi polwan bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa.
Di tengah keterbatasan waktu bersama keluarga, dia terus mengabdikan diri dengan tulus demi menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat, khususnya di momen sakral Hari Raya Idul Fitri. (lil/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti